Kepemimpinan Perempuan Telkom Masih Tertinggal, Target 32 Persen Baru Dibidik 2030

Upaya PT Telkom Indonesia Persero Tbk memperluas keterwakilan perempuan tidak berhenti pada urusan rekrutmen. Perusahaan kini menempatkan isu ini sebagai bagian dari agenda keberagaman, kesetaraan, dan inklusi atau DEI yang harus menyentuh jalur pengembangan karier, fungsi bisnis, hingga kepemimpinan.

Melalui inisiatif GoZero% Sustainability Action pada pilar Empower Our People, TelkomGroup menargetkan proporsi pekerja perempuan mencapai 32 persen pada 2030. Namun, data yang tersedia menunjukkan bahwa ruang pertumbuhan masih besar, terutama ketika bicara tentang posisi strategis dan level pengambilan keputusan.

Komposisi karyawan perempuan di TelkomGroup pada 2025 tercatat 31,7 persen dari total pekerja. Angka itu memang sudah dekat dengan sasaran 32 persen, tetapi representasi di jenjang yang lebih tinggi belum bergerak secepat yang diharapkan.

Di level pimpinan, perempuan baru mengisi sekitar 21 persen posisi kepemimpinan. Telkom kemudian memasang target baru agar porsinya naik menjadi 27 persen pada 2030, sejalan dengan kebutuhan memperkuat representasi perempuan di kursi-kursi strategis.

Pola yang sama terlihat ketika data dipecah ke beberapa lapisan manajemen. Pada manajemen senior, porsi perempuan hanya 14,0 persen, sedangkan di manajemen madya mencapai 23,2 persen.

Angka yang relatif lebih tinggi justru muncul di level pengawas, yakni 33,4 persen. Kondisi ini memperlihatkan bahwa perempuan lebih banyak hadir di lapisan pengawasan, namun partisipasinya melemah saat naik ke posisi yang memiliki kewenangan lebih besar.

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menegaskan bahwa kesetaraan menjadi fondasi penting bagi organisasi yang ingin tetap adaptif dan inovatif. Ia menyoroti pentingnya memberi perempuan kesempatan yang setara untuk berkembang, mengaktualisasikan diri, dan mengambil peran strategis dalam kepemimpinan.

Penekanan itu mengarah pada satu hal yang lebih luas dari sekadar angka karyawan. Bagi Telkom, keberhasilan DEI tidak cukup diukur dari seberapa besar perekrutan perempuan, tetapi juga dari seberapa terbuka jalur promosi dan akses menuju peran keputusan.

Tantangan lain juga tampak di bidang yang langsung terkait dengan pertumbuhan bisnis. Data Telkom menunjukkan partisipasi perempuan di bidang Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematika atau STEM baru mencapai 8,1 persen.

Sementara itu, di fungsi penghasil pendapatan, porsi perempuan tercatat 8,3 persen. Dua indikator ini memperlihatkan bahwa kesenjangan tidak hanya terjadi di ruang manajerial, tetapi juga pada area teknis dan komersial yang memengaruhi daya saing perusahaan.

Dian juga menyoroti pentingnya akses informasi dan konektivitas bagi pemberdayaan perempuan di era digital. Menurutnya, peluang untuk belajar dan terhubung dengan sumber pengetahuan dapat membantu perempuan berkembang lebih cepat.

“Di era digital, konektivitas menjadi jembatan penting agar perempuan semakin berdaya,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa akses yang luas terhadap informasi, pengetahuan, dan peluang akan membuka jalan bagi perempuan untuk memberi kontribusi yang lebih besar.

Sebagai perusahaan digital, Telkom menempatkan konektivitas sebagai inti bisnisnya. Karena itu, penguatan peran perempuan dipandang sejalan dengan transformasi organisasi yang lebih besar, bukan sekadar program ketenagakerjaan semata.

Di sisi lain, TelkomGroup juga menyiapkan dukungan yang lebih konkret di lingkungan kerja. Fasilitas seperti Telkom Daycare dan ruang laktasi disediakan untuk membantu karyawan perempuan menjaga keseimbangan antara peran profesional dan kebutuhan personal.

Kehadiran fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya membangun tempat kerja yang lebih ramah keluarga. Dalam konteks target 32 persen perempuan pada 2030, langkah ini menunjukkan bahwa Telkom tidak hanya mengejar jumlah, tetapi juga mencoba memperkuat ekosistem yang memungkinkan perempuan tumbuh hingga ke posisi kepemimpinan dan fungsi bisnis utama.

Baca Juga

Back to top button