Di tengah persaingan perguruan tinggi yang makin ketat, Muhammadiyah Jawa Barat diminta tidak hanya bergerak cepat, tetapi juga tetap rapi dalam tata kelola. Haedar Nashir menilai disiplin organisasi dan etos kemajuan harus menjadi dasar agar persyarikatan mampu melompat lebih jauh dan memberi dampak yang lebih luas.
Pesan itu ia sampaikan saat Pengajian Bersama Ketum PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Bandung. Dalam pandangannya, kekuatan Muhammadiyah tidak cukup diukur dari besarnya jumlah, melainkan dari pengaruh sosial dan kemampuan menghadirkan kemaslahatan bagi umat.
Disiplin sebagai syarat organisasi tetap sehat
Haedar menempatkan disiplin organisasi sebagai fondasi yang tidak bisa ditawar. Ia mengingatkan bahwa Muhammadiyah tidak boleh tergesa-gesa menerima program baru yang terlihat menjanjikan, tetapi belum dibahas secara matang.
Ia juga menyoroti kecenderungan permisif dalam organisasi yang kerap membuat kekeliruan dibiarkan begitu saja. Menurutnya, sikap sungkan kepada pihak tertentu tidak boleh membuat organisasi menjadi longgar.
“Kalau salah harus dikoreksi. Jangan karena segan lalu organisasi menjadi longgar,” tegas Haedar.
Baginya, ketegasan seperti itu penting agar organisasi tetap sehat dan mampu bergerak cepat. Dalam situasi persaingan yang semakin tajam, disiplin menjadi modal agar Muhammadiyah Jawa Barat tidak kehilangan arah.
Etos kemajuan tidak berhenti pada slogan
Selain disiplin, Haedar menekankan pentingnya etos kemajuan yang benar-benar hadir dalam amal nyata. Ia mengaitkannya dengan spirit Fastabiqul Khairat dalam Surah Al-Baqarah ayat 148, yang menurutnya menuntut umat untuk berlomba dalam kebaikan secara nyata, bukan hanya memahami teksnya.
Ia juga mengutip pandangan Ibnu Abbas bahwa umat Islam harus taat pada risalah agama dan aktif memberi manfaat sosial. Dari sini, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah diminta tampil sebagai organisasi yang menghadirkan solusi dari tingkat pusat hingga ranting.
“Menjadi Khairu Ummah itu berarti menjadi umat yang paling bermanfaat bagi manusia,” ujarnya.
Haedar menambahkan bahwa Muhammadiyah harus menjadi Syuhada ‘alan-nas, yakni saksi bagi umat manusia ketika masyarakat menghadapi persoalan. Peran itu, menurutnya, harus tampak saat bencana terjadi, saat membantu kelompok marginal, dan saat meredam konflik yang membutuhkan jalan keluar.
Ekonomi umat menjadi penopang langkah besar
Di luar soal disiplin dan semangat kemajuan, Haedar memberi perhatian besar pada pemberdayaan ekonomi umat. Ia menilai organisasi tidak cukup bertumpu pada ibadah spiritual, tetapi juga harus membangun kemandirian ekonomi yang kuat.
Dalam pandangannya, Majelis Ekonomi memiliki posisi yang sama penting dengan Majelis Tabligh. Ia juga menyampaikan bahwa penguasaan ekonomi pada akhirnya dapat memengaruhi politik, sehingga Muhammadiyah perlu memiliki cara pandang baru dalam memperkuat ekonomi umat.
Haedar menggunakan ilustrasi tentang kelompok Yahudi yang jumlahnya relatif kecil tetapi memiliki pengaruh global karena penguasaan ekonomi dan teknologi. Ilustrasi itu ia pakai untuk menegaskan bahwa daya saing dan kapasitas organisasi menjadi penentu dalam menghadapi perubahan zaman.
Perguruan tinggi dan modal optimisme di Jawa Barat
Haedar turut melihat langsung dinamika Muhammadiyah di Jawa Barat melalui capaian Universitas Muhammadiyah Bandung. Ia menilai kepemimpinan Ahmad Dahlan di lingkungan PWM Jawa Barat telah menghadirkan optimisme baru bagi kemajuan persyarikatan di wilayah tersebut.
Menurutnya, capaian itu menunjukkan bahwa Jawa Barat memiliki modal penting untuk melaju lebih jauh. Namun, modal tersebut tetap harus ditopang oleh kerja yang disiplin dan orientasi kemajuan yang terukur.
Ia meminta para pimpinan dan rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Jawa Barat bekerja sungguh-sungguh. Mereka juga diminta tahan menghadapi tantangan dan menjaga semangat gotong royong atau rereongan.
Pengelolaan tambang dan kerja kolektif
Saat menyinggung isu pengelolaan tambang oleh Muhammadiyah yang sempat menjadi perhatian publik, Haedar menegaskan bahwa keputusan itu diambil secara rasional. Ia menyebut pengelolaannya akan dilakukan secara profesional oleh pihak-pihak yang memiliki kompetensi di bidangnya demi kemaslahatan umat.
Haedar juga mengingatkan bahwa keberhasilan organisasi tidak lahir secara instan. Kerja keras, kesabaran, dan keikhlasan disebut sebagai tiga kunci utama dalam perjalanan persyarikatan.
Dengan bekal itu, ia optimistis Muhammadiyah Jawa Barat dapat meraih kemajuan besar dan semakin berpengaruh dalam lima tahun ke depan. Baginya, disiplin, etos kemajuan, ekonomi umat, dan kerja kolektif harus berjalan bersama agar lompatan besar itu benar-benar terjadi.
Source: muhammadiyah.or.id