Hanya 25 Mikrodetik, Jiuzhang 4.0 Membuka Jarak Baru dari Superkomputer Konvensional

Lonjakan Jiuzhang 4.0 bukan cuma soal angka 25 mikrodetik. Yang lebih menarik, prototipe komputer kuantum asal China ini menunjukkan betapa jauhnya pendekatan kuantum dari cara kerja superkomputer konvensional.

Perbandingan dengan El Capitan dari Amerika Serikat membuat selisih itu terasa ekstrem. Untuk tugas yang sama, superkomputer tersebut diperkirakan membutuhkan waktu lebih dari 10 pangkat 42 tahun, sehingga jarak performanya nyaris sulit dibayangkan dalam ukuran waktu manusia.

Perbedaan besar ini muncul karena prinsip dasarnya memang tidak sama. Komputer biasa memakai bit yang hanya bernilai 0 atau 1, sedangkan sistem kuantum memakai qubit yang dapat berada dalam dua kondisi sekaligus.

Sifat itu membuat komputer kuantum mampu memproses jutaan kemungkinan secara paralel. Karena itulah Jiuzhang 4.0 lebih relevan untuk perhitungan yang sangat kompleks, simulasi ilmiah, dan penelitian sistem kuantum.

Pendekatan fotonik dan tantangannya

Jiuzhang 4.0 menggunakan pendekatan fotonik dengan memanfaatkan foton atau partikel cahaya untuk mengolah informasi. Pendekatan ini memberi kecepatan tinggi, tetapi juga membawa masalah besar karena foton mudah hilang ketika sistem makin rumit.

Untuk mengatasi hambatan itu, tim peneliti China merancang sumber cahaya baru dan sistem interferometer hibrida ruang-waktu. Kombinasi tersebut membantu menjaga stabilitas foton tanpa membuat perangkat menjadi terlalu besar dan rumit.

Hasilnya terlihat pada skala sistem yang lebih besar. Jiuzhang 4.0 mampu menangani 3.050 foton, naik jauh dari Jiuzhang 3.0 yang pada 2023 hanya mencapai 255 foton.

Efisiensi sumber cahaya pada sistem baru ini juga mencapai 92 persen. Sementara itu, efisiensi keseluruhan sistem berada di angka 51 persen, yang menunjukkan kemajuan menuju komputer kuantum yang lebih stabil dan minim kesalahan.

Langkah China dalam persaingan kuantum

Capaian Jiuzhang 4.0 juga menegaskan arah besar pengembangan teknologi China. Komputasi kuantum kini masuk dalam strategi nasional jangka panjang pemerintah China untuk periode 2026 hingga 2030.

Jejaknya sudah terlihat sejak 2020, ketika China memperkenalkan prototipe Jiuzhang pertama dengan 76 foton. Saat itu, China menjadi negara kedua di dunia yang berhasil mencapai keunggulan komputasi kuantum dan menjadi yang pertama menggunakan sistem optik.

Dari sana, perkembangan Jiuzhang berlanjut ke generasi yang lebih kuat dan lebih stabil. Jiuzhang 4.0 kini menambah penegasan bahwa persaingan global tidak hanya terjadi di kecerdasan buatan dan chip semikonduktor, tetapi juga di ranah kuantum yang jauh lebih strategis.

Bagi pembaca, dampak kemajuan ini tidak berhenti pada demonstrasi laboratorium. Komputasi kuantum diperkirakan berguna untuk pengembangan obat, simulasi iklim, keamanan siber, kecerdasan buatan, hingga riset material baru.

Nilai utamanya ada pada kemampuan menghitung dengan kecepatan ekstrem untuk masalah yang terlalu rumit bagi komputer tradisional. Jiuzhang 4.0 memperlihatkan bahwa teknologi kuantum mulai bergerak dari konsep laboratorium menuju fondasi yang berpotensi dipakai dalam berbagai sektor industri pada beberapa dekade mendatang.

Source: pemmzchannel.com
Exit mobile version