Inflasi AS Mengguncang ETF Bitcoin, Arus Keluar Rp10 Triliun Picu Pelarian dari Risiko

Pasar Bitcoin kembali menunjukkan betapa cepatnya sentimen institusi berubah saat data inflasi Amerika Serikat memberi sinyal yang tidak nyaman bagi aset berisiko. Dalam satu hari, ETF spot Bitcoin di AS mencatat arus keluar $630.4 juta, penarikan harian terbesar dalam lebih dari tiga bulan.

Tekanan itu muncul setelah rilis inflasi terbaru membuat pelaku pasar kembali menimbang kemungkinan kebijakan Federal Reserve tetap ketat. Saat kekhawatiran itu naik, minat terhadap Bitcoin ikut melemah dan sejumlah dana besar langsung memilih mengurangi eksposur.

Dana terbesar keluar dari produk unggulan

BlackRock menjadi kontributor penarikan terbesar lewat IBIT dengan arus keluar $284.7 juta. Di belakangnya, ARK Invest melalui ARKB mencatat penurunan $177.1 juta, lalu Fidelity FBTC kehilangan $133.2 juta.

Bitwise BITB juga ikut mencatat arus keluar $35.4 juta. Keempat produk itu menyumbang seluruh kerugian ETF Bitcoin spot pada sesi tersebut.

Besarnya penarikan pada Rabu itu juga memutus rangkaian inflow selama lima pekan. Selama periode itu, ETF Bitcoin sempat membukukan sekitar $3.8 miliar net inflows hingga pekan yang berakhir pada 6 Mei.

Inflasi mengubah nada pasar

Illia Otychenko, Lead Analyst di CEX.IO, menilai pergeseran arus dana tersebut sangat terkait dengan data inflasi AS pekan ini. Inflasi April berada di 3.8%, lebih tinggi dari perkiraan dan menjadi yang tertinggi sejak September 2023.

Sehari setelahnya, indeks harga produsen atau PPI tercatat 6%, level tertinggi sejak Februari 2023. Dua data itu memperkuat dugaan pasar bahwa The Fed masih bisa mempertahankan sikap ketat, bahkan membuka ruang untuk kenaikan suku bunga tahun ini.

Dalam kondisi seperti itu, pasar cenderung menjauhi aset berisiko. Bitcoin ikut terkena tekanan, sementara ETF spot Bitcoin menjadi salah satu instrumen yang paling cepat merespons perubahan sentimen.

Tanda hati-hati juga terlihat di pasar derivatif

Otychenko juga melihat sinyal bearish dari sisi lain pasar. Ia menyebut ada peningkatan deleveraging pada posisi long dan kenaikan rasio put/call, yang sama-sama menunjukkan investor lebih berhati-hati.

Sebelum penarikan besar pada Rabu, pelemahan juga sudah muncul lebih dulu. ETF Bitcoin tercatat melepas $268.5 juta pada 7 Mei dan $233.2 juta lagi pada 12 Mei.

Di pasar kripto yang lebih luas, respons terhadap data makro tetap terasa cepat. Bitcoin sempat menyentuh kisaran $82,000 pada akhir pekan lalu sebelum bergerak turun lagi.

Arah berikutnya masih dipengaruhi faktor makro

Ke depan, Otychenko menilai harga minyak dan perkembangan di Selat Hormuz akan ikut memengaruhi arah pasar. Gangguan yang berkepanjangan di jalur itu berpotensi mendorong biaya energi naik dan menambah tekanan inflasi.

Ia juga menyinggung hearing Clarity Act hari ini yang dapat menambah volatilitas di sektor tersebut. Di pasar prediksi Myriad, pengguna hanya memberi peluang 24% bahwa blokade Selat Hormuz akan berakhir sebelum Juni.

Pada saat yang sama, peluang harga minyak mentah melonjak ke $120 turun dari 76% pada Rabu menjadi 65% hari ini. Untuk Bitcoin, pengguna Myriad menilai ada peluang lebih dari 84% bahwa langkah berikutnya akan menuju $84,000, bukan turun ke $55,000.

Meski begitu, sentimen jangka pendek masih rapuh. Pengguna Myriad hanya memberi peluang 41% bahwa BTC bisa ditutup di atas $80,000 pada Jumat pukul 4 sore UTC, sementara data CoinGecko menunjukkan harga Bitcoin berada di $79,540, turun 1.6% dalam 24 jam.

Peter Chung, head of research di Presto Labs, meminta pasar tidak menyimpulkan terlalu jauh dari satu hari arus keluar besar itu. Menurutnya, institusi bukan kelompok yang seragam, dan kenaikan harga sering mendorong sebagian investor untuk merealisasikan keuntungan sebagai bagian dari konsolidasi yang sehat.

Exit mobile version