Hormuz Kembali Jadi Titik Rawan, Trump Sebut Xi Sejalan Tekan Iran dan Redakan Krisis Energi

Ketegangan di Timur Tengah kembali menempatkan Selat Hormuz sebagai titik paling rawan dalam peta energi dunia. Jalur sempit itu bukan sekadar rute pelayaran, melainkan penghubung vital bagi pengiriman minyak dan gas alam cair global, sehingga setiap gangguan langsung memicu kecemasan pasar.

Kekhawatiran itu makin menguat setelah Donald Trump mengklaim Xi Jinping sepakat bahwa Iran harus membuka selat tersebut. Pernyataan itu memunculkan harapan baru di tengah situasi yang masih panas antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, meski belum ada tanda Beijing akan bergerak agresif untuk menekan Teheran.

Peran Selat Hormuz memang terlalu besar untuk diabaikan. Hampir seperlima pasokan energi dunia melewati kawasan itu, sehingga ancaman sekecil apa pun dapat mengganggu aliran pasokan dan mengerek harga.

Reaksi pasar terlihat cepat. Harga minyak sempat melonjak hingga sekitar US$109 per barel, sejalan dengan kekhawatiran bahwa suplai energi internasional bisa tersendat jika jalur itu kembali bermasalah.

Trump menegaskan Washington ingin Iran menghentikan ambisi nuklir sekaligus membuka kembali selat tersebut. Ia bahkan menyatakan, “Kami tidak ingin mereka memiliki senjata nuklir, dan kami ingin Selat Hormuz kembali dibuka.”

Namun, sikap China tampak lebih hati-hati daripada kesan yang muncul dari pernyataan Trump. Kementerian Luar Negeri China hanya menyebut perang itu sebagai konflik yang “tidak seharusnya terjadi dan tidak punya alasan untuk terus berlanjut”.

Pernyataan itu menunjukkan Beijing masih memilih langkah yang terukur. Di satu sisi, China berkepentingan menjaga stabilitas pasokan energi, tetapi di sisi lain belum terlihat mau tampil terang-terangan menekan Iran.

Di saat tekanan internasional meningkat, Iran justru menyiapkan aturan baru untuk lalu lintas kapal di selat itu. Ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, mengatakan hanya kapal dagang dan pihak yang bekerja sama dengan Iran yang akan mendapat akses melalui jalur khusus.

Teheran juga disebut akan memungut biaya tertentu untuk layanan dalam mekanisme tersebut. Langkah itu memperlihatkan Iran belum berniat membuka selat tanpa syarat, terutama selama blokade pelabuhan oleh Amerika Serikat masih berlangsung.

Iran menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka sampai Washington menghentikan blokade. Pada saat yang sama, Trump mengancam akan melancarkan serangan baru jika Iran menolak mencapai kesepakatan baru.

Jalur diplomasi sejauh ini belum berhasil keluar dari kebuntuan. Kedua pihak sama-sama menolak proposal terbaru yang diajukan pekan lalu, sehingga ruang negosiasi masih tertutup rapat.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Iran tetap membuka pintu dialog dan menyambut keterlibatan China dalam pembicaraan damai. Meski begitu, ia menegaskan Iran tidak lagi sepenuhnya percaya kepada Amerika Serikat setelah serangan udara terjadi di tengah proses negosiasi sebelumnya.

Pakistan juga disebut ikut menjadi penghubung dalam komunikasi kedua negara. Media pemerintah Iran melaporkan ada pembahasan intensif mengenai peluang melanjutkan perundingan damai, tetapi hasil nyatanya belum terlihat.

Di sisi politik, krisis ini ikut memberi tekanan pada Trump menjelang pemilu Kongres AS pada November mendatang. Kombinasi kebuntuan diplomasi dan ancaman gangguan energi membuat Washington semakin dituntut mencari jalan keluar yang tidak memperburuk situasi di Timur Tengah.

Sementara itu, Iran memperketat penindakan terhadap pihak yang dianggap bekerja sama dengan Israel maupun Amerika Serikat. Otoritas kehakiman Iran menyebut 39 orang telah dieksekusi sejak perang dimulai, dengan tuduhan spionase, terorisme, dan keterlibatan dalam kerusuhan bersenjata.

Belum ada tanda ketegangan akan mereda dalam waktu dekat. Di tengah manuver politik, diplomasi yang tersendat, dan aturan baru di Hormuz, dunia masih menunggu apakah China benar-benar akan turun tangan lebih jauh atau tetap menjaga jarak.

Source: www.viva.co.id
Exit mobile version