Oxford United akhirnya tidak lagi punya jalan untuk menyelamatkan diri dari degradasi ke League One. Hasil pertandingan Charlton Athletic atas Hull City pada laga Sabtu menutup rapat peluang mereka bertahan di Championship, meski Oxford sempat memberi perlawanan dengan kemenangan meyakinkan atas Sheffield Wednesday.
Situasi itu membuat nasib Oxford United resmi terkunci di zona degradasi. Klub asal Kassam Stadium tersebut kini berada di urutan ke-22 dengan 47 poin dan hanya menyisakan satu pertandingan, sehingga tambahan tiga poin di laga terakhir tetap tidak akan cukup untuk mengejar batas aman klasemen.
Charlton Athletic menjadi pihak yang memastikan kepastian itu. Kemenangan 2-1 atas Hull City mengangkat posisi Charlton ke angka 53 poin dan sekaligus membuat mereka aman dari ancaman turun kasta, sementara Oxford kehilangan peluang matematis untuk menyusul.
Kemenangan yang tidak mengubah keadaan
Oxford sebenarnya datang ke laga ini dengan modal positif setelah menang 4-1 atas Sheffield Wednesday di Kassam Stadium. Hasil tersebut sempat memberi harapan bahwa tim masih bisa menjaga asa untuk bertahan di divisi kedua.
Namun, hasil di pertandingan lain membuat kemenangan itu tidak berdampak besar terhadap situasi klasemen. Ketika Charlton juga meraih tiga poin, posisi Oxford tetap terkunci di bawah dan tidak lagi bisa menutup selisih yang ada.
Dengan hanya satu laga tersisa, Oxford tidak punya cukup ruang untuk mengejar ambang keselamatan. Kondisi itu menegaskan bahwa perjalanan mereka di Championship akan berakhir setelah dua musim berada di kasta kedua.
Masalah yang menumpuk sejak awal musim
Kegagalan bertahan tidak hanya dipengaruhi oleh hasil-hasil di lapangan pada pekan terakhir. Pundit BBC Radio Oxford, Jerome Sale, menilai ada rangkaian persoalan yang saling berkaitan dan sudah muncul sejak masa persiapan musim.
Menurut Sale, tur pramusim ke Indonesia menjadi salah satu hal yang ikut memengaruhi kesiapan tim. Oxford United lebih dulu datang ke Indonesia untuk ambil bagian dalam Piala Presiden 2025 sebelum musim dimulai, tetapi agenda tersebut kemudian dinilai tidak membantu persiapan skuad secara efektif.
Ia juga menyoroti jendela transfer musim panas yang berjalan kurang mulus. Kondisi itu, menurutnya, ikut membuat Oxford memulai musim dengan lambat dan kesulitan mengejar ketertinggalan setelahnya.
“Bukan hanya satu hal besar, tetapi banyak hal,” kata Sale.
Cedera, kehilangan ritme, dan manajemen yang terlambat
Nama Ole Romeny juga tidak lepas dari pembahasan. Penyerang Timnas Indonesia itu memperkuat Oxford United pada musim ini, tetapi dalam turnamen pramusim di Indonesia ia disebut mengalami cedera serius yang membuatnya absen cukup lama.
Kehilangan pemain depan seperti Romeny menambah beban skuad yang sedang berupaya menemukan ritme permainan. Dalam situasi tersebut, Oxford makin sulit mempertahankan konsistensi saat kompetisi berjalan tidak sesuai harapan.
Sale menambahkan bahwa pergantian manajerial mungkin datang terlalu lambat. Ia menilai keputusan yang tidak cepat itu ikut membuat United gagal menemukan kestabilan yang dibutuhkan untuk keluar dari tekanan.
“Tur pramusim yang gagal di Indonesia dan jendela transfer musim panas yang tersendat-sendat mungkin berkontribusi pada awal yang lambat yang tidak pernah bisa dipulihkan oleh United. Pergantian manajerial mungkin juga datang sangat telat,” ujarnya.
Tantangan baru di League One
Degradasi ini menjadi penutup yang pahit bagi Oxford United setelah dua musim bertahan di Championship. Hasil pertandingan terakhir memang sempat memperlihatkan kemampuan mereka untuk melawan, tetapi itu tidak cukup menutupi masalah yang sudah muncul sejak awal musim.
Kini perhatian klub beralih ke League One, dengan tugas besar menanti dalam pembenahan skuad dan pencarian performa yang lebih stabil. Oxford harus membangun ulang fondasi tim agar bisa kembali bersaing di level yang lebih tinggi dan tidak mengulangi musim yang penuh ketidakstabilan seperti kali ini.





