Program Toyota Eco Youth atau TEY Jelajah Nusantara menempatkan siswa sebagai sumber gagasan untuk menjawab persoalan lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kali ini, perhatian diarahkan ke Toraja Utara, Sulawesi Selatan, dengan harapan ide yang lahir benar-benar sesuai dengan kondisi daerah setempat.
Pendekatan itu menonjol karena Toyota tidak hanya mencari inovasi dari pusat-pusat industri besar. Perusahaan justru membuka ruang dialog langsung dengan pelajar agar potensi lokal, termasuk kearifan budaya, dapat diolah menjadi solusi yang lebih nyata dan berguna bagi masyarakat sekitar.
Toraja Utara jadi ruang tumbuh gagasan hijau
Pemilihan Toraja Utara bukan tanpa alasan. Wilayah ini dinilai memiliki perpaduan budaya dan alam yang kuat, sehingga cocok menjadi tempat berkembangnya ide keberlanjutan dari generasi muda.
Di daerah seperti ini, persoalan lingkungan tidak berdiri sebagai isu umum semata. Bagi para pelajar, masalah itu hadir sebagai bagian dari kehidupan harian yang mereka lihat dan rasakan sendiri.
Kegiatan TEY Jelajah Nusantara di Toraja Utara dipusatkan di SMKN 2 Rantepao dan melibatkan sekolah-sekolah di sekitarnya. Langkah ini menunjukkan upaya Toyota menjangkau daerah yang memiliki peluang besar, meski akses untuk mengembangkan inovasi berbasis lingkungan belum selalu optimal.
Kearifan lokal diposisikan sebagai sumber solusi
Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Nandi Julyanto, menegaskan pentingnya interaksi langsung dengan siswa. Menurut dia, gagasan yang muncul dari daerah akan lebih relevan jika lahir dari pemahaman terhadap kondisi lingkungan setempat.
“Kearifan lokal di setiap daerah menyimpan potensi besar sebagai solusi atas tantangan lingkungan. Kami mendorong generasi muda mengolah potensi tersebut menjadi inovasi nyata yang berdampak,” ujar Nandi dalam keterangan resminya.
Pernyataan itu memperlihatkan arah program yang tidak berhenti pada penyampaian gagasan umum tentang lingkungan. Toyota mendorong agar potensi budaya dan pengetahuan lokal diterjemahkan menjadi inovasi yang bisa memberi manfaat langsung.
Bagi pelajar di Toraja Utara, pendekatan ini membuka kesempatan untuk memetakan masalah dari sudut pandang yang lebih dekat. Hasilnya, ide yang muncul tidak sekadar bersifat teoritis, tetapi bisa menyesuaikan kondisi geografis dan sosial wilayah mereka.
Tiga pilar yang menjaga arah program
TEY telah berjalan selama dua dekade dan disusun di atas tiga pilar utama yang saling melengkapi. Tiga pilar tersebut menjadi dasar agar dampak program tidak hanya terasa sesaat.
- Lingkungan: mendorong pelestarian alam dan inovasi hijau.
- Pendidikan: memperkuat kapasitas intelektual siswa.
- Pengembangan masyarakat: membangun nilai sosial yang berkelanjutan.
Melalui susunan itu, TEY tidak hanya mengejar lahirnya ide ramah lingkungan. Program ini juga diarahkan untuk membentuk generasi muda yang lebih peka terhadap persoalan di sekitar mereka.
Dari sekolah ke peran sebagai agen perubahan
Keterlibatan sekolah dan siswa dalam Jelajah Nusantara memperlihatkan hubungan yang lebih dekat antara industri, pendidikan, dan masyarakat. Pola seperti ini memberi ruang agar inovasi lingkungan tumbuh dari percakapan yang relevan dengan kebutuhan daerah.
Toyota berharap para pelajar yang terlibat dapat berkembang menjadi agen perubahan. Harapan itu berkaitan dengan kemampuan mereka merespons tantangan iklim global lewat langkah yang berangkat dari kebutuhan nyata wilayahnya.
Di Toraja Utara, kekuatan lokal menjadi titik tolak yang penting. Saat siswa diberi ruang untuk membaca persoalan di lingkungan mereka sendiri, peluang lahirnya solusi yang praktis dan berkelanjutan menjadi semakin besar.