Laporan rukyatul hilal dari Jawa Timur langsung mendapat perhatian karena hanya satu dari 13 titik pemantauan yang berhasil melihat hilal Dzulhijjah 1447 Hijriah. Titik itu berada di Pantai Sunan Drajat/Tanjung Kodok Paciran, Lamongan, sehingga daerah tersebut menjadi satu-satunya lokasi yang mencatat hasil positif.
Temuan itu muncul saat pemantauan hilal dilakukan pada Minggu (17/5/2026). Hasil dari seluruh titik di Jawa Timur kemudian disiapkan sebagai data rukyat daerah untuk diteruskan ke pemerintah pusat.
Lamongan jadi titik pembeda
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur, Akhmad Sruji Bahtiar, menyampaikan bahwa lokasi yang berhasil melihat hilal berada di Pantai Sunan Drajat/Tanjung Kodok Paciran, Kabupaten Lamongan. Ia menegaskan hasil tersebut masuk sebagai data resmi rukyat daerah untuk dilaporkan ke pusat.
Kondisi ini membuat Lamongan menonjol di tengah pemantauan yang secara umum tidak membuahkan hasil serupa. Dari total 13 titik rukyatul hilal di Jawa Timur, hanya satu lokasi yang berhasil, sementara 12 titik lainnya melaporkan hilal tidak terlihat.
Banyak titik terhalang cuaca mendung
Sebagian besar lokasi pemantauan menghadapi langit yang tertutup mendung. Kondisi itu disebut menjadi hambatan utama sehingga peluang melihat hilal di banyak daerah tidak optimal.
Titik-titik yang tidak berhasil melihat hilal tersebar di Madiun, Gresik, Mojokerto, Pamekasan, Bondowoso, Banyuwangi, Sampang, Blitar, Sumenep, Ponorogo, Tuban, dan Jombang. Dengan sebaran lokasi yang cukup luas, hasil dari Lamongan menjadi satu-satunya catatan positif di tengah dominasi laporan hilal tidak terlihat.
Menjadi bahan sidang isbat nasional
Data rukyat dari Jawa Timur tidak berhenti di tingkat daerah. Hasil itu akan dibawa sebagai bahan pertimbangan dalam sidang isbat penetapan awal Dzulhijjah 1447 Hijriah oleh Kementerian Agama RI.
Proses tersebut menjadi penentu resmi awal bulan Dzulhijjah bagi umat Islam di Indonesia. Karena itu, laporan dari Lamongan memiliki bobot penting dalam rangkaian penetapan kalender hijriah nasional.
Peluang Iduladha serentak makin terbuka
Hasil rukyat dari Kemenag Jawa Timur juga disebut memperkuat prediksi bahwa Hari Raya Iduladha tahun ini berpeluang berlangsung serentak tanpa perbedaan penetapan. Sinyal itu muncul setelah ada laporan hilal terlihat dari salah satu titik pengamatan di Lamongan.
Sebelumnya, Muhammadiyah telah menetapkan Iduladha 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026. Penetapan itu didasarkan pada metode hisab wujudul hilal dan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT).
Dengan adanya satu laporan positif dari Jawa Timur, penetapan awal Dzulhijjah masih menunggu pembahasan lebih lanjut dalam sidang isbat. Keputusan akhirnya akan menjadi acuan resmi bagi umat Islam di Indonesia dalam menyambut Dzulhijjah dan Iduladha 1447 Hijriah.
Source: kilasjatim.com




