Harga Daihatsu Masih Dipertahankan, Tekanan Rupiah Kini Menguji Komponen Impor

Keputusan Daihatsu untuk menahan harga di tengah pelemahan rupiah memberi sinyal bahwa perusahaan masih memilih ruang manuver di sisi internal ketimbang membebankan tekanan biaya ke konsumen. Di saat kurs dolar AS masih menekan, fokus utama pabrikan ini justru bergeser pada pembenahan struktur komponen yang belum sepenuhnya lokal.

Sri Agung Handayani, Marketing Director dan Corporate Communication Director PT Astra Daihatsu Motor, menegaskan bahwa belum ada kenaikan harga pada produk Daihatsu. Ia menyampaikan hal itu seusai konferensi pers di Daihatsu ABC BSD, sekaligus menepis anggapan bahwa pelemahan rupiah akan langsung diikuti penyesuaian harga jual.

Lokalisasi jadi penyangga utama

Di internal perusahaan, penyesuaian yang ditempuh bukan diarahkan ke harga, melainkan ke strategi lokalisasi komponen. Agung menjelaskan bahwa tingkat lokalisasi di ADM sudah berada di atas 80 persen, sehingga sebagian besar kebutuhan produksi sudah tidak bergantung penuh pada impor.

Meski begitu, masih ada beberapa komponen yang tetap didatangkan dari luar negeri. Bagian inilah yang menjadi perhatian karena pelemahan rupiah dapat berdampak pada biaya produksi bila komponen impor tersebut belum bisa segera digantikan.

Daihatsu pun masih mencari cara untuk memperkuat pengembangan lokalisasi pada komponen-komponen itu. Langkah tersebut dinilai penting agar gejolak nilai tukar tidak langsung diteruskan ke harga yang dibayar konsumen.

Daya saing dan tekanan biaya

Sikap menahan harga juga menunjukkan upaya Daihatsu menjaga daya saing di pasar otomotif. Di tengah biaya yang berpotensi tertekan akibat kurs, perusahaan memilih mempertahankan stabilitas harga sambil membenahi sisi produksi.

Pendekatan ini sejalan dengan pentingnya lokalisasi dalam industri otomotif nasional. Semakin besar porsi komponen lokal, semakin kecil ketergantungan pada pasokan impor yang mudah terdampak perubahan nilai tukar.

Posisi pasar masih terjaga

Di saat menghadapi tekanan kurs dan tantangan biaya, Daihatsu tetap berada di posisi kuat dalam penjualan ritel nasional. Merek ini masih menjadi merek dengan penjualan ritel tertinggi kedua di Indonesia.

Hingga April 2026, Daihatsu mencatat penjualan ritel 46.953 unit. Capaian itu setara dengan pangsa pasar 16,3 persen dan menunjukkan basis konsumen Daihatsu masih solid di tengah kondisi ekonomi yang bergerak dinamis.

Bagi pembeli, kondisi ini memberi kepastian sementara bahwa harga Daihatsu belum berubah. Namun, arah kebijakan berikutnya tetap akan sangat bergantung pada perkembangan kurs dan keberhasilan perusahaan memperkuat lokalisasi komponen impor.

Source: www.bincangbincangmobil.com
Exit mobile version