Ketegangan di Libanon selatan kembali memanas setelah sebuah drone bermuatan bahan peledak menghantam area operasi militer Israel. Serangan itu membuat dua tentara Israel terluka, dengan satu orang dilaporkan mengalami luka parah dan satu lainnya luka ringan.
Militer Israel menyebut keduanya telah dibawa ke rumah sakit setelah insiden terjadi saat aktivitas operasional berlangsung. Pihak militer juga telah memberi tahu keluarga masing-masing, sementara peristiwa tersebut kembali menyorot rapuhnya situasi keamanan di perbatasan Israel-Libanon.
Di sisi lain, Hizbullah mengaku berada di balik dua serangan drone yang terjadi pada hari yang sama. Kelompok itu menyatakan sasaran serangannya adalah personel dan peralatan militer Israel.
Hizbullah menjelaskan serangan tersebut sebagai balasan atas dugaan pelanggaran Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata sebelumnya. Mereka juga menuduh Israel masih menyerang desa-desa di wilayah selatan Libanon serta merusak rumah-rumah warga.
Situasi di perbatasan memang belum menunjukkan tanda-tanda benar-benar tenang, meski ada upaya penahanan eskalasi. Serangan drone dan klaim balasan dari kedua pihak membuat kawasan ini tetap berada dalam kondisi yang sangat sensitif.
Data resmi pemerintah Libanon menggambarkan besarnya dampak konflik yang terus berlangsung. Lebih dari 2.500 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 1,6 juta warga terpaksa mengungsi sejak operasi militer Israel dimulai pada 2 Maret.
Angka tersebut menunjukkan bahwa dampak pertempuran tidak berhenti pada sasaran militer saja. Warga sipil di banyak wilayah selatan Libanon masih menanggung tekanan keamanan yang tinggi, bahkan ketika pembicaraan untuk meredakan keadaan tetap berjalan.
Gencatan senjata antara Libanon dan Israel sempat berlaku selama 10 hari mulai 17 April. Kesepakatan itu kemudian diperpanjang selama tiga minggu pada Kamis pekan lalu, namun kondisi di lapangan tetap jauh dari stabil.
Dalam situasi seperti ini, satu serangan saja dapat memicu rangkaian respons baru. Karena itu, Libanon selatan masih menjadi salah satu titik paling rawan dalam benturan antara militer Israel dan Hizbullah, terutama selama tuduhan pelanggaran dan serangan balasan terus saling dipertukarkan.
Source: mediaindonesia.com