Indonesia Battery Corporation (IBC) menempatkan baterai nikel sebagai inti strategi pengembangannya karena dinilai paling dekat dengan kebutuhan pasar di dalam negeri. Bagi perusahaan, arah ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang bagaimana produk baterai bisa ikut menekan harga mobil listrik agar lebih terjangkau.
Di tengah persaingan pengembangan baterai yang selama ini kerap dipandang dipimpin China, IBC memilih jalur yang lebih menyesuaikan kondisi Indonesia. Fokusnya tertuju pada riset dan pengembangan yang tidak berhenti pada laboratorium, tetapi bergerak sampai ke produk yang bisa diproduksi dan dijual.
Paten yang dicari harus bernilai ekonomi
Presiden Direktur IBC Aditya Farhan Arif menegaskan bahwa riset dalam negeri diyakini mampu mengejar capaian paten teknologi baterai China. Namun, ukuran keberhasilan bagi IBC tidak sekadar banyaknya paten yang dikumpulkan.
IBC menilai yang lebih penting adalah paten yang produktif dan memiliki nilai ekonomi nyata. Dengan begitu, inovasi tidak berhenti sebagai catatan administratif, melainkan berubah menjadi produk komersial yang relevan untuk industri dan konsumen.
Pendekatan ini juga menunjukkan bahwa IBC ingin memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai baterai kendaraan listrik. Perusahaan melihat ada ruang untuk mempersempit jarak dengan pusat pengembangan baterai dunia melalui riset yang lebih terarah.
Nikel dipilih karena cocok dengan kondisi Indonesia
Arah pengembangan IBC berpusat pada nikel karena mineral ini merupakan salah satu kekuatan sumber daya nasional. Tetapi, pemilihan nikel tidak hanya didasarkan pada ketersediaan bahan baku.
IBC ingin baterai yang dibuat benar-benar sesuai dengan konteks lokal, mulai dari sumber daya, medan, iklim, sampai daya beli konsumen. Karena itu, riset diarahkan untuk menemukan formulasi baterai nikel yang tepat bagi pengguna di Indonesia.
Aditya menyebut tujuan utamanya adalah mengembangkan baterai nikel yang cocok dengan kebutuhan orang Indonesia. Artinya, teknologi yang dikejar bukan hanya canggih, tetapi juga relevan dengan pasar domestik.
Harga mobil listrik ikut jadi pertimbangan
Salah satu alasan penting di balik riset ini adalah harga mobil listrik di Indonesia yang disebut berada di kisaran Rp400 jutaan. IBC ingin pengembangan baterai ikut menjawab tantangan tersebut agar harga kendaraan listrik bisa ditekan.
Bagi perusahaan, baterai yang lebih ekonomis akan membantu mendorong adopsi mobil listrik yang lebih luas. Karena itu, riset baterai tidak dipisahkan dari persoalan daya beli masyarakat.
Fokus pada biaya juga membuat strategi IBC terasa sangat dekat dengan kebutuhan pasar lokal. Di tengah pertumbuhan kendaraan listrik, perusahaan memilih jalur yang mencoba menjembatani potensi sumber daya nasional dengan kemampuan belanja konsumen.
Kolaborasi untuk memperkuat riset dan talenta lokal
Untuk mengejar target itu, IBC menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional serta universitas di Indonesia. Kerja sama ini dipakai untuk memperkuat ekosistem riset sekaligus membuka ruang bagi lahirnya talenta lokal di bidang baterai.
Keterlibatan kampus dan lembaga riset dianggap penting karena pengembangan baterai membutuhkan teknologi dan kesinambungan sumber daya manusia. IBC juga memandang pengembangan talenta di universitas sebagai bagian dari strategi membangun industri baterai nasional yang lebih kuat.
Langkah ini memperlihatkan bahwa perhatian IBC tidak hanya tertuju pada paten. Perusahaan juga ingin membangun fondasi jangka panjang lewat SDM yang siap masuk ke rantai pengembangan dan produksi.
Paten yang sudah ada akan terus bertambah
IBC menyatakan sudah memiliki paten di bidang baterai dan jumlahnya akan bertambah pada tahun ini. Meski begitu, perusahaan tidak mengungkap berapa paten yang sudah dimiliki maupun yang sedang digarap.
Sejumlah paten yang tengah dikembangkan disebut lebih pro nikel sebagai mineral yang dikuasai Indonesia. Pengembangan itu diarahkan agar baterai tetap berbasis nikel, tetapi bisa dibuat lebih ekonomis untuk mendukung kendaraan listrik yang lebih murah.
Dengan strategi tersebut, IBC menunjukkan bahwa pengembangan teknologi tidak berdiri sendiri dari realitas pasar. Riset baterai diarahkan untuk menghasilkan produk yang kuat secara teknologi sekaligus masuk akal secara biaya bagi konsumen Indonesia.
Source: www.suara.com