Kapten MV Hondius Beri Salut, 94 Orang Dievakuasi Usai Wabah Hantavirus di Tenerife

Evakuasi dari MV Hondius di Tenerife hampir selesai setelah seluruh proses pemindahan penumpang dan awak berjalan bertahap. Di tengah akhir operasi itu, kapten kapal ekspedisi tersebut, Jan Dobrogowski, memberi pujian kepada penumpang dan kru yang tetap bekerja sama dalam situasi yang ia sebut sangat menantang.

Operasi ini menutup rangkaian panjang yang memindahkan total 94 orang ke negara tempat tinggal mereka. Dari jumlah itu, 28 orang terakhir masih menunggu diturunkan dari kapal yang berlabuh di Tenerife, sementara 26 awak dijadwalkan melanjutkan perjalanan ke Belanda untuk menjalani proses disinfeksi.

Penumpang terakhir akan dibawa turun dengan perahu kecil sebelum dipindahkan ke pulau Spanyol itu. Setelah tiba di darat, mereka dijadwalkan terbang ke Belanda pada hari yang sama untuk menjalani karantina.

Otoritas kesehatan menyebut proses ini berlangsung 41 hari setelah MV Hondius berangkat dari Argentina bagian selatan. Tahap akhir itu juga datang sembilan hari setelah hasil positif pertama untuk infeksi saluran pernapasan tersebut muncul.

Sejak wabah dimulai, tiga orang dilaporkan meninggal. Mereka terdiri dari sepasang suami istri asal Belanda dan seorang warga negara Jerman.

Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan pada Senin bahwa ada sembilan kasus yang dilaporkan. Dari jumlah itu, tujuh kasus telah dikonfirmasi sebagai virus Andes, salah satu jenis hantavirus.

Setelah kapal bersandar di Kepulauan Canary pada Minggu, dua orang lagi dilaporkan positif hantavirus. Seorang penumpang Prancis dinyatakan positif dan kondisinya memburuk, menurut Menteri Kesehatan Prancis Stephanie Rist.

Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS juga menyebut satu dari 17 warga Amerika yang dipulangkan hasilnya positif lemah untuk virus Andes. Seorang warga AS lainnya menunjukkan gejala ringan.

Saat MV Hondius mendekati Kepulauan Canary pada akhir pekan lalu, pemerintah daerah sempat memprotes risiko penyebaran virus. Pada saat itu, menteri kesehatan Spanyol dan WHO mengatakan seluruh penumpang tidak menunjukkan gejala.

Namun, pada Senin, otoritas kembali menghadapi pertanyaan soal kasus positif terbaru dan dugaan bahwa penumpang AS sakit di kapal. Kementerian kesehatan Spanyol mempertanyakan penentuan hasil positif dari pihak AS dan menyatakan seorang epidemiolog dari European Centre for Disease Prevention and Control telah menguji penumpang itu di atas kapal karena sempat berkontak erat dengan kasus yang terkonfirmasi.

Kementerian itu menambahkan bahwa hasil tes dikirim ke dua laboratorium. Di salah satu laboratorium, hasilnya dinilai otoritas AS sebagai positif lemah, tetapi bagi pihak Spanyol hasil itu belum konklusif.

Kementerian kesehatan Spanyol juga mengatakan penumpang AS kedua hanya mengalami batuk ringan. Petugas medis di atas kapal menilai gejala itu kecil kemungkinan disebabkan hantavirus. Adapun penumpang Prancis hanya mengalami demam setelah naik ke pesawat, menurut kementerian tersebut.

Spanyol juga menyatakan tidak melakukan tes PCR massal di kapal karena tidak memiliki kapasitas teknis dan tidak ada alasan epidemiologis untuk melakukannya. Hasil tes terhadap 14 penumpang Spanyol yang kini menjalani karantina di rumah sakit militer Madrid dijadwalkan keluar pada hari yang sama.

Di tengah seluruh perkembangan itu, otoritas kesehatan terus mengimbau ketenangan karena virus tersebut dinilai memiliki risiko kecil bagi populasi umum. MV Hondius sendiri membawa 147 penumpang dan kru dari 23 negara ketika klaster penyakit pernapasan berat pertama kali dilaporkan ke WHO pada 3 Mei.

Sebanyak 34 penumpang lain telah turun di pulau-pulau Atlantik sebelum kapal menuju utara ke Tanjung Verde, tempat kabar wabah itu kemudian muncul. Virus hantavirus biasanya menyebar melalui hewan pengerat liar, meski dalam kasus langka juga dapat menular antarmanusia lewat kontak dekat.

Virus itu pertama kali terdeteksi oleh petugas kesehatan di Johannesburg pada 2 Mei saat menangani seorang pria asal Inggris yang turun dari kapal, sekitar tiga minggu setelah penumpang pertama, seorang warga Belanda, meninggal.

Exit mobile version