Cuaca di Indonesia dalam sepekan ke depan tidak sepenuhnya bergerak ke arah kering meski pengaruh monsun Australia semakin kuat. Pola yang muncul justru campuran antara berkurangnya peluang hujan di banyak tempat dan masih aktifnya gangguan atmosfer yang tetap mampu memicu hujan sedang hingga lebat.
Kondisi ini membuat masyarakat tetap perlu membaca cuaca dari hari ke hari, bukan hanya dari tren umumnya. Di beberapa wilayah, langit bisa tampak lebih cerah pada pagi hingga siang, tetapi awan hujan masih berpeluang tumbuh pada sore sampai malam saat panas permukaan meningkat.
Penguatan monsun Australia membawa massa udara dengan kandungan uap air lebih rendah ke Indonesia. Efeknya, tutupan awan menurun dan situasi ini menjadi salah satu penanda peralihan menuju musim kemarau di sebagian wilayah.
Meski begitu, penurunan hujan tidak berlangsung merata. BMKG mencatat pada periode 4–6 Mei 2026 masih ada suhu maksimum lebih dari 35,0°C hingga 37,1°C di Kalimantan Timur, Papua Barat, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Utara.
Di saat yang sama, hujan lebat hingga ekstrem juga masih terjadi di sejumlah daerah. Catatan hujan ekstrem muncul di Jawa Barat, Kalimantan Barat, Banten, Jawa Tengah, Sulawesi Tenggara, DK Jakarta, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Barat, Riau, dan Jambi.
BMKG menjelaskan, kondisi itu berkaitan dengan beberapa gangguan atmosfer yang aktif bersamaan. Aktivitas MJO, Gelombang Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan MRG ikut memengaruhi pembentukan awan hujan, ditambah pengaruh Siklon Tropis Hagupit di utara Papua.
Dalam sepekan mendatang, MJO diperkirakan berada pada fase 2 di Samudra Hindia dan berpotensi bergerak ke fase 3. Dampaknya dapat melintasi sebagian besar Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Gelombang Kelvin juga diprediksi aktif di pesisir timur Sumatera, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Kalimantan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua. Sementara itu, Gelombang Rossby Ekuatorial diperkirakan aktif di sebagian NTT, Sulawesi bagian selatan, Maluku, dan pesisir barat Papua.
Wilayah yang masih perlu siaga
Untuk 8–10 Mei 2026, BMKG memperkirakan cuaca Indonesia umumnya didominasi hujan ringan hingga hujan lebat. Namun, potensi hujan sedang hingga lebat tetap perlu diwaspadai di Aceh, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, DK Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.
Pada periode yang sama, status siaga hujan lebat hingga sangat lebat berlaku di Sumatera Utara, Jawa Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua Tengah. Nusa Tenggara Timur serta Maluku juga berpotensi mengalami angin kencang.
Memasuki 11–14 Mei 2026, pola cuaca masih didominasi hujan ringan hingga hujan sedang. Hujan sedang hingga lebat tetap berpeluang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua, dan Papua Selatan.
Untuk periode ini, peringatan siaga hujan lebat hingga sangat lebat hanya berlaku di Papua Tengah dan Papua Pegunungan. BMKG tidak mencatat potensi angin kencang pada rentang waktu tersebut.
Imbauan di tengah cuaca yang berubah-ubah
BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap melindungi diri dari paparan sinar matahari saat cuaca cerah. Tabir surya dan cukup minum menjadi langkah penting, terutama bagi warga yang banyak beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.
Warga juga diminta mewaspadai dampak cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi, gangguan perjalanan, pohon tumbang, baliho roboh, genangan, dan sambaran petir. Saat hujan disertai angin kencang dan petir, masyarakat diminta tidak berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan rapuh, serta terus memantau prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG.
Source: www.bmkg.go.id




