Lonjakan Julian Champagnie membuat San Antonio Spurs harus menimbang keputusan yang tidak sederhana pada offseason ini. Di satu sisi, mereka memegang kendali lewat opsi tim senilai $3 juta, tetapi langkah berikutnya justru membuka pintu menuju perpanjangan empat tahun senilai $87 juta.
Situasi itu muncul ketika Spurs sedang berada di fase naik. Mereka baru menutup musim reguler dengan rekor 62-20 dan finis sebagai unggulan No. 2 Wilayah Barat, lalu kembali ke postseason untuk pertama kalinya sejak musim 2018-19.
Performa Champagnie membuat nilainya naik
Champagnie datang ke Spurs lewat jalur yang tidak biasa. Ia tidak terpilih pada 2022, lalu masuk melalui waiver pada 2022-23 sebelum akhirnya naik dari kontrak two-way menjadi kontrak NBA standar pada musim panas 2023.
Perkembangannya membuat Spurs punya alasan kuat untuk mempertahankannya. Pada musim reguler, ia bermain dalam 82 pertandingan dan menjadi starter 68 kali, dengan catatan terbaik sepanjang karier: 11,1 poin, 5,8 rebound, dan 1,5 assist per gim.
Kontribusinya juga terlihat di playoff. Dalam 15 pertandingan sebagai starter, Champagnie mencatat 10,1 poin, 5,6 rebound, 1,5 assist, dan 1,3 steal per gim, sambil menembak 43,2 persen dari lapangan, 36,6 persen dari tripoin, dan 83,3 persen dari free throw.
Opsi murah kini berhadapan dengan kontrak besar
Menurut ESPN melalui Bobby Marks, Champagnie masih bisa menjadi pemain yang memenuhi syarat perpanjangan pada Juli jika opsi tim itu diaktifkan. Artinya, Spurs berada di posisi awal yang aman, tetapi keputusan tersebut tetap berujung pada pembicaraan bernilai besar.
Masalahnya, Champagnie bukan satu-satunya nama penting yang harus dipikirkan Spurs dalam offseason yang sama. Daftar prioritas mereka juga dipenuhi urusan besar lain yang menyangkut inti jangka panjang tim.
Victor Wembanyama berada dalam jalur menuju rookie extension terbesar di NBA offseason ini. Ia berpeluang menandatangani kontrak lima tahun senilai $251 juta mulai sehari setelah NBA Finals, atau 6 Juli secara resmi.
Nilai itu bahkan bisa naik lebih tinggi. Jika Wembanyama meraih salah satu penghargaan All-NBA, MVP, atau Defensive Player of the Year pada 2026-27, nilai perpanjangannya dapat melonjak menjadi $301 juta.
Persaingan di rotasi ikut mengubah perhitungan
Tekanan tidak hanya datang dari sisi kontrak, tetapi juga dari dalam susunan pemain. Munculnya Dylan Harper membuat persaingan menit bermain di Spurs semakin ketat.
Rookie guard itu tampil impresif di playoff dengan rata-rata 13,3 poin, 5,1 rebound, dan 2,5 assist per gim. Ia juga mencatat akurasi 52,1 persen dari lapangan, 31,4 persen dari tripoin, dan 82,7 persen dari free throw.
Perkembangan Harper ikut memengaruhi distribusi menit bermain dan pilihan susunan pemain. Ketika pemain muda lain mulai mendorong dari belakang, keputusan soal siapa yang layak masuk inti rotasi menjadi semakin rumit.
Nama De’Aaron Fox juga ikut masuk dalam pembahasan arah tim ke depan. Fox baru menandatangani perpanjangan empat tahun senilai $229 juta dengan Spurs pada Agustus, tetapi kondisi cederanya di playoff dan kemunculan Harper membuat posisinya tetap berada dalam sorotan.
Sam Amick dari The Athletic menilai situasi seperti ini dapat memaksa percakapan yang sulit apabila Fox harus menerima peran dari bangku cadangan. Di tengah semua tekanan itu, Spurs tetap terlihat berada di jalur jangka panjang yang kuat, meski komposisi inti di sekitar Wembanyama masih harus dirapikan dengan cermat.
Champagnie kini berdiri di tengah persimpangan yang jarang sederhana bagi tim yang sedang naik. Spurs harus menilai apakah produktivitas dan nilai pertahanannya cukup untuk membenarkan langkah mahal berikutnya, sambil tetap menyeimbangkan kebutuhan roster yang terus bertambah kompleks.
Source: heavy.com