Rencana Min Jung Woo dan tuan Inpyeong di Perfect Crown tampak berjalan mulus sampai ledakan di Balai Konsulat justru berbalik arah. Alih-alih membuka jalan bagi mereka, insiden itu memunculkan serangkaian kejutan yang membuat banyak pihak kehilangan kendali.
Yang paling menentukan adalah fakta bahwa ancaman terhadap Pangeran Agung I An ternyata sudah lebih dulu terbaca oleh ibu suri. Ia sempat mencoba menghubungi I An untuk memperingatkan bahwa sang pangeran agung sedang dalam bahaya sebelum ledakan benar-benar terjadi.
Di tengah situasi yang kacau, Seong Hui Ju memilih bergerak sendiri. Ia nekat menerobos ke area kebakaran dan ikut memastikan I An tidak menjadi korban, bersama ajudan Choi.
Aksi itu langsung mengubah arah peristiwa karena I An selamat bukan akibat skenario yang diyakini telah disiapkan para pelaku. Kehadiran Hui Ju juga memperjelas bahwa ia tidak tinggal diam saat ancaman muncul di depannya.
Setelah penyelamatan itu, Hui Ju tidak berhenti di situ. Ia segera mendesak Min untuk melakukan penyelidikan dan menunjukkan keyakinan bahwa ledakan tersebut bukan kecelakaan biasa.
Respons itu justru membuat Min Jung Woo terseret emosi. Ia naik pitam melihat sikap Hui Ju dan dalam kekesalannya sempat menyuruh perempuan yang disukainya itu untuk tidak memedulikan insiden tersebut.
Sikap Min kemudian membuat posisinya semakin rumit di hadapan banyak pihak. Di saat yang sama, ia juga harus memberi pernyataan resmi soal ledakan dan kondisi terbaru I An, sambil tetap mengendalikan keadaan yang terus berubah.
Hui Ju bergerak lebih cepat dari yang diperkirakan. Ia langsung menelusuri siapa saja yang datang ke Balai Konsulat sebelum insiden, karena ingin mencari titik awal dari peristiwa yang ia anggap mencurigakan.
Tekanan untuk Min belum selesai ketika keadaan I An berubah lebih cepat dari dugaan. Saat sang pangeran agung siuman lebih awal, Min terlihat kaget karena ia belum menyiapkan langkah lanjutan untuk menghadapi perkembangan tersebut.
Perubahan kondisi I An membuat strategi Min dan Inpyeong semakin sulit dijalankan. Keduanya semula tampak berada di posisi aman, tetapi situasi langsung bergeser setelah I An kembali sadar.
Di sisi lain, tekanan politik dari luar juga makin kuat. Ledakan itu perlahan tidak lagi dipandang sebagai persoalan keselamatan semata, tetapi ikut menyeret kepentingan yang lebih luas di dalam istana.
Min juga harus menghadapi ibu suri yang mulai sulit diarahkan. Perempuan itu menolak menggantikan I An untuk mengambil alih perwalian atas raja, dan penolakan itu mengubah peta kekuasaan yang sedang mereka atur.
Keadaan semakin berat ketika ibu suri justru membuka kejahatan ayahnya kepada Pangeran Agung I An. Pengakuan tersebut memperlebar konflik dari ledakan di Balai Konsulat menjadi persoalan keluarga dan perebutan pengaruh di istana.
Dari titik itu, Min terpaksa menyelidiki Inpyeong lebih jauh. Ia juga baru mengetahui bahwa sebelum ledakan, I An sempat datang ke Balai Konsulat untuk menemui Perdana Menteri Min.
Fakta baru itu membuat pembacaan Min dan Inpyeong atas situasi menjadi keliru. Mereka tidak memperhitungkan bahwa ada begitu banyak pihak yang justru berusaha melindungi I An.
Ajudan baru, Do Hye Jeong, turut menambah lapisan informasi penting. Ia memberi tahu Hui Ju soal tujuan kedatangan I An ke Balai Konsulat sebelum ledakan terjadi, dan informasi itu makin mempersempit ruang gerak Min serta Inpyeong setelah I An berhasil diselamatkan.
Pada akhirnya, ledakan yang nyaris berubah menjadi tragedi besar justru menjadi titik balik yang mengguncang banyak hubungan di istana. Min harus berhadapan dengan penyelidikan, I An selamat lebih cepat dari perkiraan, dan ibu suri membuka rahasia yang paling berbahaya di tengah situasi yang belum benar-benar reda.
Source: www.idntimes.com