Kewaspadaan terhadap hantavirus di Indonesia tidak bisa lagi dipandang sebagai isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Virus ini sudah lama terdeteksi di dalam negeri, dan penularannya sering terjadi lewat cara yang tidak disadari banyak orang.
Yang membuatnya berbahaya, hantavirus tidak selalu membutuhkan gigitan tikus untuk masuk ke tubuh manusia. Paparan bisa terjadi saat seseorang menghirup udara yang tercemar partikel urin, feses, atau air liur tikus, terutama ketika membersihkan area berdebu atau kotor tanpa perlindungan.
Di Indonesia, keberadaan hantavirus bukan hal baru. Sejumlah penelitian menunjukkan virus ini sudah ada sejak era 1980-an, sementara data Kementerian Kesehatan menyebut seroprevalensi pada manusia mencapai sekitar 11,6 persen.
Angka itu menunjukkan ada masyarakat yang pernah terpapar. Kemenkes juga mencatat sejak 2024 hingga 2026 terdapat 23 kasus hantavirus tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau HFRS di Indonesia.
Gejala hantavirus kerap membuat kasusnya sulit dikenali sejak awal. Penderita dapat mengalami demam, nyeri otot, mual, sakit kepala, dan tubuh lemas, keluhan yang mudah disangka sebagai dengue, tifus, atau leptospirosis.
Karena gejalanya tidak khas, hantavirus bisa tampak seperti bagian kecil dari persoalan yang lebih besar. Kondisi ini membuat sebagian kasus berpotensi tidak terdiagnosis dengan tepat, padahal risikonya tidak ringan.
Penularan yang sering terjadi tanpa disadari
Sumber utama penularan hantavirus memang berasal dari tikus. Namun, risiko tidak hanya muncul saat ada gigitan, karena virus dapat masuk melalui udara yang tercemar atau ketika seseorang menyentuh permukaan terkontaminasi lalu memegang wajah atau luka terbuka.
Situasi sederhana seperti beres-beres rumah, membersihkan gudang, atau menyapu area yang kotor bisa menjadi momen berisiko. Menghirup debu yang tercemar saja sudah cukup untuk meningkatkan peluang infeksi.
Itulah sebabnya hantavirus sering luput dari kewaspadaan. Banyak orang merasa hanya sedang melakukan pekerjaan bersih-bersih biasa, padahal paparan bisa terjadi tanpa kontak langsung dengan tikus.
Dua bentuk penyakit yang perlu diperhatikan
Hantavirus memiliki dua bentuk penyakit utama yang sama-sama berbahaya. HFRS lebih banyak ditemukan di Asia dan Eropa, sedangkan HPS lebih sering muncul di kawasan Amerika.
HFRS dapat menyerang ginjal dan pembuluh darah, lalu memicu demam, perdarahan, hingga gagal ginjal. Sementara itu, HPS menyerang paru-paru dan dapat menyebabkan sesak napas berat sampai gagal napas akut.
Pada beberapa jenis virus, case fatality rate atau CFR bahkan bisa mencapai sekitar 50 persen. Karena itu, hantavirus tidak layak dianggap sebagai infeksi biasa, meski gejala awalnya sering terlihat umum.
Bukan hanya persoalan wilayah tertentu
Keberadaan hantavirus di Indonesia juga tidak terbatas pada daerah terpencil. Penelitian menunjukkan virus ini terdeteksi di kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, dan Denpasar.
Kepadatan penduduk, sanitasi yang buruk, serta pengelolaan sampah yang kurang baik dapat mendukung berkembangnya populasi tikus. Semakin dekat tikus hidup dengan manusia, semakin besar peluang penularan terjadi.
Kondisi itu membuat risiko bisa muncul di rumah, permukiman padat, hingga area dengan kebersihan yang tidak terjaga. Waspada terhadap hantavirus karena itu relevan bukan hanya di pedesaan atau kawasan yang terlihat kumuh.
Pencegahan tetap menjadi langkah utama
Belum ada vaksin yang digunakan secara luas untuk hantavirus, sehingga pencegahan menjadi kunci. Kebersihan rumah dan lingkungan perlu dijaga agar tikus tidak mudah berkembang biak.
Rumah juga perlu ditutup dari akses masuk tikus, sementara sampah harus dikelola dengan baik agar tidak menarik rodensia. Saat membersihkan area penuh debu atau kotoran tikus, masker dan sarung tangan perlu digunakan untuk mengurangi risiko paparan.
Dengan penularan yang bisa terjadi tanpa gigitan, hantavirus menuntut kewaspadaan yang lebih luas. Perhatian terhadap kebersihan lingkungan dan cara membersihkan area berisiko menjadi langkah penting untuk menekan paparan yang sering tidak terlihat.
Source: www.suara.com




