Pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping berlangsung dalam suasana yang sudah ditegangkan oleh serangkaian langkah ekonomi dan teknologi dari Beijing. Tiongkok terlihat tidak menunggu hasil dialog untuk menentukan posisinya, melainkan lebih dulu memperkuat alat tekan yang bisa dipakai dalam negosiasi.
Salah satu sinyal paling kuat datang dari penguatan kontrol atas mineral tanah jarang. Bahan ini penting bagi industri manufaktur Amerika Serikat, sehingga setiap pengetatan dari Tiongkok langsung memengaruhi kalkulasi bisnis dan kebijakan di Washington.
Beijing tidak berhenti di situ. Di saat yang sama, pemerintah juga mempersempit akses terhadap teknologi asing di sektor yang dianggap strategis, termasuk keamanan siber dan kecerdasan buatan.
Langkah-langkah tersebut membuat hubungan dagang kedua negara kembali berada di bawah bayang-bayang persaingan yang keras. Gencatan senjata perdagangan belum benar-benar menghapus ketegangan, karena masing-masing pihak tetap menyiapkan cara untuk menjaga posisi tawar.
Tanah jarang kembali jadi kartu penting
Ekspektasi bahwa Tiongkok akan melonggarkan kontrol ekspor tanah jarang sempat muncul setelah pertemuan kedua pemimpin pada Oktober lalu. Namun yang terjadi justru sebaliknya, karena Beijing bergerak memperketat aturan dan memperkuat kendali atas rantai pasok yang selama ini sangat bergantung pada kapasitas industrinya.
Laporan stratnewsglobal.com menyebut Beijing juga memperkenalkan undang-undang baru untuk menghukum perusahaan asing yang memindahkan rantai pasok dari wilayah mereka. Aturan ini menambah tekanan bagi perusahaan internasional yang ingin mengalihkan produksi ke luar Tiongkok.
Bagi kelompok bisnis, kebijakan seperti itu bisa menciptakan situasi yang tidak seimbang. Perusahaan asing yang masih beroperasi di Tiongkok berpotensi menghadapi risiko lebih besar saat mengambil keputusan terkait produksi dan pasokan.
Teknologi luar makin dibatasi
Di sisi teknologi, pemerintah Tiongkok memperlihatkan arah yang sama tegasnya. Perangkat lunak keamanan siber asal Amerika Serikat dan Israel dilarang digunakan oleh perusahaan domestik, sehingga ruang untuk teknologi luar di sektor penting menjadi semakin sempit.
Pembatasan itu juga menjalar ke bidang kecerdasan buatan. Tiongkok melarang penggunaan cip AI buatan luar negeri di pusat data yang didukung pemerintah, sebagai bagian dari dorongan untuk memperkuat kemandirian teknologi dan mengurangi ketergantungan pada pemasok asing.
Joe Mazur, analis dari Trivium China, menilai pendekatan Beijing mencerminkan strategi yang memadukan kehati-hatian dan kesiapan menghadapi konflik. Ia menggambarkannya sebagai logika bahwa jika ingin damai, maka persiapan terhadap perang harus dilakukan lebih dulu.
Gencatan senjata dagang belum meredakan tekanan
Meski ada jeda dalam perang dagang, tensi ekonomi belum benar-benar turun. Gencatan senjata perdagangan itu dijadwalkan berakhir pada November 2026, namun ancaman pembatasan ekspor tanah jarang sebelumnya sudah cukup mengguncang industri di Amerika Serikat.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa jeda perdagangan tidak otomatis mengubah rivalitas antara dua ekonomi terbesar dunia. Kedua negara tetap mempertahankan instrumen tekanan utama agar tidak kehilangan posisi menjelang fase negosiasi berikutnya.
Pada April 2026, Perdana Menteri Li Qiang menandatangani regulasi ketat yang memberi otoritas kewenangan luas untuk menyelidiki entitas asing. Aturan itu mencakup hak menolak izin masuk, mengusir individu, hingga menyita aset perusahaan yang dianggap merusak rantai pasok nasional.
Dampaknya merembet ke negosiasi bisnis besar
Ketegangan yang sama ikut menjalar ke pembicaraan bisnis bernilai besar. Negosiasi pembelian pesawat terbang Amerika Serikat oleh Tiongkok, misalnya, kini juga ikut terkait dengan akses terhadap material kritis.
Sementara itu, Amerika Serikat tetap menjaga tekanannya sendiri melalui kontrol ekspor semikonduktor canggih dan penyelidikan terhadap praktik industri Tiongkok. Pola saling tekan ini membuat hubungan ekonomi kedua negara bergerak dalam keadaan yang semakin kompleks dan penuh pembatasan.
Dari sisi Beijing, penguatan instrumen ekonomi tampak diarahkan pada tujuan jangka panjang untuk membentuk kerangka perdagangan global yang lebih sesuai dengan kepentingannya. Dalam konteks itu, pertemuan Trump dan Xi bukan hanya ajang diplomasi, tetapi juga panggung uji kekuatan atas tanah jarang, teknologi, dan rantai pasok dunia.





