Baterai mobil listrik tidak dirancang untuk bertahan pada kondisi ekstrem terus-menerus. Karena itu, cara pengisian daya dan suhu kerja menjadi dua hal yang paling menentukan seberapa cepat kapasitasnya menurun.
Mahaendra Gofar, pendiri EVSafe, menyebut degradasi baterai pada mobil listrik sebagai hal yang normal. Ia menjelaskan bahwa kapasitas baterai EV rata-rata turun sekitar 1-2 persen per tahun, sehingga penurunan performa berlangsung bertahap, bukan tiba-tiba.
Panas dan kebiasaan isi daya ikut menentukan
Suhu menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap kesehatan baterai. Paparan panas berlebih dalam waktu lama dapat membuat kualitas sel baterai menurun lebih cepat.
Artinya, umur pakai battery pack tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering mobil dipakai. Kondisi termal saat penggunaan maupun saat pengisian daya sama-sama memegang peran penting.
Selain suhu, kebiasaan mengisi daya juga perlu diperhatikan. Pengguna disarankan tidak terlalu sering membiarkan baterai berada dalam kondisi terlalu penuh atau terlalu kosong.
Menjaga baterai tetap berada di level yang ideal dinilai dapat membantu memperlambat degradasi. Menurut Gofar, baterai yang tidak terus-menerus dipaksa bekerja dalam kondisi ekstrem cenderung lebih awet.
Fast charging perlu dipakai lebih bijak
Pengisian cepat memang praktis, terutama saat waktu pengisian harus singkat. Namun, pemakaian fast charging terlalu sering disebut tidak ideal bila sebenarnya tidak benar-benar dibutuhkan.
Alasannya, pengisian daya cepat dengan intensitas tinggi dapat membuat suhu baterai naik lebih cepat. Kenaikan suhu inilah yang kemudian memberi tekanan tambahan pada sel baterai.
Bukan berarti fast charging harus dihindari sepenuhnya. Yang dibutuhkan justru sikap lebih selektif agar kemudahan pengisian cepat tidak dibayar dengan laju degradasi yang lebih tinggi.
Poin ini makin relevan karena banyak pemilik mobil listrik mulai mengandalkan SPKLU cepat dan ultra fast charging. Infrastruktur yang makin mudah diakses tetap perlu diimbangi kebiasaan penggunaan yang sadar terhadap kesehatan baterai.
Teknologi kendaraan juga memberi perlindungan
Di sisi lain, mobil listrik modern sudah membawa sistem yang membantu menjaga baterai tetap bekerja di rentang aman. Battery management system atau BMS bertugas memantau kondisi baterai secara real time.
BMS membantu menjaga suhu, arus, dan kondisi tiap sel agar tetap optimal. Dengan begitu, pengelolaan baterai tidak sepenuhnya bergantung pada kebiasaan pengemudi.
Meski begitu, teknologi ini tidak membuat baterai kebal terhadap degradasi. Penurunan kapasitas tetap terjadi secara alami karena proses kimia pada sel lithium-ion.
Karena itu, kekhawatiran soal baterai sebenarnya perlu ditempatkan secara proporsional. Degradasi memang tidak bisa dihapus, tetapi lajunya masih bisa dijaga agar tidak terlalu cepat.
Dengan pola penggunaan yang tepat, mobil listrik tetap bisa nyaman dipakai untuk jangka panjang. Perhatian pada cara berkendara, kebiasaan pengisian daya, dan upaya menghindari panas berlebih menjadi bagian penting dari perawatan harian.
Source: otomotif.kompas.com




