Pakistan kembali menjadi jalur penting di tengah manuver Iran yang memilih menahan ketegangan tanpa menutup ruang bicara. Di saat pembicaraan masih berlangsung, Teheran justru mengirim sinyal keras bahwa kekuatan militer tetap disiagakan penuh.
Sikap itu memperlihatkan pendekatan ganda yang sedang ditempuh Iran. Negosiasi tidak dihentikan, tetapi kesiapan tempur juga tidak diturunkan meski ancaman agresi dari lawan masih membayangi.
Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran Ayatullah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei memerintahkan seluruh jajaran militer untuk meningkatkan kesiapan tempur. Arahan itu disampaikan saat ia bertemu Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Mayor Jenderal Ali Abdollahi di Teheran.
Abdollahi kemudian menyampaikan bahwa seluruh unsur pertahanan Iran berada dalam kondisi siaga penuh. Ia menyebut Angkatan Darat Iran, Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC, pasukan keamanan perbatasan, Kementerian Pertahanan, hingga pasukan sukarelawan Basij telah bersiap menghadapi berbagai kemungkinan.
Menurut Abdollahi, moral pasukan juga tetap tinggi. Ia menegaskan bahwa strategi untuk merespons ancaman telah disiapkan, termasuk jika muncul kesalahan strategis, agresi, atau gangguan militer dari pihak lawan.
Pesan yang dibawa dari pertemuan itu jelas: angkatan bersenjata Iran diminta siap membela cita-cita revolusi, kedaulatan, integritas wilayah, dan kepentingan nasional. Dalam situasi yang masih sensitif, kesiapsiagaan dinilai menjadi bagian penting dari posisi tawar Teheran.
Di sisi lain, jalur diplomasi belum ditutup. Iran disebut telah menyampaikan tanggapan resmi atas proposal perdamaian terbaru dari Amerika Serikat melalui mediasi Pakistan.
Pembahasan yang berjalan saat ini masih berfokus pada penghentian konflik. Isu yang lebih rumit, termasuk program nuklir Iran, belum masuk ke pembahasan lebih jauh.
Peran Pakistan dalam proses ini tidak kecil. Negara itu sebelumnya berhasil memediasi gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat pada 8 April 2026, yang menghentikan konflik selama 40 hari antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
Setelah gencatan senjata tercapai, pembicaraan lanjutan sempat digelar di Islamabad beberapa hari kemudian. Namun, perundingan tersebut belum menghasilkan kesepakatan besar yang dapat meredakan seluruh persoalan di antara pihak-pihak terkait.
Kombinasi antara siaga militer dan ruang dialog yang tetap terbuka menunjukkan bahwa Teheran sedang menjaga dua kepentingan sekaligus. Iran ingin memastikan lawan membaca kesiapan tempurnya, sambil tetap mempertahankan peluang penyelesaian lewat diplomasi yang dimediasi Pakistan.
Source: www.beritasatu.com