Jejak Manusia Tertangkap Di 7.500 Meter, Ekspedisi Inkfish Temukan Spesies Laut Dalam Baru

Bukan hanya spesies baru yang muncul dari ekspedisi laut dalam yang didukung Gabe Newell. Tim riset Inkfish juga menemukan bukti bahwa sampah manusia sudah mencapai kedalaman 7.500 meter, jauh di wilayah yang selama ini dianggap hampir tak tersentuh.

Penemuan itu memperlihatkan dua sisi yang kontras dari zona hadal. Di satu sisi, wilayah ini masih menyimpan bentuk kehidupan yang belum sepenuhnya dipahami ilmuwan; di sisi lain, jejak aktivitas manusia tetap berhasil menembus salah satu lingkungan paling ekstrem di Bumi.

Riset yang didorong melalui Inkfish memang diarahkan ke zona hadal, yakni bagian laut terdalam yang letaknya lebih dari 10 kilometer di bawah permukaan. Di tempat seperti ini, tekanan air bisa melampaui 1.000 kali tekanan di permukaan, cahaya hampir sepenuhnya hilang, dan suhu mendekati titik beku.

Untuk menjangkau area tersebut, tim memanfaatkan DSSV Pressure Drop dan kapal selam Bakunawa. Armada ini membuka akses ke sistem palung laut yang sebelumnya sangat sulit dijelajahi manusia, sehingga pengamatan bisa dilakukan dengan detail yang belum banyak dimiliki peneliti.

Hasilnya menunjukkan bahwa laut dalam jauh dari kata kosong. Ekspedisi itu mendokumentasikan 108 kelompok organisme berbeda, yang menguatkan gambaran bahwa keanekaragaman hayati di kedalaman ekstrem jauh lebih kaya daripada perkiraan lama.

Di antara temuan yang dicatat ada padang crinoid purba, spons pemakan daging, dan snailfish transparan. Tim juga menemukan ikan yang tercatat hidup pada kedalaman terdalam yang pernah diketahui, menambah daftar spesies yang menantang batas pemahaman tentang kehidupan di laut dalam.

Sebagian organisme yang ditemukan bahkan belum cocok dimasukkan ke dalam klasifikasi ilmiah yang ada. Kondisi ini membuat para peneliti melihat zona hadal sebagai ruang penting untuk mengamati bagaimana kehidupan beradaptasi terhadap tekanan luar biasa, suhu rendah, dan minim cahaya.

Ekosistem yang dibentuk geologi

Ekspedisi Inkfish tidak hanya fokus pada makhluk hidup, tetapi juga pada hubungan antara geologi dan ekosistem. Tim meneliti wilayah yang terdampak gempa Tohoku 2011 dan menemukan populasi spoon worm yang padat di celah patahan.

Temuan itu menunjukkan bahwa aktivitas seismik dapat membentuk habitat baru, bukan sekadar merusak lingkungan. Di Boso Triple Junction, wilayah aktif tempat lempeng tektonik bertemu, peneliti juga mendapati padang crinoid dengan lebih dari 1.500 sea lilies.

Dua lokasi itu memperlihatkan bahwa laut dalam terus berubah mengikuti pergeseran kerak Bumi. Bagi ilmuwan, data semacam ini penting karena membantu menjelaskan bagaimana proses geologi memengaruhi penyebaran kehidupan di kedalaman ekstrem.

Jejak manusia di kedalaman ekstrem

Di tengah temuan biologis yang menarik, ada juga bukti yang lebih mengganggu. Tim menemukan puing berbahan logam dan kayu pada kedalaman 7.500 meter, dan material itu sudah dikolonisasi mikroorganisme.

Kehadiran sampah di kedalaman seperti itu menegaskan bahwa polusi tidak berhenti di pesisir atau perairan dangkal. Bahkan wilayah yang sangat terpencil di planet ini pun ikut menerima dampak dari aktivitas manusia di permukaan.

Situasi tersebut membuat laut dalam tidak lagi bisa dianggap sebagai ruang yang sepenuhnya terpisah dari masalah lingkungan global. Apa yang dibuang di atas permukaan ternyata dapat berakhir jauh di bawah, di habitat yang rapuh dan sulit dipulihkan.

Teknologi yang membuka akses ke frontier terakhir

Selain Pressure Drop dan Bakunawa, operasi riset ini juga melibatkan Leviathan dan Dra. Kehadiran kapal-kapal tersebut menandai kemajuan pada rekayasa tahan tekanan, navigasi bawah laut, pengumpulan data, dan penginderaan jarak jauh.

Kemampuan itu penting karena zona hadal masih menyimpan banyak pertanyaan mendasar tentang biodiversitas dan batas ketahanan kehidupan. Pada saat yang sama, data yang dikumpulkan juga berguna untuk memahami ekosistem rapuh yang makin tertekan oleh aktivitas manusia serta perubahan lingkungan.

Source: www.geeky-gadgets.com

Baca Juga

Back to top button