Kebiasaan Harian Ternyata Bisa Menekan Rupiah, 8 Langkah Ini Ikut Menjaga Stabilitasnya

Pilihan belanja harian ternyata tidak sesederhana urusan rumah tangga. Saat masyarakat lebih sering memilih barang impor, menimbun dolar, atau boros BBM, tekanan terhadap rupiah bisa ikut membesar.

Dampaknya juga tidak berhenti di pasar valuta asing. Harga barang impor, biaya transportasi, energi, hingga produk kesehatan dapat ikut terdorong naik ketika kurs rupiah melemah.

Tekanan pada rupiah sendiri muncul dari gabungan faktor global dan domestik. Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Rijadh Djatu Winardi, menyebut ketegangan geopolitik, meningkatnya permintaan dolar AS, dan tingginya impor sebagai bagian dari pemicunya.

Ketika rupiah turun, perusahaan harus membayar lebih mahal untuk barang dan bahan baku dari luar negeri. Beban itu sering diteruskan ke harga jual, sehingga konsumen ikut merasakan kenaikannya melalui inflasi impor.

Dalam kondisi seperti ini, rumah tangga tetap punya peran yang tidak kecil. Otoritas Jasa Keuangan melalui laman Sikapi Uangmu menilai perilaku konsumsi masyarakat dapat membantu mengurangi tekanan terhadap kurs jika dilakukan secara lebih bijak.

Belanja lokal dan tahan godaan impor

Langkah paling dekat yang bisa dilakukan warga adalah memilih produk dalam negeri. Saat barang lokal lebih diutamakan, uang tetap berputar di ekonomi domestik dan kebutuhan atas barang impor bisa ditekan.

OJK menilai tingginya impor barang konsumsi ikut mendorong permintaan dolar AS. Karena itu, semakin besar pembelian barang luar negeri, semakin besar pula kebutuhan valuta asing untuk transaksi perdagangan.

Langkah lain yang tak kalah penting adalah menunda pembelian barang impor yang tidak mendesak. Smartphone, kendaraan, dan gadget disebut sebagai contoh produk impor yang permintaannya tinggi di Indonesia.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Medan Area menilai tingginya permintaan barang impor menjadi salah satu penyebab pelemahan rupiah. Mengurangi konsumsi barang luar negeri berarti ikut menahan tekanan pada devisa negara.

Dolar, investasi, dan ketenangan publik

Di saat rupiah melemah, sebagian orang justru terdorong memborong dolar AS. OJK mengingatkan kebiasaan itu dapat memperparah tekanan karena permintaan dolar ikut naik di pasar.

Bagi masyarakat yang memegang dolar dalam jumlah besar, menukarkannya kembali ke rupiah dinilai dapat membantu stabilitas pasar valuta asing. Sikap itu juga mencerminkan kepercayaan pada ekonomi nasional.

Kepercayaan publik memang menjadi unsur penting dalam menjaga rupiah. Akademisi UGM, Eddy Junarsin, menilai komunikasi kebijakan yang jelas, stabilitas politik, dan keamanan sangat berpengaruh terhadap keyakinan investor.

Dalam konteks itu, masyarakat diminta tidak menyebarkan informasi yang memicu kepanikan ekonomi dan tidak berspekulasi berlebihan. Penggunaan rupiah dalam transaksi sehari-hari juga perlu terus diperkuat.

Pilihan investasi turut masuk ke dalam upaya menjaga stabilitas. OJK menyarankan instrumen dalam negeri seperti Surat Berharga Negara, Obligasi Ritel Indonesia, atau Sukuk Ritel.

Investasi di instrumen domestik membantu pemerintah memperoleh pembiayaan pembangunan tanpa terlalu bergantung pada utang luar negeri. Langkah ini sekaligus menjaga fondasi pasar keuangan nasional tetap lebih stabil.

Energi, mobilitas, dan wisata domestik

Kebiasaan sehari-hari lain yang punya kaitan langsung dengan kurs ada pada urusan transportasi. Indonesia masih mengimpor sebagian besar bahan bakar minyak, sehingga konsumsi BBM yang tinggi ikut memperbesar kebutuhan impor energi.

OJK dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Medan Area menilai penggunaan kendaraan pribadi yang berlebihan menaikkan konsumsi BBM nasional. Beralih ke bus, kereta, atau berbagi kendaraan bisa membantu menekan tekanan pada devisa.

Pilihan berlibur juga punya dampak serupa. Saat warga memilih wisata di dalam negeri, uang berputar di hotel, restoran, transportasi, dan UMKM daerah tanpa perlu mengeluarkan devisa untuk transaksi dalam mata uang asing.

OJK menilai sektor pariwisata memiliki potensi besar dalam meningkatkan devisa negara. Di saat yang sama, wisata domestik ikut mendorong ekonomi lokal bergerak lebih kuat.

Pelemahan rupiah memang membawa tekanan, tetapi kondisi itu juga membuka peluang bagi produk Indonesia. Menurut UGM, saat rupiah melemah, produk lokal bisa menjadi lebih murah di pasar internasional sehingga lebih kompetitif.

Karena itu, pelaku usaha kerajinan, makanan khas, fesyen, dan produk kreatif didorong mulai melihat pasar ekspor. OJK mencontohkan produk kerajinan tangan Indonesia yang sudah dikenal di berbagai negara.

Jika belanja lokal lebih dipilih, impor ditahan, dolar tidak diborong, instrumen domestik digunakan, kendaraan pribadi dikurangi, wisata dalam negeri didukung, ekspor didorong, dan kepanikan dihindari, tekanan pada rupiah dinilai bisa lebih terkendali.

Exit mobile version