Percepatan kendaraan listrik di Indonesia kini tidak hanya bergantung pada minat konsumen, tetapi juga pada seberapa siap jaringan pengisian dayanya menjangkau lebih banyak wilayah. Di titik inilah jumlah SPKLU menjadi sorotan, karena per Mei 2026 fasilitas tersebut sudah mencapai 4.892 unit di seluruh Indonesia.
Ketersediaan SPKLU membuat mobil listrik semakin masuk akal bagi pengguna yang selama ini masih menimbang soal kemudahan pengisian daya. Semakin luas jaringannya, semakin kecil pula hambatan praktis yang biasanya muncul saat masyarakat beralih dari kendaraan berbahan bakar fosil.
Pemerintah menempatkan pengembangan SPKLU sebagai bagian dari upaya yang lebih besar untuk menekan emisi dan menjaga lingkungan. Di saat yang sama, infrastruktur ini juga dipandang sebagai dukungan bagi ketahanan energi nasional karena berkaitan dengan upaya mengurangi impor serta subsidi bahan bakar minyak.
Data 4.892 unit SPKLU itu disampaikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui Koordinator Pelayanan Usaha Ketenagalistrikan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, Ferry Triansyah, pada 8 Mei. Angka tersebut menjadi penanda bahwa ekosistem pengisian daya untuk mobil listrik tidak lagi berada di tahap awal, melainkan sudah menjadi bagian penting dari transisi kendaraan listrik di dalam negeri.
Ekosistem pengisian daya mulai meluas
Percepatan penggunaan Kendaraan Listrik Berbasis Baterai atau KBLBB berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur pendukungnya. Karena itu, pengembangan SPKLU tidak berdiri sendiri, melainkan masuk dalam rangkaian kerja yang ditujukan agar adopsi kendaraan listrik bisa berkembang lebih stabil.
Salah satu bentuk konkret dari langkah itu terlihat pada pengembangan pengisian listrik di tiga provinsi percontohan. Tiga wilayah yang dipilih adalah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Bali, dengan tujuan memperkuat kesiapan ekosistem kendaraan listrik, terutama pada aspek yang paling dibutuhkan pengguna, yaitu akses pengisian daya.
Pengembangan di tiga provinsi tersebut terhubung dengan proyek ENTREV. Program ini menjadi salah satu jalur kerja sama untuk mempercepat kesiapan transisi menuju kendaraan listrik di Indonesia.
ENTREV merupakan singkatan dari Enhancing Readiness for The Transitio to Electric Vehicles in Indonesia. Program ini dijalankan melalui kerja sama Pemerintah Indonesia lewat Kementerian ESDM dan United Nations Development Programme atau UNDP.
Tidak berhenti di wilayah percontohan
Penguatan ekosistem kendaraan listrik tidak hanya difokuskan pada tiga provinsi pilot project. ENTREV juga telah direplikasi ke enam kota di enam provinsi, yaitu Yogyakarta, Surabaya, Medan, Makassar, Banjarmasin, dan Serang.
Perluasan itu memperlihatkan bahwa kesiapan kendaraan listrik ingin dibangun lebih merata, bukan menumpuk di satu kawasan saja. Dengan pendekatan tersebut, perkembangan mobil listrik diharapkan tidak bergantung pada kota-kota tertentu, tetapi bisa tumbuh di lebih banyak daerah.
Ferry Triansyah menyampaikan bahwa ENTREV juga sudah melaksanakan sosialisasi KBLBB di enam kota tersebut. Pada tahap berjalan, program ini turut mengadakan pelatihan dan sertifikasi bagi siswa sekolah menengah kejuruan atau SMK.
Langkah itu menunjukkan bahwa transisi kendaraan listrik tidak berhenti pada pembangunan fasilitas fisik seperti SPKLU. Kesiapan sumber daya manusia ikut disiapkan agar ekosistemnya lebih lengkap dan tidak hanya bertumpu pada infrastruktur.
Bagian dari strategi yang lebih luas
Di sisi lain, UNDP Indonesia menempatkan kendaraan listrik sebagai bagian dari jawaban atas dinamika geopolitik dan gangguan rantai pasok energi global. Head of Environment Unit UNDP Indonesia, Aretha Aprilia, menilai kondisi tersebut menjadi pengingat pentingnya transisi energi.
Pandangan itu sejalan dengan cara pemerintah memandang pengembangan SPKLU dan ekosistem kendaraan listrik. Selain untuk menekan emisi gas rumah kaca, langkah ini juga diposisikan sebagai dorongan menuju kemandirian energi nasional.
Dengan begitu, angka 4.892 unit SPKLU per Mei 2026 bukan sekadar statistik infrastruktur. Angka itu sekaligus menunjukkan bahwa kemajuan mobil listrik di Indonesia mulai bertumpu pada jaringan pengisian daya yang makin luas dan pada ekosistem pendukung yang terus diperkuat di berbagai wilayah.
Source: otodriver.com