Perubahan paling mudah terlihat di Kenai Fjords bukan hanya pada hilangnya es, tetapi pada cara seluruh ekosistemnya bergerak serentak. Di Alaska, taman nasional seluas 271.132 hektare ini memperlihatkan bagaimana gletser, laut, batuan, dan satwa liar saling terhubung dalam proses yang kini berlangsung di depan mata para peneliti.
Kawasan ini sering disebut seperti laboratorium alami karena perubahan tidak terjadi pada satu unsur saja. Saat es mencair, daratan bergerak, air tawar berubah aliran, dan rantai makanan laut ikut bergeser dalam waktu yang berdekatan.
Es besar yang terus menyusut
Di pusat kawasan berdiri Harding Icefield, hamparan es seluas sekitar 1.800 kilometer persegi yang terbentuk sejak 23 ribu tahun lalu pada Zaman Pleistosen. Dari massa es ini mengalir 38 gletser ke berbagai arah, dengan sebagian berakhir di laut dan sebagian lain mencapai daratan atau danau glasial.
Keberadaan lapisan es itu selama ini menjadi penopang penting bagi ekosistem pesisir karena memasok air tawar. Namun data satelit menunjukkan luas permukaannya menyusut sekitar 3 persen dalam 16 tahun, dan penyusutan pada gletser seperti Exit Glacier serta Bear Glacier terlihat semakin jelas.
Dampaknya tidak berhenti pada perubahan pemandangan. Ketika es berkurang, material batuan yang terkikis serta aliran air tawar yang menopang pesisir juga ikut berubah.
Daratan yang naik, laut yang menekan
Kenai Fjords berada di zona subduksi Aleutian-Alaska, tempat Lempeng Pasifik bergerak ke bawah Lempeng Amerika Utara. Gerakan ini memicu gempa bumi berkala sekaligus mendorong daratan naik secara perlahan.
Pengukuran GPS sejak tahun 1990-an menunjukkan garis pantai taman nasional ini terangkat rata-rata 10 milimeter per tahun. Di sisi lain, peristiwa besar seperti Gempa Alaska 1964 pernah membuat daratan pantai turun 3 hingga 8 kaki dalam waktu singkat.
Secara geologis, kawasan ini tersusun atas kompleks akresi Chugach–Prince William. Peneliti juga menemukan terrane berupa batu gamping berfosil yang mirip dengan temuan di Asia, yang menunjukkan bahwa batuan di wilayah ini pernah menempuh perjalanan sangat panjang sebelum membentuk daratan Alaska modern.
Fjord yang memberi makan kehidupan laut
Salah satu ciri paling penting Kenai Fjords ada pada ekosistem estuari fjord yang langka. Air tawar dari lelehan gletser bertemu air laut, lalu membawa material halus hasil kikisan batu ke dasar teluk yang kedalamannya mencapai 600 hingga 1.000 kaki.
Endapan itu mengandung nutrisi penting seperti kalsium, zat besi, dan magnesium. Pada musim semi, nutrisi tersebut memicu ledakan fitoplankton yang menjadi makanan zooplankton, lalu menopang ikan kecil, paus bungkuk, hingga predator puncak seperti orca.
Burung laut ikut bergantung pada siklus yang sama. Common murre membentuk koloni besar hingga 10.000 individu untuk berburu ikan di perairan sekitar fjord.
Jejak manusia yang panjang di pesisir Alaska
Di balik bentang alamnya, kawasan ini juga menyimpan sejarah panjang manusia. Suku Sugpiaq atau Alutiiq telah tinggal di pesisir luar Semenanjung Kenai dan memanfaatkan wilayah ini setidaknya selama 1.000 tahun.
Pengetahuan mereka sangat dekat dengan lingkungan setempat, termasuk soal mamalia laut, migrasi burung, dan ketersediaan hewan buruan seperti anjing laut. Dalam bahasa mereka, Sugpiaq berarti “orang sejati”, sebuah sebutan yang mencerminkan kedekatan kuat dengan alam pesisir.
Mereka juga mengembangkan qayaq untuk menjelajahi perairan dingin dengan aman. Hingga kini, praktik berburu tradisional masih berlangsung melalui kerja sama dengan pengelola taman nasional sebagai bagian dari pelestarian budaya dan sejarah.
Perubahan iklim yang sudah tampak jelas
Kenai Fjords menjadi salah satu lokasi yang paling tegas memperlihatkan dampak pemanasan global di Alaska. Kawasan ini kehilangan sekitar 12 persen luas es antara 1985 dan 2020, sementara suhu Alaska naik dua kali lebih cepat dibanding rata-rata wilayah lain di Amerika Serikat.
Pencairan es itu ikut mengubah lanskap dengan memunculkan hutan dan aliran sungai baru di area yang sebelumnya tertutup gletser. Perubahan serupa juga terasa di laut ketika gelombang panas laut di Samudra Pasifik Utara pada 2014 hingga 2016 berpusat di garis pantai Kenai Fjords.
Peristiwa itu mengganggu rantai makanan laut dan memicu kematian massal sekitar 500 ribu hingga satu juta burung laut common murre akibat kekurangan sumber makanan. Di Kenai Fjords, perubahan iklim kini bukan sekadar ancaman jauh, melainkan proses yang terus terjadi di depan mata.
Source: www.idntimes.com




