Perubahan arah bisnis PT TBS Energi Utama Tbk mulai terlihat lebih konkret lewat kontribusi lini usaha hijau yang kian besar. Di saat banyak perusahaan masih berhitung dalam menghadapi transisi, TOBA justru menunjukkan bahwa penataan portofolio bisa mulai berdampak pada kinerja keuangan.
Salah satu tanda paling jelas datang dari pendapatan konsolidasi yang tumbuh 20,5% dan laba kotor konsolidasi yang naik 46,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan itu memberi gambaran bahwa strategi yang selama ini dibangun perusahaan tidak lagi berhenti pada rencana, melainkan sudah masuk ke tahap hasil.
Lini limbah menjadi penopang utama
Pengelolaan limbah kini menempati posisi paling penting dalam struktur pendapatan TOBA. Segmen ini menyumbang 60% dari total pendapatan konsolidasi dan 93% dari total EBITDA, sehingga perannya jauh melampaui bisnis lain di dalam grup.
Komposisi tersebut menunjukkan pergeseran yang cukup tegas dari ketergantungan pada energi fosil. Arah bisnis perusahaan kini lebih banyak ditopang oleh model usaha yang dinilai memiliki margin lebih tinggi dan nilai tambah jangka panjang.
Dengan dominasi seperti itu, bisnis limbah tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap. Segmen ini telah menjadi pusat pertumbuhan baru yang membentuk ulang profil pendapatan perusahaan.
Kinerja operasional ikut membaik
Perbaikan juga terlihat dari arus kas operasional yang berubah dari negatif menjadi positif. Pada 2025, arus kas operasional TOBA masih tercatat minus US$2,9 juta, sedangkan pada 2026 posisinya berbalik menjadi positif US$9,9 juta.
Perubahan ini penting karena menunjukkan kegiatan inti perusahaan mulai menghasilkan kas yang lebih sehat. Di saat yang sama, kerugian periode berjalan menyusut lebih dari 83% secara tahunan, dari US$58,9 juta menjadi US$9,5 juta.
Penyusutan rugi itu terutama dipengaruhi oleh tidak berulangnya kerugian dari divestasi entitas PLTU pada tahun lalu. Direktur TBS, Juli Oktarina, menyebut capaian tersebut sebagai penguatan atas arah transformasi perusahaan.
Ia juga menilai langkah akuisisi dan divestasi yang dilakukan pada 2025 menjadi bagian penting dari penataan ulang portofolio strategis perseroan. Proses itu memang memberi dampak sementara pada laba, tetapi dinilai perlu untuk membangun fondasi pertumbuhan yang lebih sehat.
Ekosistem kendaraan listrik makin bergerak
Di luar pengelolaan limbah, bisnis kendaraan listrik juga memperlihatkan akselerasi yang kuat. Electrum mencatat pendapatan segmen ini naik 137,82% dari US$1,3 juta menjadi US$3,2 juta, seiring ekspansi operasional yang agresif.
Pertumbuhan itu ikut didukung oleh kenaikan jumlah motor listrik yang beroperasi. Dari 5.100 unit pada Maret 2025, jumlahnya meningkat menjadi 9.082 unit pada Maret 2026.
Infrastruktur pendukungnya juga berkembang. Electrum telah menyediakan 426 unit Battery Swapping Stations, naik 37% dibandingkan 310 unit pada tahun lalu.
Perkembangan ini menandakan ekosistem kendaraan listrik TOBA mulai masuk fase yang lebih matang. Bagi perusahaan, segmen ini membuka sumber pendapatan tambahan yang tidak lagi bergantung pada lini tradisional.
Bisnis batu bara tetap dijaga efisien
Meski fokus perusahaan bergeser ke arah hijau, lini batu bara belum dilepas sepenuhnya. TOBA tetap menjaga operasi bisnis ini agar berjalan efisien di tengah fluktuasi pasar.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah menekan biaya operasional tunai sebesar 5,8% menjadi US$42,5 per ton. Efisiensi tersebut membantu menjaga daya tahan usaha dan membuat margin lebih terjaga.
Margin laba kotor pertambangan juga tercatat stabil di level 15,8% pada kuartal pertama. Di sisi lain, posisi kas perusahaan berada di US$103,3 juta, memberi ruang bagi manajemen untuk menjaga modal kerja sekaligus menyiapkan ekspansi berikutnya.
Dengan kondisi seperti itu, TOBA terlihat berada di titik transisi yang lebih jelas antara warisan bisnis lama dan lini hijau yang terus tumbuh. Fokus pada limbah, kendaraan listrik, dan energi terbarukan menjadi penentu utama arah pertumbuhan perusahaan menuju target netralitas karbon pada 2030.
Source: mediaindonesia.com