Goenawan Mohamad kembali menunjukkan bahwa drawing belum kehilangan tempatnya di tengah derasnya visual digital. Lewat pameran Teks, Gambar, Kitab di Komunitas Salihara Arts Center, karya tangan masih tampil sebagai medium yang hidup, personal, dan tetap relevan dibaca hari ini.
Pameran yang berlangsung pada 24 Mei hingga 28 Juni 2026 itu menghadirkan hampir 100 karya grafis. Ragam teknik yang dipakai mencakup intaglio, cetak saring, dan litografi, sehingga cakupan praktik visual Goenawan Mohamad terlihat cukup luas dalam wilayah gambar dan cetak.
Di pameran ini, yang menonjol bukan hanya jumlah karya, tetapi juga cara garis, bidang kosong, dan gestur sederhana membangun kesan yang kuat. Karya-karya tersebut memperlihatkan kedekatan langsung antara tubuh seniman dan medium yang dikerjakan, sesuatu yang membuat jejak personalnya tetap terasa jelas.
Kurator Asikin Hasan menilai kualitas itu masih memancarkan aura yang khas. Ia menyoroti bahwa Goenawan Mohamad terus konsisten menggambar, dan menurutnya konsistensi tersebut menjadi salah satu penanda paling penting dalam membaca karya-karya yang dipamerkan.
Asikin juga menghubungkan kualitas aura itu dengan pengalaman melihat karya seniman besar seperti Van Gogh dan Picasso. Namun, ia menilai daya semacam itu kini makin jarang muncul karena seni visual semakin akrab dengan proses yang teknis dan repetitif.
Beberapa karya seperti Hantu Cabe Rawit dan Burung Singgah memperlihatkan arah itu dengan cukup terang. Figur yang sederhana dan komposisi yang minimal justru membuka ruang bagi kesan hening, intim, dan lebih personal.
Walau visualnya ringkas, karya-karya tersebut tidak berhenti pada ekspresi individual. Isu politik dan lingkungan tetap hadir, tetapi disampaikan lewat simbol dan fragmen visual, bukan narasi yang menjelaskan semuanya secara langsung.
Pembacaan itu juga diperkuat oleh seniman Tisna Sanjaya. Ia melihat karya-karya Goenawan Mohamad yang sangat personal, metaforis, dan simfonik itu berkembang menjadi peristiwa kebudayaan yang lebih luas sekaligus kritis.
Dalam lanskap seni yang kian dipenuhi teknologi, pilihan untuk tetap menekankan garis, gestur, dan jeda visual memberi penekanan tersendiri. Teks, Gambar, Kitab akhirnya menghadirkan gagasan bahwa gambar tangan masih sanggup membuka pembacaan yang luas atas persoalan sosial dan kebudayaan.
Source: lifestyle.bisnis.com




