Persaingan mobil elektrifikasi di China mulai bergerak ke arah yang lebih berlapis. Jika sebelumnya mobil listrik murni atau BEV menjadi pusat perhatian, kini produsen besar di negara itu memberi porsi yang lebih besar pada mobil hybrid atau HEV untuk menjaga daya saing di pasar yang semakin padat.
Perubahan arah ini tidak berarti China meninggalkan kendaraan listrik, melainkan memperluas jalur teknologi yang dipilih. Langkah tersebut membuat pabrikan China tetap agresif, tetapi dengan pendekatan yang lebih fleksibel agar tidak bergantung penuh pada BEV.
Hybrid kembali mendapat tempat
Dalam beberapa tahun terakhir, BEV menjadi simbol utama kemajuan industri otomotif China. Namun, kenyataan pasar menunjukkan bahwa tidak semua konsumen siap beralih sepenuhnya ke mobil berbasis baterai.
Di titik inilah hybrid kembali dipandang menarik. Teknologi ini memberi ruang bagi pengguna yang ingin efisiensi bahan bakar, tetapi belum ingin sepenuhnya bergantung pada pengisian daya.
Pendekatan itu juga mencerminkan perubahan strategi produsen China. Mereka kini tidak hanya mengejar dominasi BEV, tetapi juga menyiapkan portofolio elektrifikasi yang lebih beragam untuk kebutuhan pasar domestik maupun global.
Cara kerja yang berbeda dari Toyota
Di pasar hybrid dunia, Toyota masih memegang posisi sangat kuat. Pabrikan Jepang itu memakai Toyota Hybrid System atau THS yang berbasis pembagi daya roda gigi, sehingga mesin dan roda terhubung secara mekanis untuk menjaga efisiensi dan kenyamanan berkendara.
Produsen China memilih jalur lain. Mereka banyak memakai arsitektur seri-paralel yang dipadukan dengan Dedicated Hybrid Transmission atau DHT, dengan motor listrik sebagai sumber tenaga utama dan mesin yang lebih sering berperan sebagai pendukung atau generator.
Karakter itu membuat mobil hybrid China cenderung terasa lebih agresif. Sistem seperti Blue Core HEV milik Changan bahkan memakai motor ganda dan beberapa mode berkendara, mulai dari listrik murni pada kecepatan rendah hingga kombinasi mesin dan motor saat akselerasi dibutuhkan.
Performa dan efisiensi jadi daya tarik
HEV buatan China diklaim menawarkan output yang lebih besar daripada hybrid konvensional. Motor listrik yang dipakai umumnya berada di kisaran 130–180 kW, sehingga memberikan torsi kuat saat mobil membutuhkan akselerasi.
Di sisi lain, efisiensi bahan bakar juga menjadi senjata penting. Dalam kondisi tertentu, konsumsi bahan bakar di jalan perkotaan disebut bisa mencapai 2 hingga 3 liter per 100 km.
Angka tersebut menjadi nilai jual yang relevan bagi konsumen yang ingin mobil hemat, tetapi belum siap menghadapi ketergantungan penuh pada infrastruktur pengisian daya. Di pasar China yang sangat kompetitif, kombinasi performa dan efisiensi seperti ini menjadi pembeda yang sulit diabaikan.
Biaya produksi lebih terkendali
Perubahan fokus ke hybrid juga berkaitan erat dengan biaya. HEV hanya membutuhkan baterai kecil, sekitar 1–2 kWh, sehingga jauh lebih rendah dibanding PHEV maupun BEV.
Ukuran baterai yang kecil membantu produsen menekan biaya, terutama di tengah fluktuasi harga material seperti lithium. Bagi pasar domestik China yang persaingannya sangat ketat, efisiensi biaya menjadi faktor penting untuk menjaga margin keuntungan.
HEV sendiri tidak ditempatkan sebagai pengganti penuh mobil listrik. Teknologi ini lebih diposisikan sebagai solusi pelengkap untuk menjangkau konsumen yang masih membutuhkan fleksibilitas penggunaan harian tanpa sepenuhnya bergantung pada charging.
Geely, Chery, dan Changan ikut bergerak
Sejumlah merek China sudah menyiapkan langkah konkret di jalur hybrid. Geely menargetkan konsumsi bahan bakar sekitar 3 liter per 100 km lewat sistem i-HEV.
Chery memilih pendekatan yang sedikit berbeda dengan bereksperimen pada baterai yang lebih besar, hingga 5 kWh, sehingga posisinya mendekati batas antara HEV dan PHEV. Sementara itu, Changan telah memulai uji coba berkendara untuk model HEV terbarunya, yang menunjukkan tahap komersialisasi semakin dekat.
Pergerakan ini memperlihatkan bahwa hybrid kembali menjadi arena penting dalam persaingan otomotif global. Toyota masih unggul di pasar hybrid, sedangkan BYD terus mendorong elektrifikasi lewat kombinasi BEV dan PHEV dengan total penjualan 4,6 juta unit pada periode yang sama, hampir seimbang antara kedua jenis kendaraan itu.
Di tengah peta persaingan tersebut, hybrid berpotensi menjadi jembatan yang memperluas adopsi elektrifikasi. Teknologi ini memberi ruang bagi produsen China untuk menawarkan efisiensi, performa, dan biaya yang lebih terkendali, sekaligus tetap relevan di pasar yang infrastrukturnya belum merata.