Kekhawatiran soal hantavirus kembali naik setelah kasus di kapal pesiar MV Hondius menelan korban jiwa. Meski begitu, WHO menegaskan bahwa penyakit ini tidak menyebar seperti Covid-19 dan tidak mudah berpindah ke masyarakat luas.
Perbedaan utama ada pada cara penularannya. Covid-19 dapat menyebar lewat udara, droplet, dan airborne transmission saat seseorang berbicara, batuk, atau bersin di ruang tertutup, sedangkan hantavirus membutuhkan kontak yang jauh lebih dekat.
Kontak dekat jadi kunci penularan
Direktur Manajemen Epidemi dan Pandemi WHO, Maria Van Kerkhove, menjelaskan kepada Reuters bahwa penularan antar manusia pada hantavirus hanya terjadi dalam kondisi kontak yang sangat dekat. Yang dimaksud bukan interaksi biasa, melainkan situasi seperti berbagi kamar tidur, berbagi kabin kapal, atau merawat pasien secara langsung dalam waktu lama.
Ia juga menegaskan bahwa kontak yang dimaksud adalah kontak fisik yang sangat, sangat dekat. Karena itu, paparan sosial biasa tidak otomatis membuat seseorang tertular.
WHO menilai risiko penyebaran luas dari kasus ini tetap rendah. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan karena penularan penyakit di ruang tertutup tetap menyisakan risiko.
Kasus kapal pesiar yang memicu perhatian
Kasus yang menyita perhatian publik terjadi di MV Hondius, kapal pesiar yang sempat terombang-ambing di lepas pantai Tanjung Verde setelah muncul dugaan wabah di atas kapal. Kapal itu membawa hampir 150 penumpang dan kru dari berbagai negara.
Hingga kini, wabah tersebut telah menyebabkan tiga orang meninggal dunia. Korbannya termasuk pasangan suami istri asal Belanda dan seorang warga Jerman.
WHO juga mengidentifikasi sedikitnya delapan orang yang diduga terpapar virus itu. Tiga kasus sudah dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium, termasuk seorang warga Swiss yang kini menjalani perawatan di Zurich.
Perhatian publik makin besar karena virus yang diduga terlibat disebut sebagai varian Andes hantavirus. Jenis ini memang dikenal memiliki kemungkinan penularan antar manusia dalam kondisi tertentu.
Pelacakan kontak terus dilakukan
Untuk mencegah penularan lanjutan, WHO bekerja sama dengan sejumlah negara dalam pelacakan kontak. Fokusnya adalah penumpang yang sempat turun di Pulau Saint Helena sebelum kapal mencapai Tanjung Verde.
Di Afrika Selatan, 65 orang yang pernah kontak dengan pasien sudah diidentifikasi untuk pemantauan lanjutan. Selain itu, ada 12 orang lain di berbagai negara yang juga masuk daftar pemantauan.
Langkah ini menunjukkan bahwa penanganan tetap serius meski risiko penyebaran luas dinilai rendah. Pemantauan ketat tetap diarahkan kepada orang-orang yang pernah berada dalam kontak dekat dengan kasus yang terkonfirmasi.
Kabar keliru ikut memperkeruh situasi
Di media sosial, sempat beredar unggahan yang mengaitkan infeksi hantavirus dengan vaksin Covid-19 buatan Pfizer-BioNTech. Beberapa akun bahkan membagikan dokumen pengajuan lisensi vaksin Pfizer ke regulator Amerika Serikat pada 2021 dan menarik kesimpulan keliru bahwa vaksin dapat menyebabkan hantavirus.
Reuters melaporkan bahwa dokumen itu memuat daftar “adverse events of special interest”, yaitu kejadian medis yang menjadi perhatian selama pemantauan vaksin Covid-19. Di dalamnya memang ada istilah “hantavirus pulmonary infection”, tetapi itu bukan bukti hubungan sebab-akibat.
Pfizer menjelaskan bahwa daftar tersebut hanya mencatat seluruh kondisi medis yang dilaporkan selama pemantauan. Daftar itu tidak memastikan apakah kondisi tersebut benar-benar dipicu vaksin atau tidak.
Data tersebut berasal dari laporan sukarela melalui berbagai sistem pelaporan nasional, termasuk VAERS di Amerika Serikat. FDA juga pernah menegaskan bahwa laporan di VAERS tidak otomatis berarti vaksin menyebabkan masalah kesehatan tertentu, dan siapa pun dapat mengirim laporan tanpa verifikasi ilmiah awal.
Dokumen resmi informasi produk vaksin Comirnaty juga memuat daftar efek samping yang benar-benar terbukti memiliki hubungan kausal dengan vaksin Pfizer. Dalam dokumen itu, hantavirus tidak disebut sebagai efek samping, dan Pfizer menegaskan bahwa vaksin Comirnaty tidak mengandung virus hidup, termasuk hantavirus.
Di tengah kabar yang ramai beredar, fokus WHO tetap sama: waspada tanpa panik berlebihan, terutama terhadap penyakit zoonosis di ruang tertutup seperti kapal pesiar.
Source: www.beautynesia.id