Hantavirus Bukan Ancaman Seperti Covid-19, Wamenkes Soroti Bahaya Kotoran Tikus

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono meminta masyarakat tidak menyamakan Hantavirus dengan Covid-19. Menurut dia, penyakit ini tidak menunjukkan pola penyebaran massal seperti pandemi, sehingga perhatian utama justru harus diarahkan pada sumber paparan yang berkaitan dengan tikus dan kebersihan lingkungan.

Hingga saat ini, pemerintah mencatat ada 23 kasus Hantavirus di Indonesia sejak 2023. Seluruh kasus tersebut masih tergolong ringan, dan belum ada tanda yang mengarah pada penyebaran luas di tengah masyarakat.

Fokus utama ada pada tikus dan lingkungan

Dante menegaskan bahwa Hantavirus hidup pada reservoir berupa tikus. Penularannya berkaitan dengan kontak terhadap kotoran atau urine hewan pengerat tersebut, sehingga lingkungan yang kumuh atau wilayah yang terdampak banjir dapat meningkatkan risiko.

Karena itu, kebersihan tempat tinggal menjadi langkah pencegahan yang paling penting. Masyarakat juga diminta menghindari kontak langsung dengan air yang tercemar, terutama saat musim penghujan ketika risiko paparan lingkungan kotor lebih besar.

Bukan seperti Covid-19

Dante menjelaskan bahwa Hantavirus punya pola sebaran yang berbeda dari Covid-19. Penyakit ini tidak menyebar luas antarmanusia seperti pada pandemi, melainkan sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan sumber paparan tertentu.

Ia juga meluruskan kabar yang sempat ramai terkait Hantavirus dari kapal pesiar. Menurut dia, kasus tersebut belum masuk ke Indonesia, sehingga tidak tepat jika langsung dikaitkan dengan temuan yang ada di dalam negeri.

Dua kelompok utama Hantavirus

Secara medis, Hantavirus dibagi menjadi dua jenis berdasarkan manifestasi klinisnya, yaitu Hantavirus Fever with Renal Syndrome atau HFRS dan Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS. Keduanya memengaruhi organ tubuh yang berbeda dan memiliki tingkat risiko yang tidak sama.

Varian HFRS biasanya ditandai demam tinggi, perubahan warna kulit menjadi kuning atau ikterus, serta gangguan fungsi ginjal. Dante menyebut tingkat fatalitas varian ini berada di kisaran 15 persen.

Sementara itu, HPS dianggap lebih berbahaya karena menyerang paru-paru dan sistem pernapasan. Tingkat kematiannya dapat mencapai 60 hingga 80 persen, sehingga varian ini menjadi perhatian utama dalam pengawasan kesehatan.

Kasus di Indonesia masih ringan

Dante menyampaikan bahwa semua kasus Hantavirus yang ditemukan di Indonesia sejauh ini masuk kategori HFRS dengan gejala klinis ringan. Kondisi itu menjadi alasan pemerintah belum melihat adanya ancaman yang menyerupai pandemi.

Meski begitu, pemantauan tetap dilakukan secara internal di berbagai daerah. Langkah ini diperlukan agar potensi kenaikan kasus bisa terdeteksi lebih cepat sebelum berkembang menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang lebih luas.

Mirip leptospirosis, tetapi tidak sama

Dante juga menyoroti kemiripan Hantavirus dengan leptospirosis. Keduanya sama-sama punya pola penularan dan gejala yang hampir serupa, sehingga kasus yang dicurigai leptospirosis juga akan diperiksa kemungkinan Hantavirus.

Perbedaannya terletak pada penyebab penyakit. Leptospirosis disebabkan oleh bakteri, sedangkan Hantavirus disebabkan oleh virus, sehingga pemeriksaan dan kewaspadaannya perlu dilakukan dengan cermat.

Soal kemungkinan penularan antarmanusia, Dante mengatakan hal itu secara teori bisa terjadi, terutama pada varian HPS yang memunculkan gejala batuk. Namun sampai sekarang belum ada bukti ilmiah kuat yang memastikan penularan tersebut berlangsung luas.

Ia menambahkan bahwa kasus kematian di kapal pesiar masih diselidiki untuk memastikan apakah benar ada penularan antarmanusia atau tidak. Pemerintah tetap berhati-hati, tetapi belum melihat dasar yang cukup untuk menyamakan Hantavirus dengan Covid-19.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button