Perubahan terbesar di industri chip kini bukan hanya soal seberapa cepat transistor bisa dipadatkan, melainkan juga soal bagaimana teknologi itu tetap bisa memberi nilai lebih ketika laju pertumbuhannya tidak lagi sekencang dulu. Di titik ini, Moore’s Law masih dipakai sebagai rujukan penting, tetapi posisinya tidak lagi sesederhana masa ketika peningkatan kemampuan chip terasa hampir otomatis setiap kali jumlah transistor naik.
Bagi banyak pelaku industri, kondisi tersebut menandai masuknya babak baru yang harus diterima, bukan dihindari. Kebutuhan pasar atas performa yang lebih tinggi, biaya yang lebih rendah, dan efisiensi yang lebih baik tetap berjalan, namun jalan untuk mencapainya kini jauh lebih menantang dibandingkan masa ketika pola pertumbuhan eksponensial masih terlihat kuat.
Dari prediksi menjadi pegangan industri
Moore’s Law berawal dari pengamatan Gordon Moore, salah satu pendiri Intel, yang menulis gagasannya di Electronics Magazine pada April 1965. Dari komponen elektronik yang ia amati, muncul perkiraan bahwa jumlah transistor akan terus bertambah pesat, dan prediksi itu kemudian berubah menjadi acuan besar bagi industri semikonduktor.
Intel menyebut konsep ini sebagai semacam “golden rule” bagi industri elektronik karena menghubungkan kenaikan kemampuan komputasi dengan penurunan biaya relatif. Selama bertahun-tahun, gagasan itu ikut mendorong hadirnya chip yang lebih cepat, lebih kecil, dan lebih terjangkau bagi pasar.
Dampaknya terlihat dari melonjaknya jumlah transistor pada satu chip. Menjelang pergantian milenium, kenaikannya berlangsung jauh di atas perkiraan awal, hingga mencapai lebih dari 18.000 kali, dari 2.300 pada 1971 menjadi 42 juta pada prosesor Pentium 4 kelas atas.
Laju yang mulai melambat
Meski pernah dianggap berjalan hampir tanpa hambatan, industri semikonduktor kini menghadapi batas teknis yang semakin nyata. TechRadar pada 2012 masih menilai Moore’s Law akan bertahan setidaknya satu dekade lagi, tetapi perkembangan di lapangan menunjukkan bahwa ritmenya tidak lagi secepat dulu.
Pada 2023, CEO Intel Pat Gelsinger menyebut transistor kini hanya mengganda setiap tiga tahun. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa pola pertumbuhan chip sudah bergeser jauh dari ritme yang dulu melekat kuat pada Moore’s Law.
Perlambatan itu tidak otomatis membuat konsep tersebut kehilangan arti. Moore’s Law tetap dipakai sebagai cara untuk menilai apakah teknologi masih bergerak cepat atau mulai mendekati batas pertumbuhan yang makin sulit ditembus.
Tekanan baru dari kebutuhan komputasi
Di saat laju transistor melambat, tuntutan terhadap komputasi justru terus meningkat. Industri chip masih harus mengejar performa yang lebih tinggi, biaya yang lebih rendah, dan efisiensi yang lebih baik, meski pendekatan lama tidak lagi cukup untuk menjawab semua kebutuhan itu.
Dorongan untuk mengecilkan ukuran transistor dan meningkatkan performa tetap menjadi pusat persaingan. Bedanya, pencapaiannya kini tidak lagi bergantung pada pola sederhana yang dahulu membuat komputer makin cepat setiap kali jumlah transistor bertambah.
Situasi ini membuat Moore’s Law lebih sering dipahami sebagai kerangka untuk membaca hubungan antara skala, biaya, dan kemampuan teknologi. Konsep tersebut tidak lagi hanya soal jumlah transistor, melainkan juga soal bagaimana industri menyesuaikan diri dengan batas baru dalam pengembangan chip.
Istilah yang meluas ke bidang lain
Menariknya, penggunaan Moore’s Law kini tidak berhenti pada chip. Sejumlah tokoh industri juga memakainya untuk menggambarkan percepatan di sektor lain, termasuk generative AI yang berkembang sangat cepat dalam beberapa waktu terakhir.
Pada Februari 2025, CEO OpenAI Sam Altman mengaitkan perkembangan AI dengan Moore’s Law saat membahas turunnya biaya dan meningkatnya kemampuan model. Ia menyoroti ledakan generative AI sejak akhir 2022 yang berlangsung seiring semakin kuatnya performa model dan semakin murahnya akses teknologi.
Altman juga menyebut biaya context tokens turun sekitar 10 kali dalam skala tahunan. Dalam periode 2023 hingga pertengahan 2024, harga per token ChatGPT bahkan turun sekitar 150 kali, menunjukkan perubahan efisiensi yang sangat cepat di sektor tersebut.
Arah industri chip ke depan
Bagi industri chip, perlambatan Moore’s Law bukan akhir dari dorongan inovasi, melainkan tanda bahwa cara lama tidak bisa lagi dijadikan satu-satunya patokan. Pasar tetap menuntut kemampuan yang lebih tinggi, sementara produsen chip harus mencari jalan baru agar efisiensi dan performa tetap meningkat.
Selama enam dekade, Moore’s Law telah berubah dari prediksi sederhana menjadi simbol ambisi industri. Pengaruhnya masih terasa kuat ketika perusahaan chip dan pengembang perangkat lunak sama-sama berusaha melewati batas baru dalam komputasi.