Kenaikan harga ponsel flagship tampaknya tidak lagi sebatas soal strategi merek, melainkan soal biaya produksi yang kian berat. Xiaomi bahkan memperkirakan harga flagship di China bisa menembus 10.000 yuan atau lebih dari Rp25 juta pada paruh kedua 2026.
Sorotan utama datang dari biaya memori yang terus melonjak. Presiden Xiaomi, Lu Weibing, menyampaikan hal itu dalam siaran langsung yang ramai dibahas penggemar teknologi, dan ia menilai harga komponen, terutama memori, masih sangat fluktuatif.
Tekanan yang dirasakan banyak merek
Beban kenaikan biaya ini tidak hanya dialami Xiaomi. Oppo, Vivo, dan Honor juga disebut menghadapi tantangan serupa karena kenaikan harga komponen global.
Kondisi tersebut membuat harga perangkat baru sulit dipastikan sejak awal. Xiaomi bahkan masih membahas harga untuk jajaran perangkat mendatang secara internal, termasuk seri Xiaomi 17 Max.
Harga flagship berpotensi naik jauh
Sebagai gambaran, Xiaomi 17 Ultra yang meluncur pada Desember 2025 dijual mulai 6.999 yuan atau sekitar Rp18 jutaan. Jika proyeksi kenaikan itu benar terjadi, generasi flagship berikutnya berpotensi naik lebih dari Rp7 juta dari level tersebut.
Angka 10.000 yuan pun mulai terlihat sebagai batas baru di pasar premium China. Bagi konsumen yang selama ini akrab dengan ponsel premium di kisaran Rp15 juta hingga Rp20 jutaan, pergeseran ini terasa cukup tajam.
Biaya produksi ikut menekan industri
Masalahnya tidak berhenti pada lonjakan harga komponen. Produsen ponsel juga sulit menahan kenaikan biaya produksi karena harga memori tidak bisa turun cepat dalam waktu dekat.
Pembangunan fasilitas produksi memori baru membutuhkan investasi besar dan waktu bertahun-tahun. Di saat yang sama, kebutuhan perangkat keras berperforma tinggi terus meningkat, terutama untuk mendukung perkembangan kecerdasan buatan atau AI.
Kombinasi faktor itu membuat tekanan biaya diperkirakan bertahan lebih lama. Lu Weibing bahkan memprediksi situasi tersebut bisa berlanjut hingga 2027 atau 2028.
Strategi nilai tetap dijaga
Meski menghadapi tekanan itu, Xiaomi tetap ingin menjaga keseimbangan antara harga dan nilai produk. Perusahaan ingin konsumen tetap merasakan peningkatan spesifikasi dan pengalaman premium yang sepadan jika harga perangkat naik.
Perubahan ini juga menandai pergeseran besar pada ponsel flagship asal China. Selama beberapa tahun terakhir, merek-merek China dikenal kuat di kelas flagship killer dengan harga kompetitif dan spesifikasi tinggi, tetapi definisi flagship kini mulai bergeser.
Kamera, performa, chipset generasi terbaru, layar canggih, AI, dan kapasitas memori besar membuat ongkos produksi ikut terdorong naik. Jika tren ini berlanjut, pasar smartphone premium tampaknya harus bersiap memasuki fase baru dengan harga yang semakin fantastis.
Source: www.gadgetdiva.id