Sorotan terhadap kereta aling-aling muncul lagi setelah kecelakaan yang melibatkan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur. Dari peristiwa itu, banyak penumpang kembali penasaran mengapa ada gerbong kosong di ujung rangkaian yang selama ini tampak tidak terpakai.
Padahal, gerbong tersebut punya fungsi yang sangat spesifik dalam sistem keselamatan kereta api. Kereta aling-aling dipasang sebagai lapisan pelindung untuk membantu menyerap benturan saat rangkaian mengalami tabrakan dari depan maupun belakang.
Gerbong kosong yang bukan sekadar cadangan
Dalam arti bahasa Indonesia, aling-aling berarti pelindung, penahan, atau penyekat. Istilah itu kemudian dipakai di dunia perkeretaapian untuk menyebut gerbong yang ditempatkan sebagai pengaman tambahan bagi rangkaian penumpang.
Gerbong ini tidak disiapkan untuk melayani penumpang. Fungsinya justru menerima dampak awal ketika terjadi benturan keras agar kereta penumpang di belakangnya tidak langsung menjadi bagian yang paling parah rusak.
Biasanya, kereta aling-aling menggunakan gerbong bagasi atau bagasi pembangkit. Posisi di depan atau belakang rangkaian dirancang agar risiko fatal bagi penumpang di gerbong utama bisa ditekan.
Lahir dari kebutuhan keselamatan yang mendesak
Kebijakan aling-aling bukan muncul tanpa latar belakang. Menurut artikel referensi, penerapannya berkaitan dengan evaluasi atas sejumlah kecelakaan besar yang pernah menimbulkan banyak korban jiwa.
Salah satu tragedi yang disebut menjadi pemicu adalah kecelakaan maut KA Argo Bromo Anggrek dan Senja Utama Semarang di Petarukan. Peristiwa itu dilaporkan merenggut lebih dari 30 penumpang, lalu disusul kecelakaan lain di Stasiun Langen yang juga memakan korban.
Dari rangkaian kejadian itulah, kebutuhan akan perlindungan tambahan dinilai semakin mendesak. Aling-aling lalu diposisikan sebagai solusi praktis untuk menghadapi kondisi darurat ketika benturan tidak bisa dihindari.
Tampilan tertutup yang memunculkan kesan menyeramkan
Kereta aling-aling juga pernah dikenal dengan sebutan “kereta setan” atau “kereta hantu”. Julukan itu muncul karena gerbong ini dibuat tertutup rapat dan memang tidak dirancang agar mudah dimasuki orang.
Upaya awal untuk mencegah orang masuk dengan kawat disebut tidak efektif. Setelah itu, KAI mengambil langkah lebih tegas dengan melas pintu gerbong dan mengganti jendela kaca memakai pelat baja tebal.
Akibat perubahan tersebut, bagian dalam gerbong terlihat gelap, berdebu, dan steril. Kesan itulah yang kemudian membuat banyak penumpang menganggapnya menyeramkan, meski fungsi utamanya justru sangat serius.
Tantangan pemakaian di lapangan
Penerapan aling-aling ternyata tidak hanya menyangkut persoalan teknis keselamatan. Di lapangan, KAI juga disebut harus berhadapan dengan penumpang tanpa tiket dan oknum yang memaksa masuk ke gerbong kosong tersebut.
Kondisi itu memperlihatkan bahwa fungsi pelindung hanya bisa berjalan jika dijaga ketat. Ketika gerbong dipakai untuk tujuan lain, peran utamanya sebagai perisai keselamatan bisa berkurang bahkan hilang.
Pada masa awal penerapannya, KAI juga belum selalu memiliki cukup gerbong bagasi untuk dijadikan pelindung. Karena itu, gerbong penumpang dari kelas eksekutif hingga ekonomi sempat dipakai untuk menjalankan fungsi yang sama.
Arah pengembangan yang lebih modern
Seiring waktu, penggunaan aling-aling konvensional dinilai memiliki keterbatasan teknis dan ekonomi. Karena itu, dunia perkeretaapian mulai melirik teknologi yang lebih modern untuk meredam energi benturan.
Amerika Serikat disebut telah mengembangkan Crash Energy Management atau CEM. Teknologi ini dirancang agar energi tabrakan bisa diserap lebih efektif sehingga tingkat kerusakan dapat ditekan.
Perhatian publik terhadap kereta aling-aling setelah insiden di Bekasi Timur akhirnya membuka kembali pembahasan soal gerbong kosong yang dulu kerap dianggap aneh. Di balik tampilannya yang tertutup dan tidak ramah untuk penumpang, gerbong itu pernah memegang peran penting sebagai pelindung saat keselamatan menjadi taruhan.
Source: www.suara.com