Kenaikan Harga Di Resto Chef Arnold Picu Sindiran Politik, Rupiah Dan Bahan Impor Jadi Sorotan

Respons Chef Arnold Poernomo terhadap kenaikan harga menu di restorannya tidak berhenti pada urusan dapur. Penjelasannya soal dolar dan biaya impor justru membuat namanya terseret ke perdebatan politik di media sosial.

Melalui unggahan di Threads, Chef Arnold meminta maaf kepada pelanggan karena harus menyesuaikan harga daging di restorannya. Ia menegaskan keputusan itu bukan bentuk mengambil untung berlebihan, melainkan dampak langsung dari naiknya biaya bahan baku.

Masalah utama yang ia sorot adalah bahan impor. Untuk restoran kelas atas yang dikelolanya, daging masih sangat bergantung pada pasokan dari luar negeri sehingga pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat langsung terasa pada operasional.

Chef Arnold juga menjelaskan alasan restoran tidak menjadikan sapi lokal sebagai solusi utama. Menurut dia, kualitas marbling pada sapi lokal belum sesuai dengan standar operasional yang dibutuhkan, dan sapi yang dikembangbiakkan di Indonesia pada umumnya juga berasal dari bibit impor.

Dalam unggahannya, Chef Arnold menulis, “Mohon maaf saya harus menaikkan harga daging di resto saya. Ini bukan kami overpriced atau mau morotin customer. Karena dolar naik dan karena daging untuk restaurant semuanya impor.”

Sindiran soal politik langsung muncul

Penjelasan itu tidak diterima begitu saja oleh warganet. Sebagian komentar justru mengarah ke politik dan mengaitkan keluhan tersebut dengan dukungan vokal Chef Arnold kepada pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka pada Pemilu 2024.

Nada sindiran muncul dari akun-akun yang menilai keluhan itu tak lepas dari pilihan politik sebelumnya. Salah satu akun menulis, “02 voters kok NGELUH,” dan komentar serupa pun ikut bermunculan.

Ada juga pengguna yang menyinggung kedekatan Chef Arnold dengan figur politik di kabinet. “Sahabatnya sama wakil presiden, giliran rupiah anjlok karena kinerja pilihan lo, ngadunya ke warganet. Kritik dong orang-orang pilihan lo. Postingan cemen,” tulis salah satu akun.

Chef Arnold membantah memancing debat politik

Di tengah ramainya komentar, Chef Arnold menegaskan bahwa unggahannya tidak dimaksudkan sebagai sindiran politik. Ia menyebut yang disorot adalah dampak ekonomi yang dirasakan pelaku usaha ketika rupiah melemah.

“Enggak! Saya menyindir dolar dan efeknya ke semua kalangan. Persetan dibilang buzzer kampret atau apa pun. Masih satu negara, urip matek ya negaranya sama,” tegasnya.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa ia ingin menempatkan persoalan ini sebagai isu bisnis, bukan soal afiliasi politik. Namun, diskusi di linimasa sudah terlanjur melebar karena sebagian warganet menautkannya dengan sikap dukungannya sebelumnya.

Komentar publik makin meluas

Selain politik, sebagian warganet menyoroti daya beli masyarakat yang juga sedang tertekan. Kenaikan harga menu di restoran dinilai muncul di tengah kondisi ekonomi yang membuat publik lebih sensitif terhadap perubahan harga.

Sebagian lain menagih konsistensi Chef Arnold karena ia kerap membahas perhitungan food cost dan harga makanan. Ada komentar yang menyinggung perhitungan biaya menu tertentu, lalu membandingkannya dengan keputusan menaikkan harga daging di restorannya.

Hingga kini, unggahan tersebut masih dibanjiri komentar. Perdebatan itu memperlihatkan bagaimana isu impor bahan baku, pelemahan rupiah, dan pilihan politik bisa bertemu dalam satu percakapan yang memancing reaksi keras dari publik.

Source: www.suara.com
Exit mobile version