Pasar chip memori sedang berada dalam tekanan yang belum akan cepat reda, dan dampaknya mulai terasa di perangkat yang dipakai sehari-hari. Lonjakan kebutuhan dari sektor kecerdasan buatan membuat produsen besar mengalihkan perhatian ke produk yang paling diburu saat ini, sehingga pasokan untuk smartphone, laptop, dan komputer pribadi ikut menyempit.
Situasi tersebut membuat konsumen belum bisa berharap banyak pada perbaikan cepat. Sejumlah laporan pasar menunjukkan kondisi baru berpeluang lebih stabil pada 2028, sementara harga perangkat elektronik berisiko tetap tertekan lebih lama karena stok memori tidak secepat itu mengejar permintaan.
AI menyedot pasokan memori
Chip memori kini diburu oleh banyak sektor sekaligus, mulai dari ponsel, PC, pusat data AI, otomotif, hingga peralatan industri. Di tengah persaingan itu, kebutuhan dari AI menjadi faktor yang paling kuat menggeser prioritas industri.
Samsung, SK Hynix, dan Micron masih memegang posisi dominan di pasar DRAM global. Ketiganya menguasai sekitar 90 persen pasar DRAM dunia dan sama-sama fokus pada high-bandwidth memory atau HBM, jenis memori yang sangat penting untuk semikonduktor AI.
Peralihan fokus ini membuat produksi memori serbaguna yang biasa dipakai pada perangkat konsumen ikut tertekan. Akibatnya, stok untuk barang elektronik harian menyusut dan harga komponen bergerak naik.
Produksi belum seimbang dengan kebutuhan
Nikkei Asia melaporkan bahwa meski ekspansi sudah direncanakan, tiga pemasok utama itu diperkirakan hanya mampu memenuhi sekitar 60 persen permintaan DRAM. Selisih antara kebutuhan pasar dan kemampuan produksi inilah yang membuat kelangkaan belum menunjukkan tanda akan segera selesai.
Tekanan pasokan juga merembet ke harga perangkat. Saat komponen inti makin mahal, produsen perangkat mau tidak mau menghadapi biaya produksi yang lebih berat.
IDC memperkirakan penjualan smartphone bisa turun 13 persen pada 2026 seiring kenaikan biaya memori. Kondisi ini bisa mendorong sebagian konsumen menunda pembelian atau memilih perangkat yang lebih murah.
Ponsel murah paling rentan
Beban paling terasa diperkirakan muncul di segmen smartphone kelas bawah. Pada pertengahan 2026, porsi biaya memori dalam biaya produksi ponsel murah disebut bisa mendekati 40 persen.
Jika proporsi biaya setinggi itu benar terjadi, ruang produsen untuk menjaga harga jual akan semakin sempit. Dalam situasi seperti ini, volume produksi juga bisa ikut ditekan karena produsen harus menghitung ulang margin dan model penjualan.
Dampak serupa juga dapat dirasakan pada laptop dan PC. Saat pasokan chip memori tetap ketat, harga jual perangkat konsumen berpotensi sulit turun dalam waktu dekat.
Ekspansi pabrik masih butuh waktu
Sejumlah perusahaan memang tengah menambah kapasitas, tetapi hasilnya tidak akan langsung terasa di pasar. Samsung berencana mengoperasikan fasilitas fabrikasi baru di kampus Pyeongtaek pada 2026, namun produksi skala penuhnya disebut baru berjalan pada 2027 atau setelahnya.
Tambahan kapasitas dari fasilitas itu juga tidak sepenuhnya akan masuk ke memori. Sebagian akan dipakai untuk chip logika, termasuk prosesor smartphone, sehingga ruang untuk menambah output memori tetap terbatas.
SK Hynix juga sudah menambah kapasitas lewat pabrik HBM di Cheongju yang mulai beroperasi. Di antara para pemain besar, langkah ini menjadi salah satu tambahan produksi yang paling nyata untuk periode 2026.
Perusahaan tersebut juga mempercepat pembangunan fasilitas lain di Yongin, yang diperkirakan selesai pada awal 2027. Namun, tambahan output dari proyek itu tetap memerlukan waktu sebelum benar-benar memengaruhi pasar secara luas.
Micron mengambil arah yang serupa. Perusahaan itu berencana memulai produksi HBM di Idaho dan Singapura pada 2027, lalu membangun pabrik di Hiroshima pada Mei dengan target produksi massal pada 2028.
Tekanan pasokan belum hanya soal permintaan
Masalah chip memori tidak semata disebabkan oleh lonjakan kebutuhan AI. Nikkei Asia juga mencatat bahwa gejolak di Timur Tengah ikut menambah tekanan pada rantai pasok chip.
Serangan AS ke Iran disebut mendorong kenaikan biaya listrik dan bahan baku. Kondisi ini menambah ketidakpastian dalam proyeksi produksi yang sejak awal sudah berada di bawah tekanan besar.
Ketua SK Group, Chey Tae-won, bahkan menyebut kendala pasokan memori AI bisa berlangsung hingga 2030. Ia menyinggung kekurangan wafer dan berbagai hambatan produksi lain sebagai faktor yang memperlambat pemulihan.
Counterpoint Research memperkirakan kekurangan memori baru bisa teratasi jika produksi tumbuh 12 persen per tahun hingga 2027. Namun, rencana yang ada saat ini hanya mengarah pada ekspansi sekitar 7,5 persen, sehingga pasar belum terlihat akan segera seimbang.
Selama kapasitas baru belum benar-benar masuk ke produksi massal, konsumen masih harus menghadapi harga perangkat yang dipengaruhi biaya memori. Di sisi lain, arah industri chip yang makin condong ke AI membuat ruang pasokan untuk produk elektronik konsumen tetap terbatas.
Source: www.indiatoday.in