Persaingan kamera full-frame mirrorless di Jepang kembali menunjukkan bahwa model yang lebih lama belum tentu kalah. Di Yodobashi, Sony A7C II yang sudah berusia tiga tahun justru kembali memimpin daftar penjualan paruh kedua April, menggeser Sony A7 V yang sebelumnya sempat terlihat seperti penguasa baru.
Perubahan posisi ini juga menegaskan betapa dinamisnya pasar ritel kamera di Jepang. Di satu sisi, A7 V sempat memegang posisi puncak selama enam pekan berturut-turut, tetapi di sisi lain A7C II sudah lama punya reputasi kuat sebagai kamera yang sering muncul di jajaran terlaris sepanjang 2025.
Paket yang bernilai masih jadi daya tarik
Keunggulan A7C II tidak hanya soal nama besar Sony. Kamera ini membawa sensor full-frame Exmor R 33MP, autofocus deteksi subjek berbasis AI, stabilisasi in-body 7-stop, perekaman video 4K 60p 10-bit 4:2:2, dan performa low-light yang kuat.
Seluruh kemampuan itu dikemas dalam bodi ringkas dengan bobot 514 gram. Kombinasi ini membuatnya tetap menarik bagi pembeli yang mencari kamera serba bisa tanpa harus membawa bodi yang lebih besar.
Harga ikut mengubah arah pembelian
Di pasar Jepang, selisih harga menjadi faktor yang sulit diabaikan. A7C II dipasarkan seharga $2,498 / £1,999, sedangkan Sony A7 V berada di $2,898 / £2,799.
Perbedaan tersebut membuat A7C II terlihat lebih bernilai bagi sebagian pembeli. Apalagi kamera ini sudah menawarkan AF canggih, kualitas gambar tinggi, dan kemampuan video yang solid, sehingga banyak pengguna belum merasa perlu naik ke model yang lebih baru.
Daftar 10 besar memperlihatkan persaingan ketat
Data Yodobashi juga menunjukkan bahwa persaingan di segmen mirrorless masih sangat rapat. Sony, Canon, Fujifilm, Nikon, dan Hasselblad sama-sama masuk ke daftar 10 kamera terlaris.
Urutannya adalah Sony A7C II + FE 28+60mm f/4-5.6, Sony A7 V, Hasselblad X2D II 100C, Canon EOS R10 + RF-S 18-150mm f/3.5-6.3 IS STM, Fujifilm X-T30 III + XC13-13mm, Canon EOS R50 + RF-S 18-45mm f/4.5-6.3 IS STM + RF-S 55-210mm f/5-7.1 IS STM, Fujifilm X-M5 + XC15-45mmF3.5-5.6 OIS PZ, Canon EOS R6 Mark III, Nikon Z8, dan Canon EOS R5 Mark II.
Komposisi itu menunjukkan bahwa pembeli tidak hanya mengejar spesifikasi tinggi. Banyak dari mereka juga mempertimbangkan paket lensa dan nilai yang terasa paling menarik di etalase toko.
Paket bundel dan stok bisa menggeser peringkat
Posisi A7C II di Yodobashi juga terbantu oleh bundel lensa, promosi cashback, dan penawaran yang berubah-ubah. Faktor-faktor seperti ini kerap memberi keuntungan pada model yang sudah mapan dan punya minat pembeli yang stabil.
Selain itu, pergerakan stok juga ikut memengaruhi urutan penjualan. BCN mencatat bahwa meningkatnya permintaan internasional terhadap model Sony yang lebih baru dapat berdampak pada ketersediaan stok A7 V, sehingga posisi di chart Jepang bisa berubah dengan cepat.
Kembalinya A7C II ke puncak menegaskan bahwa pasar kamera Jepang masih memberi ruang besar bagi model yang sudah terbukti laku. Untuk saat ini, kamera yang lebih lama itu kembali unggul, sementara A7 V harus menunggu kesempatan berikutnya untuk merebut kembali posisi No.1.