Penyelidikan atas penembakan di Islamic Center of San Diego kini tidak hanya berfokus pada aksi dua remaja yang diduga sebagai pelaku, tetapi juga pada sebuah manifesto 75 halaman yang memuat ujaran kebencian dan seruan provokatif. Nama Presiden Donald Trump muncul berkali-kali dalam dokumen itu, sehingga menjadi perhatian utama aparat yang tengah memeriksa isinya.
FBI di San Diego menyebut dokumen tersebut masih divalidasi karena diunggah secara daring. Agen utama FBI di San Diego, Mark Remily, mengatakan penyelidik sedang memastikan keaslian tulisan yang diduga berisi uraian tentang ideologi agama dan rasial ekstrem yang berkaitan dengan serangan mematikan itu.
Di dalam dokumen itu, FBI menilai terdapat retorika kebencian yang diarahkan kepada Muslim, Yahudi, komunitas LGBTQ+, warga kulit hitam, perempuan, serta spektrum politik kiri dan kanan. Penyidik juga menemukan bahwa kedua tersangka menyebut diri mereka sebagai Sons of Tarrant, merujuk pada Brenton Tarrant, pelaku penembakan masjid di Christchurch, Selandia Baru, pada 2019.
Dua remaja yang dituduh sebagai pelaku diidentifikasi sebagai Cain Clark, 17, dan Caleb Vazquez, 18. Keduanya melakukan penembakan fatal pada Senin, 18/5/2026, lalu tewas karena bunuh diri tak lama setelah melepaskan tembakan, menurut keterangan pihak berwenang.
Penyebutan Trump berulang kali membuat isi manifesto itu semakin disorot. Dalam tulisannya, Vazquez menyatakan dirinya bukan pendukung sayap kiri maupun kanan, termasuk gerakan MAGA maupun Trump, lalu menulis kalimat provokatif yang menyarankan serangan terhadap Trump atau JD Vance.
Clark juga menulis pernyataan yang menempatkan presiden dalam konteks penghinaan ekstrem. Ia menyebut Trump sebagai antek Yahudi dalam bagian tulisannya, dan hal itu ikut memperkuat perhatian penyidik terhadap pola bahasa yang digunakan keduanya.
Pihak keamanan menilai tulisan tersebut bukan sekadar luapan emosi sesaat. Mereka melihatnya sebagai bagian dari pola kebencian yang lebih luas dan terhubung dengan pandangan ekstrem para tersangka, sehingga penyelidikan kini bergerak ke arah yang lebih luas.
Jejak radikalisasi keduanya juga sedang ditelusuri. Penyidik meyakini Clark dan Vazquez saling bertemu secara daring sebelum menyadari bahwa mereka tinggal di San Diego.
Clark diketahui mengikuti sekolah daring sejak 2021 dan menjadi anggota tim gulat di Madison High School pada tahun ajaran 2024-2025. Sementara itu, Vazquez menyatakan kebenciannya terhadap perempuan dan mengaku bagian dari komunitas incel, singkatan dari involuntary celibate.
Dalam dokumen yang diperiksa, Vazquez juga memuji Adolf Hitler sebagai salah satu inspirasinya. Penyidik menilai rangkaian isi tulisan itu memperlihatkan kombinasi kebencian rasial, agama, dan gender yang saling terkait dalam latar serangan.
Dampak serangan tersebut sangat besar bagi komunitas masjid. Tiga korban tewas adalah Amin Abdullah, Mansour Kaziha, dan Nadir Awad, dan tindakan mereka disebut membantu memperlambat penyerang serta mencegah akses ke 140 anak sekolah yang berada di dalam kompleks masjid.
Amin Abdullah disebut sempat baku tembak dengan tersangka dan memberi peringatan lockdown melalui radio. Meski terluka, ia terus melawan hingga memaksa pelaku keluar gedung sebelum akhirnya meninggal.
Mansour Kaziha dikenal sebagai sosok penting di komunitas masjid karena kerap membantu berbagai kebutuhan, mulai dari urusan pengelolaan hingga dapur. Nadir Awad berlari ke lokasi setelah mendengar tembakan untuk melindungi istrinya yang mengajar di sekolah tersebut.
Imam Taha Hassane menyebut ketiganya sebagai martir. Ia mengatakan bahwa tanpa tindakan Amin, para tersangka akan dengan mudah mengakses setiap ruang kelas di kompleks itu.
Di tengah penyelidikan yang masih berlangsung, masjid juga membuka penggalangan dana untuk membantu keluarga korban. Dana yang terkumpul telah melampaui US$2,7 juta atau sekitar Rp43 miliar dan mendekati target US$3 juta.
Dana itu akan dipakai untuk biaya pemakaman, pendidikan anak-anak korban, dan konseling trauma bagi keluarga yang ditinggalkan. Sementara itu, perhatian publik tetap tertuju pada manifesto yang memunculkan nama Trump berulang kali di dalam tulisan yang kini menjadi salah satu titik penting penyidikan.
Source: mediaindonesia.com