Xiaomi YU7 GT langsung menarik perhatian bukan hanya karena tenaga besarnya, tetapi juga karena posisinya yang sengaja dibuat sangat jauh dari YU7 biasa. Selisih harga antara keduanya mencapai 156.400 yuan, karena YU7 GT dibuka mulai 389.900 yuan sementara YU7 standar dipasarkan pada 233.500 yuan.
Perbedaan itu menunjukkan arah yang sangat jelas: YU7 GT tidak ditujukan sebagai varian tambahan yang sekadar lebih kencang, melainkan sebagai produk premium untuk pembeli yang mencari performa ekstrem. Di saat YU7 standar diarahkan untuk bersaing dengan Tesla Model Y, YU7 GT justru masuk ke kelas yang jauh lebih eksklusif.
Tenaga yang mendekati wilayah supercar
Di balik banderol tersebut, YU7 GT membawa dual-motor dengan output gabungan 738 kilowatt. Angka itu setara 990 horsepower atau 1003 Ps, dan sumber tenaganya berasal dari HyperEngine V8s EVO generasi terbaru milik Xiaomi.
Klaim performanya juga tidak main-main. SUV listrik ini disebut mampu melesat dari 0 ke 100 km/jam dalam 2,92 detik, dengan kecepatan puncak 300 km/jam dan jarak tempuh 705 kilometer.
Rekor Nürburgring ikut dipakai sebagai kartu utama
Xiaomi juga mengaitkan YU7 GT dengan pencapaian di Nürburgring Nordschleife, Jerman. Perusahaan menyebut mobil ini menyelesaikan lintasan dalam 7 menit 22,755 detik.
Catatan tersebut lebih cepat dibanding angka 7 menit 34,931 detik yang diumumkan Xiaomi dua hari sebelumnya. Dengan hasil itu, YU7 GT diklaim sebagai SUV produksi tercepat dalam sejarah Nürburgring.
Dimensi dibuat lebih padat dan lebih agresif
Secara fisik, YU7 GT memiliki panjang 5.015 mm, lebar 2.007 mm, dan tinggi 1.597 mm. Jarak sumbu rodanya tetap 3.000 mm, sama seperti YU7 standar.
Dibanding versi biasa, model GT sedikit lebih panjang dan lebih lebar, tetapi sedikit lebih rendah. Proporsi ini memberi kesan bodi yang lebih padat dan lebih siap menjaga stabilitas saat mobil dipacu dalam kecepatan tinggi.
Detail eksterior dan sasis ikut disesuaikan
Xiaomi juga mengubah tampilan luarnya agar sejalan dengan karakter performanya. Bagian depan dibuat lebih tegas, sementara bagian belakang mendapat spoiler besar berbahan serat karbon.
Pembeli bahkan bisa memilih emblem serat karbon berlapis emas 24K. Sentuhan ini memperkuat kesan bahwa YU7 GT dibangun bukan hanya untuk cepat, tetapi juga untuk tampil mencolok.
Di sisi pengendalian, Xiaomi memasang Xiaomi Jiaolong Chassis Master Edition. Sistem itu dipadukan dengan dual-valve CDC shock absorbers dan closed dual-chamber air springs untuk membantu kestabilan serta respons mobil saat digunakan lebih agresif.
Arah strateginya makin jelas
Lei Jun, pendiri sekaligus chairman dan CEO Xiaomi, menyebut YU7 GT dirancang khusus untuk modern elites. Pernyataan itu selaras dengan penempatan harga dan karakter mobil yang memang diarahkan ke segmen premium.
Kehadiran YU7 GT juga melengkapi strategi dua jalur Xiaomi di pasar SUV listrik. Di satu sisi ada YU7 standar sebagai opsi yang lebih terjangkau, sementara di sisi lain ada YU7 GT yang dibentuk sebagai model berprestise tinggi dengan klaim performa ekstrem.
Pada April, perusahaan berbasis Beijing itu mengirim 36.702 unit, naik 28,40% secara tahunan dan 71,18% dibanding Maret. Dalam konteks itu, YU7 GT menjadi penegasan bahwa Xiaomi tidak hanya mengejar volume penjualan, tetapi juga ingin menancapkan nama di wilayah performa tertinggi.
Source: cnevpost.com