Hantavirus Bisa Berasal Dari Tikus Rumah Dan Sawah, Begini Jalur Paparannya Yang Sering Terlewat

Yang membuat hantavirus berbahaya adalah cara virus ini sering masuk tanpa disadari. Paparan tidak selalu datang dari gigitan tikus, tetapi dari partikel halus yang terhirup setelah urine, air liur, atau kotoran tikus mengering lalu bercampur debu.

Karena itu, ancaman ini tidak hanya berkaitan dengan bagian dalam rumah. Kebun, sawah, perkebunan, saluran air, gudang, hingga area semi-liar di sekitar permukiman juga dapat menjadi jalur paparan jika tikus pembawa virus hidup di sana.

Di Indonesia, hantavirus paling sering dikaitkan dengan Seoul virus atau SEOV. Virus ini dibawa tikus rumah dan tikus got yang memang dekat dengan aktivitas manusia.

Tikus yang paling dekat dengan hunian

Salah satu yang perlu diwaspadai adalah tikus rumah atau Rattus tanezumi. Jenis ini kerap ditemukan di dalam rumah, gudang, dan permukiman padat penduduk.

Penelitian juga mengaitkan Rattus tanezumi dengan penularan hantavirus di wilayah perkotaan dan pedesaan. Karena hidup sangat dekat dengan manusia, risiko paparan bisa muncul saat lingkungan tidak dijaga dengan baik.

Tikus got atau Rattus norvegicus juga masuk daftar penting. Hewan ini dikenal sebagai inang alami Seoul virus dan sering hidup di selokan, saluran air, tempat sampah, serta area kota yang lembap.

Populasinya yang tinggi di wilayah perkotaan membuat tikus got menjadi sumber risiko yang perlu diperhatikan. Lingkungan yang kotor dan terbuka memudahkan kontak manusia dengan virus yang dibawanya.

Tikus di kebun, sawah, dan area terbuka

Selain di rumah, hantavirus juga berkaitan dengan tikus yang hidup di lingkungan sekitar permukiman. Tikus kebun atau Rattus exulans termasuk tikus peridomestik yang hidup di kebun, lahan pertanian, dan pekarangan rumah.

Keberadaannya di sekitar hunian ikut meningkatkan peluang paparan hantavirus. Jika kebun atau pekarangan dibiarkan terbuka dan tidak terkelola, tikus lebih mudah bersarang.

Tikus sawah atau Rattus argentiventer juga menjadi perhatian. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga melaporkannya sebagai reservoir hantavirus baru di Indonesia pada 2017.

Jenis ini umum berada di area pertanian dan dekat dengan aktivitas petani. Lahan terbuka dan sisa tanaman dapat mendukung keberadaannya di lapangan.

Tiga jenis lain yang juga dilaporkan

Selain empat jenis itu, ada tiga tikus lain yang dilaporkan sebagai reservoir hantavirus di Indonesia. Ketiganya hidup di area yang masih beririsan dengan permukiman atau aktivitas manusia.

Rattus tiomanicus banyak ditemukan di perkebunan dan wilayah semi-liar yang berdekatan dengan permukiman. Situasi ini tetap membuka peluang kontak dengan manusia, terutama di batas antara kebun dan rumah.

Bandicota indica atau tikus besar sawah juga termasuk reservoir potensial hantavirus. Hewan ini umumnya hidup di lahan pertanian dan area terbuka yang sering digunakan manusia.

Sementara itu, Maxomys surifer dilaporkan sebagai reservoir hantavirus baru di Indonesia dalam penelitian yang sama. Tikus ini lebih sering ditemukan di semak atau hutan sekunder yang masih berdekatan dengan lingkungan manusia.

Mengapa penularannya sering tidak terasa

Penularan hantavirus memang sering tidak langsung terlihat. Banyak orang tidak menyadari bahwa risiko muncul ketika debu yang terkontaminasi terhirup atau saat menyentuh permukaan yang sudah tercemar lalu menyentuh hidung atau mulut.

Makanan yang terpapar kotoran tikus juga dapat menjadi jalur paparan. Meski begitu, gigitan tikus tetap mungkin terjadi dan tidak boleh dianggap sepele.

Karena jalur penularannya dekat dengan aktivitas harian, kebersihan lingkungan menjadi kunci utama. Rumah, gudang, dan saluran air perlu dijaga agar tidak menjadi tempat bersarang tikus.

Akses masuk tikus ke rumah perlu ditutup, sementara makanan harus disimpan dalam wadah tertutup. Gudang atau area lembap sebaiknya dibersihkan dengan masker dan sarung tangan.

Kotoran tikus juga tidak boleh disapu dalam keadaan kering karena partikel virus dapat tersebar ke udara. Sampah perlu dibuang rutin, dan saluran air serta area sekitar rumah harus dibersihkan secara berkala.

Waspada perlu dijaga di rumah, kebun, sawah, maupun kawasan sekitar permukiman karena tujuh jenis tikus ini dapat hidup dekat dengan manusia. Pengendalian tikus dan kebersihan lingkungan tetap menjadi langkah utama untuk menekan risiko paparan hantavirus di Indonesia.

Source: www.suara.com
Exit mobile version