Kericuhan mewarnai kegagalan Persipura Jayapura meraih tiket promosi ke Super League setelah kalah 0-1 dari Adhyaksa FC di Stadion Lukas Enembe, Jayapura. Hasil itu langsung memicu reaksi keras dari sebagian suporter dan mengubah malam pertandingan playoff Championship menjadi suasana yang panas di sekitar stadion.
Gol tunggal Adilson Alves pada pengujung babak pertama menjadi pembeda dalam laga tersebut. Bagi Persipura, skor tipis itu bukan hanya berarti kekalahan, tetapi juga pupusnya harapan untuk kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Ketegangan tidak berhenti ketika pertandingan selesai. Sejumlah oknum suporter disebut masih bertahan di luar stadion sambil menunggu pemain dan wasit keluar dari arena pertandingan.
Dalam video yang beredar di media sosial, flare tampak dinyalakan di beberapa titik. Asap yang muncul membuat suasana di sekitar stadion semakin sulit dikendalikan.
Situasi kemudian ikut menyeret pemain Adhyaksa FC. Mereka sempat mendapat lemparan dari suporter sebelum tim keamanan bergerak cepat mengamankan mereka dan membawa masuk ke ruang ganti.
Di tengah suasana yang makin kacau, aksi anarkis juga merembet ke area sekitar stadion. Suporter disebut membakar dua mobil yang diduga milik penonton tuan rumah, sehingga kerusakan fisik bertambah saat emosi masih memuncak.
Aparat gabungan lalu dikerahkan untuk mengendalikan keadaan. Petugas juga membantu evakuasi pihak-pihak yang membutuhkan pertolongan agar situasi tidak makin meluas.
Insiden ini meninggalkan catatan buruk bagi Persipura setelah peluang promosi sirna di kandang sendiri. Alih-alih menjadi momen kebangkitan, laga penentuan itu justru berakhir dengan kericuhan yang menyita perhatian publik.
Peristiwa di Stadion Lukas Enembe menunjukkan betapa besar tekanan dalam pertandingan yang menentukan nasib promosi. Saat hasil tidak sesuai harapan, kekecewaan sebagian pendukung berubah menjadi tindakan yang merugikan banyak pihak.
Source: bola.bisnis.com