Sorotan terhadap Marc Marquez tidak berhenti pada gelar yang ia raih. Di balik pencapaian itu, muncul pembacaan lain yang menilai jalannya menuju titel MotoGP terasa lebih ringan karena Jorge Martin absen akibat cedera.
Pandangan paling keras datang dari Carlo Pernat. Pengamat senior MotoGP itu menilai Marquez seolah bertarung tanpa tekanan penuh dari rival utamanya, karena Martin tidak tampil sepanjang musim.
Gelar yang sah, tetapi tetap memantik perdebatan
Secara resmi, gelar Marquez tetap tercatat sah dan tidak berubah. Namun, cara publik menilainya menjadi berbeda karena kompetisi dinilai tidak berlangsung dengan kekuatan terbaik dari para penantang utama.
Pernat menyebut musim tersebut sebagai musim keberuntungan bagi Marquez. Kepada Motosan, ia menegaskan bahwa Marquez bisa membalap tanpa kehadiran Martin, sehingga perebutan gelar tidak benar-benar terjadi dalam kondisi penuh.
Bagi Pernat, situasi itu membuat jalan Marquez menuju titel terasa lebih lapang. Rival yang dianggap paling berat tidak berada di lintasan, sementara Marquez tetap menjadi nama paling menonjol di musim itu.
Martin dinilai sebagai pembeda utama
Dalam pandangan Pernat, Jorge Martin adalah sosok yang semestinya menjadi lawan paling kuat bagi Marquez. Cedera yang dialami pebalap Spanyol itu lalu mengubah peta persaingan secara signifikan.
Absennya Martin membuat intensitas perebutan titel ikut turun. Marquez tetap dituntut tampil konsisten, tetapi tekanan yang ia hadapi tidak sama seperti ketika semua kandidat juara dalam kondisi fit.
Penilaian itu ikut memperkuat anggapan bahwa kemenangan Marquez tidak bisa dilepaskan dari situasi di lintasan. Publik pun mulai membandingkan hasil akhir dengan skenario ideal saat Martin bisa ikut bersaing sampai akhir.
Aprilia dinilai naik kelas
Pernat juga melihat perubahan besar dalam kekuatan MotoGP secara umum. Ia menilai Aprilia kini menjadi pesaing utama Ducati dan menunjukkan perkembangan yang sangat kuat.
Menurut dia, Aprilia sudah mencapai level yang sulit disentuh tim lain setelah dominasi Ducati pada masa sebelumnya. Ia bahkan menyebut Aprilia layak menjadi tolok ukur baru dalam persaingan.
Di tubuh Aprilia, dua nama yang disorot adalah Jorge Martin dan Marco Bezzecchi. Pernat menilai keduanya saat ini lebih unggul dibanding pebalap lain.
Kondisi Marquez ikut disorot
Selain menyoroti kekuatan lawan, Pernat juga mengangkat kondisi fisik Marquez. Cedera bahu disebut sebagai salah satu perhatian utama yang ikut memengaruhi situasi sang juara.
Ia menilai masalah itu membuat Marquez tidak lagi bisa tampil seperti dulu. Pernat juga menyebut Marquez sendiri pernah mengakui keraguan atas kondisi fisiknya.
Menurut Pernat, pengakuan itu terdengar keras, sulit, tetapi jujur. Bagi seorang juara, keraguan semacam itu bisa berdampak besar karena tekanan mental dan teknis datang sekaligus ketika tubuh tidak memberi rasa aman penuh di atas motor.
Perebutan berikutnya diperkirakan lebih berat
Pernat menilai tantangan Marquez untuk mempertahankan gelar akan sangat berat. Ia bahkan menganggap peluang itu nyaris mustahil jika Aprilia terus bangkit dan Martin serta Bezzecchi tampil kuat.
Pandangan itu membuat kritik soal “hoki” pada Marquez tidak berhenti pada musim sebelumnya saja. Kritik tersebut juga mengarah pada keyakinan bahwa musim berikutnya akan jauh lebih sulit saat para pesaing utama kembali hadir dengan kekuatan penuh.
Pada akhirnya, gelar Marquez tetap sah di atas kertas. Namun, cara gelar itu dibaca publik masih dipengaruhi oleh cedera Martin, perubahan kekuatan antartim, dan naiknya level persaingan dari Aprilia.
Source: oto.detik.com