Kepastian Subsidi Motor Listrik Masih Digodok, Industri Khawatir Pembeli Menahan Transaksi

Kepastian soal subsidi motor listrik kembali menjadi sorotan setelah pemerintah menyiapkan bantuan pembelian sebesar Rp5 juta per unit. Namun, pasar belum bisa langsung bergerak karena skema penyalurannya masih dalam tahap pembahasan dan belum difinalisasi.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut angka subsidi itu masih bisa berubah. Ia menegaskan pembahasan internal pemerintah masih berjalan sebelum laporan kebijakan disampaikan kepada Presiden.

Di tahap ini, pemerintah belum menetapkan seluruh rincian program. Selain besaran bantuan, jumlah unit motor listrik yang akan masuk dalam skema tersebut juga belum diputuskan, sehingga kajian teknis masih terus dilakukan lintas kementerian.

Situasi inilah yang membuat pelaku industri menunggu dengan hati-hati. Bagi pasar, besaran subsidi memang penting, tetapi kepastian mengenai waktu berlaku, mekanisme penyaluran, dan sasaran penerima justru menjadi penentu utama apakah konsumen akan segera membeli atau memilih menahan keputusan.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Sepeda motor Listrik Indonesia (Aismoli) Hanggoro Ananta menilai regulasi yang menggantung bisa kembali menekan penjualan. Ia menyebut kondisi seperti itu tidak diharapkan oleh pelaku usaha karena dapat membuat pasar berjalan tersendat.

“Ya itu yang tidak kita harapkan (regulasi menggantung penjualan jadi tertekan),” ujar Hanggoro Ananta. Pernyataan itu menggambarkan kekhawatiran bahwa calon pembeli akan menunda transaksi sambil menunggu kejelasan dari pemerintah.

Penundaan semacam itu dikenal sebagai holding buying, yaitu keadaan ketika konsumen memilih menunggu karena berharap mendapatkan insentif yang lebih pasti. Dalam situasi seperti ini, pasar memang terlihat aktif, tetapi keputusan pembelian tidak segera terjadi.

Dari sisi ukuran pasar, peluang sepeda motor listrik di Indonesia masih besar. Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menunjukkan penetrasi motor listrik masih berada di bawah 1 persen.

AISI mencatat dari total 6,4 juta unit motor yang terjual secara nasional, kontribusi motor listrik baru sekitar 50 ribu unit. Angka tersebut menunjukkan ruang pertumbuhan masih terbuka lebar, meski realisasinya sangat bergantung pada arah kebijakan pemerintah.

Pengalaman pasar sebelumnya juga menjadi alasan mengapa industri menaruh harapan besar pada subsidi. Berdasarkan catatan SRUT Kemenhub, performa terbaik pasar motor listrik terjadi pada 2024 saat program subsidi pemerintah masih aktif.

Pada periode itu, penjualan motor listrik mencapai 77 ribu unit. Capaian tersebut memperlihatkan bahwa insentif yang jelas dapat mendorong minat beli dan membantu pasar bergerak lebih stabil.

Karena itu, pembahasan subsidi baru tidak hanya dinilai dari nominalnya. Pelaku industri juga menunggu kepastian distribusi program agar pasar tidak kembali menahan diri terlalu lama dan momentum pertumbuhan kendaraan listrik roda dua tidak ikut melambat.

Dalam kondisi saat ini, pemerintah masih mematangkan banyak detail sebelum keputusan akhir diumumkan. Selama rincian itu belum keluar, pasar motor listrik tampaknya tetap berada dalam posisi menunggu sambil melihat arah kebijakan berikutnya.

Exit mobile version