Kemarahan publik di Irak kembali menguat setelah muncul dugaan adanya aktivitas militer rahasia Israel di gurun Najaf-Karbala. Pusat perhatian bukan hanya pada lokasi yang disebut sebagai pangkalan tersembunyi, tetapi juga pada tewasnya seorang petani Irak yang tanpa sengaja terseret ke dalam insiden itu.
Nama petani tersebut disebut Awad al-Shammari. Ia sedang dalam perjalanan membeli kebutuhan bahan makanan ketika melihat aktivitas yang dianggap mencurigakan di area gurun, lalu melaporkannya kepada aparat setempat.
Namun, situasi bergerak jauh lebih cepat daripada respons keamanan Irak. Sebelum lokasi sempat diamankan, al-Shammari bersama dua tentara Irak diduga sudah berhadapan langsung dengan pasukan Israel, dan kendaraan yang mereka tumpangi kemudian diserang helikopter.
Serangan itu menewaskan al-Shammari dan melukai dua tentara Irak. Kematian warga sipil dalam peristiwa ini membuat kasus tersebut menjadi sorotan besar, terutama karena berkaitan dengan dugaan operasi militer rahasia di wilayah Irak.
Jejak yang Diduga Terlacak dari Ponsel
Salah satu bagian paling sensitif dari kisah ini adalah dugaan bahwa pasukan Israel memantau komunikasi al-Shammari melalui sistem pengawasan mereka. Dari sana, mereka disebut melacak ponselnya dan menjadikannya target serangan.
Keluarga al-Shammari disebut sempat mencari keberadaannya selama dua hari sebelum mengetahui nasibnya. Sepupunya, Amir, mengatakan keluarga mendapat kabar soal adanya mobil pikap terbakar yang mirip kendaraan milik al-Shammari.
“Tidak ada yang berani mendekat. Saat kami tiba di sana, kami menemukan mobil dan jasadnya sudah hangus terbakar,” kata Amir, dikutip dari presstv.ir.
Dugaan Pangkalan Rahasia di Gurun Irak
Investigasi yang dikutip The New York Times menyebut lokasi di gurun barat Irak itu bukan sekadar titik insiden tunggal. Israel diduga membangun pos rahasia di kawasan tersebut selama perang Iran melawan AS-Israel, dan fasilitas itu disebut didirikan sesaat sebelum perang pecah pada akhir Februari.
Basis itu dikabarkan dipakai dalam serangan terhadap pasukan Irak pada Maret, saat tentara Irak hampir membongkar lokasi tersebut. Media Israel juga disebut melaporkan bahwa pasukan mereka menempatkan tim penyelamat dan unit komando di pos terdepan itu untuk mengevakuasi awak pesawat Israel jika jatuh di wilayah Iran.
Masih dari sumber yang sama, disebut pula ada pangkalan Israel kedua di gurun yang sama. Basis kedua itu dikabarkan sudah ada sebelum perang terbaru melawan Iran dan pernah dipakai saat konflik Iran pada Juni 2025.
Dampak Politik dan Tekanan ke Pemerintah Irak
Kasus ini tidak berhenti sebagai insiden lapangan. Di Irak, peristiwa tersebut memicu kemarahan publik dan menambah tekanan agar pemerintah memberi penjelasan serta meminta pertanggungjawaban pihak yang terlibat.
Laporan The New York Times juga menyebut pangkalan yang ditemukan al-Shammari sudah diketahui Washington setidaknya sejak Juni 2025. Fakta itu menimbulkan dugaan bahwa Amerika Serikat menyembunyikan informasi tersebut dari pemerintah Irak, meski kedua negara dikenal sebagai sekutu dekat.
Anggota parlemen Irak, Raed al-Maliki, ikut mengecam Washington. Ia menuding Amerika Serikat memberi akses wilayah udara Irak kepada pasukan Israel selama perang dan memerintahkan sistem radar dimatikan.
“Sekarang semakin jelas bahwa wilayah Irak juga digunakan untuk membangun pusat intelijen rahasia atau pangkalan milik entitas Zionis,” kata al-Maliki.
Di tengah semua tuduhan itu, kematian Awad al-Shammari menjadi simbol rapuhnya keselamatan warga sipil yang tanpa sengaja bersentuhan dengan operasi rahasia berskala militer. Sorotan terhadap gurun Najaf-Karbala pun kini meluas menjadi pertanyaan yang lebih besar tentang sejauh mana wilayah Irak digunakan dalam operasi semacam itu.
Source: www.viva.co.id




