Laporan intelijen Amerika Serikat menggambarkan bahwa kemampuan rudal Iran belum melemah separah yang selama ini diproyeksikan dalam pernyataan politik. Temuan itu penting karena Selat Hormuz masih menjadi titik paling sensitif di kawasan dan setiap perubahan kecil di sana dapat memicu efek berantai ke keamanan regional maupun energi global.
Penilaian awal pada Mei menyebut Iran sudah kembali memiliki akses operasional ke sebagian besar situs rudalnya. Dari 33 lokasi rudal di sepanjang Selat Hormuz, 30 di antaranya dilaporkan kembali berfungsi, sehingga ruang gerak militer Teheran tetap besar.
Sumber yang mengetahui penilaian tersebut juga menyebut Iran masih memegang sekitar 70 persen persediaan rudal dan peluncur bergerak yang dimilikinya sebelum perang pecah. Di sisi lain, hampir 90 persen fasilitas penyimpanan dan peluncuran rudal bawah tanah di berbagai wilayah Iran kini berada dalam kondisi sebagian atau sepenuhnya aktif.
Kondisi itu membuat kalkulasi keamanan di kawasan belum banyak berubah. Selama aset utama itu masih tersedia, Iran tetap punya daya gentar yang dapat digunakan bila ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel kembali meningkat.
Jarak antara klaim politik dan kondisi di lapangan
Hasil penilaian intelijen tersebut juga memperlihatkan perbedaan tajam dengan narasi yang beberapa kali disampaikan Gedung Putih. Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya menyatakan kemampuan militer Iran sudah lumpuh, tetapi temuan terbaru justru menunjukkan banyak infrastruktur penting masih beroperasi.
Juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, menanggapi laporan itu dengan menyebut pemerintah Iran memahami bahwa “realitas saat ini tidak berkelanjutan.” Ia juga mengatakan pihak yang menilai Iran telah membangun kembali militernya adalah orang yang delusional atau juru bicara bagi Korps Garda Revolusi Islam.
Respons itu menegaskan bahwa Washington masih memandang Iran sebagai ancaman serius. Namun, angka-angka dari penilaian intelijen memperlihatkan bahwa kemampuan rudal Teheran belum hilang dan masih bisa memengaruhi perhitungan militer maupun diplomasi.
Hormuz tetap menjadi titik rapuh
Kerapuhan Selat Hormuz membuat setiap ketegangan baru sulit dipisahkan dari isu energi dan keamanan regional. Jalur itu memiliki peran besar bagi arus energi dunia, sehingga gangguan apa pun di kawasan ini langsung mendapat perhatian luas.
Situasi tersebut tidak lepas dari eskalasi yang muncul setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari. Serangan itu memicu balasan dari Teheran terhadap Israel dan sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk, sekaligus ikut mendorong penutupan Selat Hormuz yang mengguncang stabilitas energi global.
Karena itu, keberadaan situs rudal yang kembali aktif menjadi faktor yang membuat kawasan tetap rentan. Selama jalur itu belum benar-benar aman, risiko eskalasi akan terus membayangi setiap langkah militer maupun politik.
Diplomasi masih tertahan
Upaya meredakan konflik belum menghasilkan terobosan yang kuat. Gencatan senjata selama dua pekan mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan, tetapi pembicaraan lanjutan di Islamabad tidak membuahkan kesepakatan jangka panjang.
Presiden Donald Trump kemudian memperpanjang masa gencatan senjata tanpa batas waktu yang jelas. Sejak itu, Pakistan terus berusaha menghidupkan kembali jalur diplomasi, tetapi upaya tersebut belum menghasilkan hasil yang meyakinkan.
Hambatan baru juga muncul setelah Trump menolak respons terbaru Iran atas proposal Washington untuk mengakhiri perang secara permanen. Presiden Amerika Serikat itu menyebut tanggapan Teheran sama sekali tidak dapat diterima, yang menunjukkan jarak kedua pihak masih lebar.
Di tengah kebuntuan tersebut, laporan intelijen tentang kekuatan rudal Iran menjadi sinyal bahwa keadaan di kawasan belum stabil. Selama dialog belum membuka jalan keluar, Selat Hormuz tetap berada dalam posisi rentan dan ancaman eskalasi masih bisa muncul sewaktu-waktu.
Source: mediaindonesia.com