Lonjakan harga minyak dunia kembali menjadi perhatian saat jalur strategis Selat Hormuz terganggu. Bloombergtechnoz melaporkan harga minyak Brent pada hari Selasa naik 2,3 persen hingga menembus di atas US$110 per barel, memunculkan kekhawatiran baru terhadap pasokan energi global dan dampaknya ke dalam negeri.
Situasi itu ikut mendorong aparat keamanan dan pemerintah memperkuat koordinasi lintas sektor. Di Jakarta, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengumpulkan sejumlah pejabat untuk membaca potensi efek rambatan dari eskalasi konflik Timur Tengah terhadap energi, ekonomi, hingga daya beli masyarakat.
Pertemuan tersebut tidak hanya melibatkan unsur kepolisian dan sektor energi. Hadir pula Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Kepala SKK Migas, serta jajaran petinggi Pertamina untuk memberi gambaran langsung mengenai kondisi pasokan dan risiko distribusi di tengah gejolak pasar internasional.
Di luar sektor energi, koordinasi juga merangkul lembaga ekonomi dan otoritas keuangan. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, Dewan Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti, dan Ketua OJK Friderica Widyasari Dewi ikut hadir dalam rapat itu.
Kehadiran kementerian dan lembaga dari banyak bidang memperlihatkan bahwa dampak konflik tidak dibaca sebatas isu minyak dan gas. Pemerintah juga menaruh perhatian pada kemungkinan pengaruhnya terhadap pangan dan tenaga kerja, sehingga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaeman dan Menteri Ketenagakerjaan Yassierli turut masuk dalam forum koordinasi.
Listyo menilai masukan dari para pemangku kebijakan penting untuk menjaga arah kebijakan yang sudah berjalan. Ia menegaskan bahwa koordinasi diperlukan agar capaian yang telah dibangun pemerintah tetap bertahan meski situasi regional masih bergerak dinamis.
Kewaspadaan itu menjadi relevan karena tekanan harga energi biasanya tidak berhenti di pasar komoditas. Saat biaya energi naik, efeknya dapat merambat ke distribusi, harga barang, serta sentimen masyarakat yang merasakan langsung perubahan kondisi ekonomi.
Selat Hormuz sendiri memegang peran besar dalam arus energi dunia karena menjadi jalur penting bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas bumi global. Gangguan di wilayah ini membuat pemerintah dan pelaku industri energi harus lebih cermat membaca risiko pasokan serta kemungkinan tekanan pada harga domestik.
Di tengah kondisi tersebut, ada pula kabar bahwa kapal Mubaraz asal Uni Emirat Arab berhasil melintasi Teluk Persia sambil membawa kargo LNG. Kapal itu terpantau berada di selatan India dan disebut sebagai pengiriman perdana yang berhasil keluar dari kawasan konflik sejak perang pecah.
Pergerakan kapal itu memberi sinyal bahwa arus energi masih berupaya bertahan di tengah ketidakpastian keamanan kawasan. Namun, pemerintah tetap perlu menjaga kesiapan agar gangguan eksternal tidak langsung menekan stabilitas energi dan ekonomi nasional.
Rapat lintas sektoral yang digelar Polri menunjukkan bahwa respons terhadap eskalasi Timur Tengah harus disusun dari banyak sisi sekaligus. Dalam situasi ketika Brent sudah menembus US$110 per barel dan jalur penting seperti Hormuz terganggu, penguatan data, koordinasi antarlembaga, serta kewaspadaan terhadap gejolak sosial menjadi bagian penting dari upaya menjaga stabilitas nasional.





