Persaingan robot humanoid kini tidak lagi berhenti pada kemampuan berjalan atau bergerak menyerupai manusia. Di Tokyo, Honda menunjukkan arah lain dengan tangan robot yang mampu memegang benang secara sangat presisi, sebuah kemampuan yang memperlihatkan seberapa jauh tuntutan akurasi di sektor ini sudah naik.
Demonstrasi itu muncul di panggung Humanoids Summit Tokyo 2026 dan langsung menarik perhatian. Di saat yang sama, perusahaan-perusahaan China justru semakin kuat di pasar robot yang dirancang untuk diproduksi massal dan dipakai luas.
Presisi jadi panggung utama Honda
Honda menampilkan tangan robot yang bisa menjahit benang, memasang baut kecil, dan mengerjakan tugas halus yang menuntut ketelitian tinggi. Kemampuan ini menempatkan robot mereka pada level pekerjaan yang sangat dekat dengan standar kerja presisi, seperti yang dibutuhkan pembuat jam.
Pendekatan tersebut memperlihatkan karakter khas Jepang dalam robotika humanoid. Fokusnya bukan hanya membuat robot terlihat canggih, tetapi memastikan geraknya sangat akurat dan dapat diandalkan untuk pekerjaan detail.
China bergerak lewat jalur yang lebih praktis
Di sisi lain, Unitree, Booster Robotics, dan LimX Dynamics tampil dengan strategi yang berbeda. Mereka mengoptimalkan teknologi dasar dari Jepang dan Amerika untuk mengejar robot yang lebih siap diproduksi dalam jumlah besar.
Langkah itu membuat nama-nama dari China semakin menonjol di ajang yang sama. Industri humanoid pun mulai menilai bukan hanya seberapa rumit sebuah demonstrasi, tetapi juga seberapa cepat robot bisa masuk ke skala penggunaan nyata.
Pendekatan China ini lebih pragmatis. Fokusnya ada pada robot yang andal, masuk akal dari sisi biaya, dan lebih mudah diterima pasar bisnis.
Jepang punya sejarah kuat, tetapi pasar berubah
Jepang memang memiliki fondasi panjang dalam robot humanoid. Kehadiran ASIMO pada 2000 ikut membentuk citra negara itu sebagai salah satu pelopor paling dikenal dalam robot pendamping.
Namun sejarah tidak otomatis menjamin dominasi saat ini. Pasar bergerak ke arah yang menuntut kombinasi antara teknologi, produksi, dan adopsi luas, dan di titik itu produsen China mulai mengambil ruang yang besar.
Kontrasnya terlihat jelas. Jepang masih kuat di presisi dan demonstrasi teknis, sedangkan China unggul dalam kecepatan komersialisasi dan kesiapan untuk pasar.
Tekanan kebutuhan tenaga kerja membuat robot makin penting
Bagi Jepang, humanoid tidak hanya dipandang sebagai karya teknologi futuristis. Robot juga dianggap sebagai jawaban atas tekanan demografis yang semakin nyata.
Sebanyak 28,7% populasi Jepang berusia di atas 65 tahun, sementara kebijakan imigrasi tetap ketat. Dalam kondisi seperti itu, robot diposisikan sebagai pengganda tenaga kerja yang sangat dibutuhkan.
Kebutuhan tersebut mulai terlihat di sektor transportasi. Japan Airlines akan memulai uji coba humanoid di bandara domestik pada Mei dengan memakai platform GMO AI & Robotics yang mengandalkan teknologi inti dari Unitree asal China.
Robot semakin dipandang sebagai bentuk fisik kecerdasan buatan
Penyelenggara summit menggambarkan humanoid sebagai “AI in physical form” yang kelak akan “woven into the fabric of humanity.” Gambaran ini menunjukkan bahwa robot humanoid kini tidak lagi diperlakukan sebagai konsep jauh di depan, melainkan sebagai bagian dari masa depan yang sedang dibangun.
Di Jepang, pandangan itu bertemu dengan kebutuhan yang sangat praktis. Ada budaya yang sudah lama akrab dengan robot, tetapi ada pula tantangan tenaga kerja yang membuat persaingan dengan produsen China semakin terbuka.
Dalam konteks itu, tangan robot Honda yang menjahit benang menjadi lebih dari sekadar pertunjukan teknik. Di balik gerak yang presisi, tersisa pertanyaan besar tentang siapa yang akhirnya akan paling kuat menguasai pasar humanoid ketika keunggulan teknis dan kesiapan produksi berjalan di jalur yang berbeda.





