Ketegangan di Laut Oman kembali mendapat sorotan setelah Iran mengklaim berhasil memaksa kapal perang Amerika Serikat menjauh dari area perairan itu. Klaim tersebut muncul bersamaan dengan laporan bahwa Teheran melepaskan tembakan peringatan menggunakan rudal dan drone terhadap sejumlah kapal perusak AS.
Kantor humas militer Iran menyebut aksi itu terjadi pada Jumat (5/6) waktu setempat. Dalam operasi yang diumumkan tersebut, Iran mengatakan telah memakai rudal Qadir dan drone tempur Shahed Danesh untuk menarget kapal perusak militer AS di Laut Oman.
Iran merinci sasaran yang disebutnya sebagai kapal perusak AS berkode lambung DDG-103 dan DDG-87. Kode itu merujuk pada USS Truxtun dan USS Mason, dua kapal yang kemudian diklaim Teheran meninggalkan Laut Oman dan bergerak ke Samudra Hindia.
Menurut Iran, kapal-kapal perang itu berfungsi sebagai pusat komando dan kendali untuk aktivitas AS yang dinilai bermusuhan terhadap pelayaran komersial Iran. Dari sudut pandang Teheran, keberadaan armada tersebut ikut memperkeruh situasi di jalur laut yang selama ini sudah sensitif.
Pusat komando yang mengawasi operasi Angkatan Laut Iran juga meminta AS menghentikan apa yang disebutnya sebagai pencurian maritim dan tindakan bermusuhan di perairan regional. Iran turut memperingatkan bahwa pasukannya dapat memakai senjata jarak jauh jika diperlukan.
Peringatan itu disampaikan di saat Iran menilai kapal-kapal militer AS sudah bergerak melampaui jangkauan rudal yang digunakan dalam operasi peringatan tersebut. Meski begitu, pesan yang disampaikan Teheran tetap menunjukkan bahwa ruang gerak militer di kawasan itu masih rapuh.
Situasi di Laut Oman tidak berdiri sendiri, karena ketegangan AS dan Israel melawan Iran belum benar-benar reda. Gencatan senjata sempat diberlakukan pada 8 April lalu dan kemudian diperpanjang tanpa batas waktu oleh Presiden Donald Trump, tetapi kedua pihak kembali saling serang dan saling menuduh melanggar kesepakatan.
Dalam rangkaian aksi terbaru pada Jumat (5/6) dan Sabtu (6/6) dini hari, AS mengumumkan serangan ke instalasi radar Iran di Pulau Qeshm. Serangan itu dilakukan setelah AS menembak jatuh empat drone tempur Teheran yang bergerak ke Selat Hormuz.
Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone terhadap pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain. Rentetan saling serang itu membuat insiden di Laut Oman tampak menjadi bagian dari eskalasi yang lebih luas, bukan peristiwa yang berdiri sendiri.
Di tengah kondisi tersebut, upaya perdamaian yang dimediasi Pakistan masih terus berjalan. Namun hingga kini belum ada terobosan konkret untuk mengakhiri konflik secara permanen, sehingga Laut Oman tetap berpotensi menjadi arena unjuk kekuatan antara pihak-pihak yang berseteru.
Source: news.detik.com