Harga Baterai Turun Tajam, Jaringan Listrik Dunia Makin Bergeser dari Batu Bara dan Gas

Di banyak jaringan listrik, baterai skala besar kini mulai mengambil peran yang dulu lebih sering dipegang batu bara dan gas. Perubahan ini didorong oleh biaya yang terus turun, kebutuhan listrik yang makin besar, serta tuntutan sistem kelistrikan yang lebih fleksibel dan tahan gangguan.

Pergeseran tersebut tidak terjadi di satu wilayah saja. Proyek penyimpanan energi muncul di pusat tenaga surya Texas, kawasan Mongolia Dalam, hingga lokasi bekas pembangkit batu bara di Sydney, yang menandakan bahwa baterai sudah masuk ke arus utama transisi energi global.

Dorongan utama datang dari kebutuhan jaringan yang lebih lincah

Salah satu alasan baterai makin diminati adalah kecepatannya dalam membantu sistem listrik merespons lonjakan permintaan. Teknologi ini bisa dipasang lebih cepat dibanding pembangunan pembangkit baru, sehingga menjadi pilihan praktis untuk menutup kekurangan pasokan pada jam beban puncak.

BloombergNEF memperkirakan instalasi baterai skala besar akan melonjak sekitar sepertiga pada 2026. Pertumbuhan itu disebut akan dipimpin Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin, seiring masih adanya ketidakpastian pasokan energi global.

Brent Wanner, kepala unit sektor tenaga listrik di Badan Energi Internasional, menilai baterai termasuk salah satu investasi paling menarik dalam sistem tenaga listrik. Ia juga menegaskan bahwa sistem penyimpanan baterai akan terus berkembang di masa mendatang.

Harga yang turun tajam ikut mengubah arah pasar

Penurunan biaya menjadi faktor besar di balik adopsi baterai skala jaringan. Data yang tersedia menunjukkan biaya rata-rata baterai telah turun sekitar 75% dari 2018 hingga 2025, dan masih diperkirakan turun lagi 25% pada 2035.

Kondisi itu membuat BESS atau battery energy storage system semakin kompetitif untuk mendukung jaringan listrik. Saat produksi energi terbarukan naik, kebutuhan penyimpanan juga ikut bertambah agar pasokan tetap seimbang tanpa harus bergantung penuh pada pembangkit berbahan bakar fosil.

Situasi geopolitik juga ikut memberi dorongan. Ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah membuat banyak negara dan pelaku industri mencari pasokan listrik yang lebih tahan terhadap gangguan dan harga bahan bakar yang mahal.

China tetap menjadi pusat penting rantai pasok

Di balik pertumbuhan baterai skala besar, China memegang posisi yang sangat kuat. Negara itu menyumbang sebagian besar kapasitas manufaktur global dan sekitar setengah dari instalasi baterai skala jaringan yang ada saat ini.

Dominasi tersebut muncul dari investasi besar pada rantai pasokan kendaraan listrik. Kelebihan pasokan dari sektor itu ikut menekan harga pasar global dan mempercepat penggunaan teknologi penyimpanan energi di banyak negara.

Pola ini mirip dengan lonjakan industri surya setelah 2021, ketika harga yang turun tajam membuat penggunaan panel surya meluas. Dalam kasus baterai, harga yang makin murah membuka ruang bagi utilitas, industri, dan pusat data untuk mengandalkan penyimpanan energi dalam skala yang lebih besar.

Fungsi baterai bergeser dari pelengkap menjadi penopang sistem

Peran baterai kini tidak lagi sebatas mendampingi energi bersih. Jeff Monday, kepala bagian pertumbuhan di Fluence Energy, menilai persepsi pasar terhadap baterai telah bergeser menjadi alat untuk menjaga stabilitas jaringan.

Contoh pergeseran itu terlihat di Australia melalui proyek Waratah Super Battery di New South Wales. Proyek ini menunjukkan baterai mampu melepaskan daya lebih besar ke jaringan utama pada malam hari dibandingkan pembangkit listrik berbahan bakar gas.

Di Amerika Serikat, pusat data juga mulai memakai kombinasi tenaga surya dan baterai karena pembangunan pembangkit tradisional menghadapi keterbatasan. Baterai diperkirakan menyumbang lebih dari seperempat kapasitas pembangkit listrik baru di AS pada 2026.

Teknologi baru ikut memperluas fungsi penyimpanan

Selain baterai ion litium, industri juga mulai mengembangkan penyimpanan jangka panjang yang bisa bertahan hingga hitungan hari. Salah satu contohnya adalah baterai berbahan dasar besi dari Form Energy yang diklaim mampu melepaskan energi hingga 100 jam.

Kehadiran teknologi ini memperluas fungsi penyimpanan energi untuk kebutuhan cadangan yang lebih lama dibanding baterai konvensional. Di tengah pertumbuhan permintaan, industri masih menghadapi tantangan seperti ketergantungan pada rantai pasok tertentu dan hambatan perizinan, namun arah pasar tetap menunjukkan baterai skala besar makin kuat posisinya dalam sistem listrik dunia.

Baca Juga

Back to top button