Harga Rp 500 Jutaan dan Otak AI, Xiaomi-Huawei Mengguncang Pasar Mobil Listrik

Persaingan mobil listrik kini tidak lagi hanya soal jarak tempuh atau tenaga, melainkan juga seberapa pintar kendaraan itu bekerja di jalan. Di Auto China 2026 yang berlangsung di Beijing, Xiaomi dan Huawei tampil sebagai dua nama teknologi yang semakin serius menekan industri otomotif dengan pendekatan yang menggabungkan harga kompetitif, AI, dan kabin digital.

Pameran ini membawa tema “Lead the Era, Intelligent Future” dan menampilkan lebih dari 1.400 kendaraan. Dari jumlah itu, ada 181 debut global dan 71 mobil konsep, yang menegaskan bahwa arah industri bergerak cepat ke integrasi AI sebagai bagian inti kendaraan.

Xiaomi masuk lewat SU7 2026

Sorotan besar datang dari Xiaomi yang membawa SU7 2026 dalam tiga varian. Kehadiran model ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya menargetkan citra futuristis, tetapi juga mencoba menyentuh beberapa lapisan konsumen sekaligus.

Varian standar SU7 dipasarkan sekitar Rp 500,3 juta. Mobil ini menawarkan tenaga 235 kW dan jarak tempuh 720 km, sehingga langsung menarik perhatian di kelas harga yang selama ini dianggap belum terlalu ramah untuk mobil listrik berfitur tinggi.

Di atasnya ada varian Pro dengan harga Rp 568,6 juta. Varian ini punya jarak tempuh hingga 902 km, yang menjadi salah satu angka paling menonjol di lini SU7.

Untuk konsumen yang mengincar performa lebih besar, Xiaomi menyiapkan SU7 Max. Varian tertinggi ini membawa tenaga 508 kW atau setara 680 hp, jarak tempuh 835 km, dan harga sekitar Rp 691,4 juta.

Teknologi khas perangkat pintar ikut dibawa ke mobil

Daya tarik SU7 tidak berhenti pada angka tenaga dan jarak tempuh. Xiaomi membekali mobil ini dengan LiDAR, radar 4D, dan platform komputasi Nvidia Thor-U untuk memperkuat kemampuan digitalnya.

Mobil ini juga memakai Dragon Chassis untuk mendukung stabilitas berkendara. Di bagian kabin, Xiaomi menggunakan material premium agar mobil terasa lebih mewah dan tetap sejalan dengan citra produk teknologi konsumen.

Sisi keselamatan ikut mendapat perhatian. SU7 hadir dengan baja ultra-kuat dan sembilan airbag, sehingga pendekatan pintar tetap berjalan bersama perlindungan penumpang.

Huawei menempuh jalur kolaborasi

Berbeda dari Xiaomi, Huawei bergerak lewat kemitraan dengan produsen otomotif. Salah satu hasilnya adalah Aito M6 2026 bersama Seres, yang dipasarkan mulai Rp 590 jutaan.

Model ini tersedia dalam versi REEV dengan jarak tempuh hingga 760 km. Ada juga versi BEV bagi konsumen yang menginginkan mobil listrik penuh.

Kekuatan utama Huawei ada pada integrasi perangkat lunak dan ekosistem digital. Aito M6 membawa teknologi Smart Driving dan Smart Cabin berbasis HarmonyOS, sehingga pengalaman berkendara terasa lebih dekat dengan cara kerja perangkat pintar.

Huawei juga memperluas pengaruhnya lewat kerja sama dengan Chery. Dari kolaborasi itu lahir lini Luxeed Series untuk pasar kendaraan listrik pintar.

Lini Luxeed ikut menambah tekanan ke pasar

Luxeed S7 dipasarkan mulai Rp 590 juta, sedangkan Luxeed R7 berada di kisaran Rp 639 juta. Kedua model ini memperlihatkan bagaimana Huawei mendorong kendaraan pintar lewat jaringan mitra otomotif, bukan lewat satu merek tunggal.

Ada juga Luxeed V9, MPV yang diklaim mampu menempuh hingga 1.250 km dalam sekali isi daya. Kehadiran model ini membuat portofolio Huawei tampak semakin luas, dari sedan hingga MPV.

Dampaknya terasa keluar dari pasar Tiongkok

Munculnya Xiaomi dan Huawei di panggung besar Auto China 2026 memberi sinyal bahwa posisi produsen teknologi di industri mobil listrik semakin kuat. Mereka kini tidak hanya bermain di sisi komponen atau perangkat lunak, tetapi mulai menantang pemain besar seperti Tesla dan merek Barat.

Perubahan itu juga mulai terlihat di luar Tiongkok. Pangsa pasar mobil listrik Tiongkok di Eropa sudah mencapai 14 persen dan diprediksi naik menjadi 25 persen dalam empat hingga lima tahun ke depan.

Bagi Asia Tenggara, termasuk Indonesia, kondisi ini juga relevan. Sejumlah merek Tiongkok seperti BYD, Chery, dan Geely sudah aktif di Tanah Air, sehingga peluang masuknya gelombang baru mobil listrik berbasis AI makin terbuka di pasar regional.

Baca Juga

Back to top button