Harga Masih Jadi Kunci, Pembeli Smartphone Kini Lebih Memilih AI dan Pengalaman Nyata

Perhitungan konsumen smartphone kini tidak lagi berhenti pada lembar spesifikasi. Banyak pembeli mulai menilai apakah sebuah ponsel benar-benar membantu aktivitas harian, dari kerja, hiburan, sampai komunikasi, sebelum memutuskan membeli.

Perubahan cara memilih itu terlihat dalam Smartphone Insights Report 2026 yang dirilis Flipkart bersama Counterpoint Research. Laporan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman nyata, dukungan AI, performa, dan nilai jangka panjang kini lebih sering menjadi dasar pertimbangan dibanding sekadar angka di atas kertas.

AI makin dianggap kebutuhan, bukan bonus

Salah satu temuan paling kuat dari laporan itu adalah tingginya minat terhadap fitur kecerdasan buatan. Sebanyak 89 persen pengguna disebut mempertimbangkan AI saat memilih smartphone, angka yang menunjukkan bahwa teknologi ini sudah masuk ke daftar kebutuhan utama.

Pemanfaatannya juga tidak lagi terbatas pada satu fungsi. AI dipakai untuk membantu pembuatan konten, pencarian informasi, dan berbagai tugas rutin yang memudahkan aktivitas sehari-hari.

Pola penggunaan ini tidak sama di semua kelompok. Pengguna muda cenderung lebih sering memakai AI untuk hiburan, sedangkan kelompok lain lebih banyak mengarahkannya ke produktivitas dan perencanaan.

Arah pengembangan AI di smartphone pun ikut bergeser. Fokusnya tidak lagi berdiri sebagai fitur terpisah, melainkan hadir lebih menyatu di level sistem dengan dukungan teks, suara, gambar, hingga video.

Performa, kamera, dan baterai tetap jadi syarat dasar

Meski AI semakin menonjol, konsumen tidak meninggalkan kebutuhan utama lain. Performa, kamera, dan daya tahan baterai tetap dipandang sebagai standar minimum yang harus dipenuhi sebuah smartphone.

Dalam laporan itu, 45 persen pengguna rela membayar lebih demi performa yang lebih baik. Di sisi lain, 57 persen menaruh perhatian lebih besar pada peningkatan kamera, menunjukkan bahwa manfaat yang terasa langsung masih jauh lebih penting daripada sekadar pembaruan teknis kecil.

Artinya, pembeli tidak mudah tertarik pada fitur baru jika efeknya tidak benar-benar membantu pemakaian harian. Ponsel yang hanya menawarkan perubahan kecil pada perangkat keras tanpa dampak nyata cenderung kurang menarik.

Harga tetap menjadi pusat keputusan

Di tengah meningkatnya perhatian pada AI dan performa, harga masih memegang peran paling besar. Sebanyak 60 persen pengguna menempatkan harga dan nilai untuk uang sebagai pertimbangan terpenting saat membeli smartphone.

Temuan itu menegaskan bahwa konsumen tetap sangat peka terhadap keseimbangan antara manfaat dan biaya. Perangkat yang menawarkan fitur lebih luas dengan harga yang masuk akal punya peluang lebih besar untuk dipilih.

Kepercayaan terhadap merek juga masih ikut memengaruhi keputusan. Laporan tersebut mencatat 57 persen pembeli dipengaruhi brand trust, sementara 56 persen lainnya mengandalkan ulasan online sebelum menentukan pilihan.

Kombinasi harga, reputasi merek, dan masukan dari pengguna lain membuat proses membeli smartphone semakin terukur. Konsumen cenderung membandingkan semuanya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan akhir.

Skema cicilan membuka akses ke kelas yang lebih tinggi

Menariknya, keterjangkauan tidak selalu berarti pembeli memburu model paling murah. Sebagian konsumen justru memanfaatkan skema pembiayaan untuk mendapatkan ponsel dengan spesifikasi yang lebih tinggi.

Laporan itu menyebut 43 persen pengguna memilih opsi EMI agar bisa membeli smartphone yang lebih mumpuni. Data ini memperlihatkan bahwa minat terhadap perangkat premium masih ada, tetapi tetap harus sesuai dengan kemampuan bayar.

Pola tersebut menunjukkan pembelian yang semakin terencana. Konsumen tidak hanya mencari harga terendah, melainkan titik temu antara kebutuhan, fitur, dan cara pembayaran yang paling masuk akal.

Perangkat dipakai lebih lama, desain ikut masuk perhitungan

Kebiasaan mengganti ponsel juga berubah. Pengguna kini menahan perangkat lebih lama, dengan siklus penggantian yang memanjang menjadi sekitar empat tahun dari sebelumnya sekitar 3,5 tahun.

Laporan itu mengaitkan perubahan ini dengan kenaikan harga dan perangkat yang semakin tahan lama. Karena masa pakai lebih panjang, pembeli menjadi lebih hati-hati dan selektif sebelum membeli smartphone baru.

Di luar fungsi dan harga, tampilan fisik ternyata masih punya daya tarik tersendiri. Sebanyak 64 persen pengguna disebut lebih menyukai perangkat berwarna, dan sebagian pembeli bahkan bersedia membayar lebih untuk finishing serta material tertentu.

Ini menunjukkan bahwa desain tidak lagi dipandang sebagai unsur tambahan semata. Bagi banyak konsumen, tampilan dan rasa premium ikut menjadi bagian dari nilai sebuah produk saat memilih smartphone.

Gambaran pasar dari laporan Flipkart dan Counterpoint Research memperlihatkan pembeli yang semakin cermat menimbang AI, performa, kamera, harga, dan desain dalam satu keputusan. Smartphone yang paling menarik bukan lagi yang paling ramai spesifikasi, melainkan yang paling masuk akal untuk dipakai dalam kehidupan sehari-hari.

Source: www.gadgets360.com
Exit mobile version