Jejak Tether Kembali Mengarah ke Lutnick, Demokrat Soroti Sumber Dana Divestasi Cantor

Sorotan baru terhadap Menteri Perdagangan Howard Lutnick muncul bukan hanya karena posisinya di pemerintahan, tetapi juga karena rangkaian hubungan bisnis lamanya yang kembali dipertanyakan. Dua senator Demokrat, Elizabeth Warren dan Ron Wyden, meminta penjelasan langsung setelah laporan tentang Tether memunculkan dugaan bahwa transaksi keuangan tertentu bisa berkaitan dengan divestasi besar di Cantor Fitzgerald.

Pertanyaan utama mereka sederhana, tetapi dampaknya luas: apakah Tether, penerbit stablecoin terbesar di dunia, pernah ikut terlibat dalam pembiayaan yang berujung pada perpindahan kepemilikan saham Cantor ke trust keluarga Lutnick. Jika benang merah itu benar, maka isu yang muncul bukan sekadar urusan bisnis lama, melainkan potensi benturan kepentingan di sekitar pejabat tinggi kabinet.

Fokus pada pinjaman dan trust keluarga

Warren dan Wyden mengirim surat kepada Lutnick pada 29 April. Dalam surat tersebut, mereka menyorot laporan Bloomberg yang menyebut sebuah trust yang memberi manfaat bagi empat anak Lutnick meminjam dana dari Tether pada Oktober.

Waktu pinjaman itu bertepatan dengan proses penjualan saham Lutnick yang bernilai miliaran dolar di Cantor Fitzgerald kepada trust-trust yang juga menguntungkan anak-anaknya. Bloomberg juga melaporkan bahwa trust penerima pinjaman memegang lebih dari separuh ekuitas Cantor.

Struktur transaksi itu membuat perhatian publik bergeser dari sekadar divestasi biasa menjadi pertanyaan tentang hubungan keuangan yang lebih dalam. Sebab, pinjaman tersebut disebut didukung oleh seluruh aset dalam trust, sehingga muncul keraguan tentang siapa yang akhirnya mendapat manfaat dari pengaturan itu.

Pertanyaan yang diajukan para senator

Dalam suratnya, kedua senator Demokrat itu menilai bahwa jika informasi tersebut akurat, maka ada pertanyaan serius tentang apakah Tether membantu menyediakan modal bagi anak-anak Lutnick untuk membeli sahamnya di Cantor Fitzgerald. Mereka juga menanyakan apakah perusahaan itu kemudian memperoleh kepentingan atas aset milik anak-anak Lutnick.

Selain itu, Warren dan Wyden meminta kejelasan apakah Lutnick ikut dalam proses “procurring, soliciting, and/or negotiating” pinjaman tersebut. Mereka juga ingin tahu berapa besar pinjaman itu dan bagaimana syarat-syaratnya disusun.

Mereka tidak berhenti pada transaksi lama. Kedua senator itu juga mempertanyakan apakah Lutnick masih memiliki kontak dengan Tether atau para eksekutifnya sejak menjabat sebagai Menteri Perdagangan.

Hubungan lama yang tidak pernah benar-benar hilang

Jejak Lutnick dengan Tether sebenarnya sudah lama terbentuk melalui Cantor Fitzgerald, saat ia masih menjabat sebagai chairman dan CEO perusahaan jasa keuangan yang berbasis di New York itu. Cantor diketahui mengelola obligasi Treasury AS bernilai miliaran dolar yang menjadi penopang USDT milik Tether.

Hubungan ini menempatkan Lutnick di tengah perhatian yang sudah lama mengiringi Tether di sektor keuangan dan kripto. Posisi Cantor dalam pengelolaan aset tersebut membuat nama Lutnick kerap dikaitkan dengan perusahaan stablecoin itu jauh sebelum ia masuk pemerintahan.

Lutnick sendiri pernah membela Tether secara terbuka. Dalam wawancara televisi di World Economic Forum di Davos pada 2024, ia mengatakan, “There’s a company that I like called Tether,” lalu menambahkan bahwa “from what we’ve seen, and we did a lot of work, they have the money they say they have.”

Setelah masuk pemerintahan, sorotan tidak mereda

Pada Februari 2025, Lutnick menjadi Menteri Perdagangan dan setuju melepas kepemilikannya di Cantor Fitzgerald. Divestasi itu disebut selesai pada Oktober tahun itu, tetapi langkah tersebut tidak otomatis mengakhiri pertanyaan politik yang mengikuti namanya.

Justru setelah itu, perhatian terhadap struktur kepemilikan dan hubungan bisnisnya kembali menguat. Surat Warren dan Wyden menunjukkan bahwa pelepasan saham saja belum cukup untuk meredam kecurigaan soal potensi pengaruh dari relasi bisnis masa lalu.

Tether dan Departemen Perdagangan belum segera menanggapi permintaan komentar atas pertanyaan tersebut. Di saat yang sama, isu ini memperlihatkan bagaimana Demokrat terus memakai hubungan antara pejabat pemerintahan dan industri kripto sebagai titik tekan politik terhadap Presiden Donald Trump dan sekutu-sekutunya.

Perdebatan semacam ini juga bukan hal baru dalam sidang terkait legislasi kripto. Sejak Trump memulai masa jabatan keduanya, pertanyaan soal konflik kepentingan dan kedekatan dengan industri digital aset hampir selalu kembali muncul, dan kasus Lutnick menambah panjang daftar sorotan itu.

Exit mobile version