Gotong Royong Buruh Biyai May Day Di Monas, Andi Gani Pastikan Tanpa Oligarki

Kemandirian pembiayaan menjadi sorotan utama dalam persiapan May Day di Monas. Presiden KSPSI Andi Gani Nena Wea menegaskan bahwa peringatan Hari Buruh Internasional itu tidak ditopang dana pengusaha besar maupun oligarki, melainkan berjalan lewat swadaya dan gotong royong para pekerja.

Penegasan tersebut muncul saat panitia dan berbagai konfederasi buruh menyiapkan agenda berskala besar dengan kebutuhan logistik yang tidak sedikit. Dari transportasi hingga konsumsi, banyak elemen di lapangan memilih menanggung kebutuhan masing-masing agar perayaan tetap mencerminkan kekuatan organik gerakan buruh.

Swadaya buruh jadi penopang utama

Dalam konferensi pers di kawasan Menteng, Jakarta, Rabu (29/4/2026), Andi Gani menjelaskan bahwa skala acara May Day di Monas memang besar. Salah satu kebutuhan yang disebut adalah sekitar 400.000 porsi makanan untuk para peserta.

Meski begitu, Andi Gani memilih tidak mengurai sumber dana secara rinci. Ia menyebut banyak anggota konfederasi bergerak dengan cara masing-masing untuk memastikan acara tetap berjalan, tanpa menggantungkan penyelenggaraan pada pihak luar.

Ia menggambarkan pola dukungan itu sebagai bentuk kemandirian yang nyata di lapangan. Ada peserta yang membiayai bus sendiri, ada yang membawa makanan sendiri, dan ada pula yang menyiapkan konsumsi bagi rekan pekerja di pabrik secara mandiri.

“Lalu kemudian kawan-kawan juga teman-teman sini banyak yang mandiri. Saya tegaskan banyak yang mandiri,” kata Andi Gani dalam keterangannya.

Bantahan atas keterlibatan oligarki

Andi Gani juga memberi penegasan keras soal isu pendanaan. Ia memastikan tidak ada oligarki dan tidak ada pengusaha besar mana pun yang menanggung biaya May Day di Monas.

Ia menolak anggapan bahwa acara buruh itu dibiayai pihak berkantor besar yang ingin memanfaatkan momentum politik. “Tidak ada oligarki, tidak ada pengusaha besar mana pun yang menanggung biaya May Day. Saya jamin 1000%,” ujarnya.

Menurut dia, kepastian itu muncul karena dirinya mengetahui sumber dana yang dipakai panitia. Karena itu, ia menilai penyelenggaraan acara berlangsung tanpa pengaruh eksternal yang bisa menggeser arah perjuangan buruh.

Kerja kolektif di berbagai lini

Biaya keseluruhan May Day, kata Andi Gani, memang sulit dihitung dengan tepat karena tersebar di banyak kelompok PUK dan konfederasi. Sebagian menanggung ongkos bus, sebagian lain menyiapkan snack, sementara kelompok lain membawa makanan masing-masing.

Pola seperti itu menunjukkan adanya kerja bersama yang tersebar namun saling menopang. Di mata KSPSI, dukungan semacam ini menjadi bukti bahwa solidaritas internal masih menjadi kekuatan utama dalam gerakan buruh.

Kebiasaan menutup kebutuhan acara lewat kontribusi langsung dari peserta juga memperlihatkan kemampuan mobilisasi yang kuat. Dengan cara itu, peringatan Hari Buruh di Monas tetap bisa disiapkan dalam skala besar tanpa bergantung pada sponsor eksternal.

Pesan solidaritas di balik perayaan

Bagi Andi Gani, gotong royong bukan hanya soal menutup biaya acara. Lebih dari itu, semangat tersebut menjadi penanda bahwa buruh masih memegang kendali atas ruang ekspresinya sendiri.

Penyediaan makanan, transportasi, dan konsumsi memang menjadi tantangan tersendiri, namun seluruh kebutuhan itu ditangani bersama oleh berbagai elemen buruh. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa perayaan Hari Buruh disusun secara serius sekaligus tetap berangkat dari solidaritas internal.

Dengan penegasan pembiayaan mandiri, KSPSI ingin memastikan May Day di Monas tetap berada dalam koridor kepentingan pekerja. Perayaan itu diarahkan menjadi ruang berkumpulnya aspirasi buruh yang kuat, mandiri, dan tidak bergeser ke kepentingan pihak lain.

Source: www.suara.com

Baca Juga

Back to top button